Pentingnya Pemahaman Digital Bagi Para Orangtua

Foto: Suasana ketika Delapena mewawancarai Pemred DigitalMama.id

Sekitar sebelas perempuan meriung di salah satu ruang Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 9 Mei 2026. Para peserta yang didominasi oleh ibu-ibu muda ini nampak khusyuk memperhatikan materi Bahasa Inggris yang dipandu oleh dosen dan mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Parahyangan Bandung.

Kelas ini merupakan bagian dari program mingguan media dan komunitas literasi digital, DigitalMama.id yang bekerjasama dengan Kampus Universitas Parahyangan. Adapun tujuan kelas ini adalah memberikan ruang bagi para ibu agar tetap mendapatkan kesempatan belajar di luar kesibukannya di rumah atau di kantor.

Pantauan kami, kegiatan diawali dengan sapaan, dan pertanyaan tentang perasaan yang sedang para mama rasakan sekarang, lalu sesi sharing pun dimulai. Dalam kegiatan kali ini, para mama dikenalkan dengan kosakata baru tentang perasaan dalam bahasa inggris dari perasaan mendasar, positif, dan yang paling sering membuat kesal.

Setelah mengenal berbagai kosakata, mama diberi beragam contoh kasus di mana mereka harus menjelaskan perasaan yang mereka rasakan ke dalam bahasa inggris. Lalu, para mama diajarkan bagaimana cara untuk mengapresiasi dan memberikan hubungan timbal balik yang positif bagi anak.

Pemimpin Redaksi DigitalMama.id, Catur Ratna Wulandari menyebutkan, kegiatan ini merupakan bagian dari agenda komunitas medianya yang fokus dalam memberikan literasi untuk para ibu-ibu.

“Kalau fokusnya Digital Mama, fokusnya adalah literasi digital untuk mama- mama. Literasi digital mama-mama termasuk parenting era digital. Karena parenting sekarang sangat berbeda dengan parenting waktu itu,” kata Ratna

Bikin Ibu Lebih Berdaya

Digital mama lahir pada tahun 2023. Kelahiran ini media ini muncul dari rasa kekhawatiran para Ibu untuk anaknya di era digital. Menurut Ratna, perempuan seringkali dianggap kurang maju dari lelaki karena tidak ada kesempatan belajar.

Selain di agenda offline, DigitalMama pun bisa dijumpai dari konten-kontennya yang berkaitan dengan parenting, literasi, dan gaya hidup digital melalui platform website mereka, juga di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan komunitas grup di WhatsApp.

Catur Ratna mengatakan, Digitalmama.id bercita-cita memajukan literasi digital kaum ibu di Indonesia agar menjadi cerdas, produktif, dan aman dalam mengarungi era digital bersama keluarga. “Jadi kalau parenting sekarang, kita juga harus mengikuti apa yang jadi dunianya anak sekarang. Termasuk internet kan, ” kata Ratna.

Perbedaan Zaman

Ratna juga mengatakan bahwa perbedaan zaman menjadi faktor yang penting untuk disadari oleh para ibu muda. Menurutnya, teknologi itu adalah satu sisi mata uang—agar para ibu muda mengerti bahwa teknologi itu tidak seburuk ataupun sebagus itu.

Menurut data dari Kementrian Komunikasi dan digital (Komdigi) Indonesia, pengguna internet terus meningkat pesat. Pada tahun 2025, pemakai internet di Indonesia sudah mencapai 221 juta, setara dengan 79,5 persen dari total populasi Indonesia. Indonesia pun merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

Sementara itu, laporan terbaru situs layanan manajemen media sosial We Are Social mengungkapkan, jumlah pengguna internet dunia mencapai 5,56 miliar pengguna di 2025. Sementara total jumlah populasi di awal 2025 mencapai 8,2 miliar.

Adapun dari data pengguna internet di Indonesia itu pun diisi oleh anak usia dini. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menyebut bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen lainnya sudah mengakses internet.

Apabila dirinci per kelompok usianya, maka terdapat 5,88 persen anak di bawah usia 1 tahun yang sudah menggunakan telepon genggam atau gawai dan 4,33 persen anak di bawah usia tahun yang mengakses internet pada 2024.

Kemudian, terdapat 37,02 persen anak usia 1-4 tahun dan 58,25 persen anak usia 5-6 tahun yang menggunakan telepon genggam, sedangkan 33,80 persen anak usia 1-4 tahundan 51,19 persen yang berusia 5-6 tahun tercatat telah mengakses internet.

Bahkan, di wilayah tertinggal, anak usia 13–14 tahun sudah kecanduan mengakses media sosial. Menurut data UNICEF, setiap setengah detik seorang anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di Indonesia, jumlah pengguna internet telah mencapai 221 juta orang atau 79,5 persen dari total populasi. Menariknya, 9,17 persen dari mereka berusia di bawah 12 tahun, menjadikan generasi muda semakin rentan terhadap ancaman siber.

Dengan fenomena seperti itu, Ratna mengatakan pemahaman yang baik terhadap dunia digital dirasa sangat mendesak dipahami khususnya oleh para orang tua.

“Kita juga harus tahu bahwa kalau teknologi itu udah kayak satu sisi mata uang gitu ya. Jadi di satu sisi sangat menguntungkan karena kita dimudahkan banyak hal. Tapi di satu sisi yang lain ada bahaya yang mengancam gitu. Jadi ya kita harus mengenali teknologi itu supaya kita bisa memanfaatkan positifnya maksimal. Tapi negatifnya bisa kita tangkal. Itulah kira-kira, ” kata Ratna.

Hingga kini, Digitalmama.id hadir untuk kalangan ibu-ibu muda di Indonesia. Kelas-kelas yang disediakan bisa diikuti di mana saja, sebab banyak kelas online yang mereka gelar. Untuk pertemuan tatap muka, untuk saat ini hanya ada di Bandung terlebih dahulu.

“Kami berharap bisa menghadirkan kelas yang nggak apa-apa bawa anaknya nggak, tapi anaknya main sama kita. Jadi tidak menghalangi ibu-ibu itu untuk berkegiatan, karena anak-anaknya kita ajak main juga, kita sertakan,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *