
Mungkin kita pernah mendengar atau membaca buku The Motorcycle Diaries yang ditulis oleh ikon revolusi Che Guevara, buku ini merupakan catatan perjalanan Che saat berkeliling dengan menggunakan sepeda motor ke seantero Amerika Selatan untuk melihat langsung realitas sosial rakyat yang sedang berjuang melawan eksploitasi kolonialisme. Atau mungkin pernah membaca dalam cerita sunda buhun tentang Bujangga Manik yang melakukan perjalanan spiritual di sepanjang tanah Jawa.
Adapun kami (Komunitas Baraya) melakukan perjalanan ulin “momotoran” tidak untuk meniru seperti apa yang dilakukan Che Guevara atau tokoh-tokoh besar yang mencatatkan setiap perjalanannya sebagai bagian dari sejarah. Kami melakukannya hanya untuk kesenangan semata, kalaupun saya merekamnya dalam sebuah catatan sebatas hanya untuk menanamkan memori agar bisa dinikmati secara bersama. Diawal bulan Agustus ini kami melakukan touring “tipis” ke H. Oking Wanayasa Purwakarta dan ke “Landhuis van Tjoepoenegara” Subang. Dengan menggunakan beberapa sepeda motor, kami : Herman Maulana, Indra Bekti, Yusrizal, M Muslim, Fitri Mujahid, Jaka Asigim, Fajar Alam S, Wildan, Dimas Alwafi, dan saya sendiri, berangkat dari titik kumpul sekolah sekitar pukul 09.00, meleset 2 jam dari waktu yang disepakati sebelumnya jam 07.00, tetapi saya juga mahfum kalau urusan tidak komitmen terhadap waktu itu bagian dari persoalan bangsa ini juga.

Hangat mentari menemani sepanjang perjalanan, kuda mesin saya melaju lebih dulu untuk berhenti di Lapangan Berdikari yang disesaki masyarakat, yang sedang meramaikan hajatan desa Ciater Kab. Subang. Menurut penduduk setempat acara itu terkait dengan ulang tahun desa Ciater yang ke 42, dengan menampilkan banyak tradisi dan kebudayaan lokal seperti: Wayang Golek, Tembang Sunda, Sisingaan, dll. Toponimi Ciater konon berasal dari “Ci” (Air) “Ater” ( mengalir), yang mengalir di sepanjang kaki Gunung Tangkuban Perahu yang sekarang menjadi objek wisata air panas.
Tak lama kami melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang menuju ke pertigaan Sagalaherang lalu belok kearah kiri menuju ke Wanayasa Purwakarta. Sekitar pukul 11 siang kami sudah sampai diwarung sate maranggi H. Oking untuk melaksanakan “ibadah” makan siang bersama. Sekitar 150 tusuk sate, 3 mangkuk sop kambing, 4 porsi nasi boboko, lengkap dengan minuman yang bervariasi disajikan untuk kami santap. Sate maranggi memang terasa khas dengan rempah dan sambal tomatnya sebagai citra kuliner Kab. Purwakarta. Sebutan sate maranggi sendiri berasal dari nama Mak Anggi seorang penjual sate asal Jawa Tengah yang memulai berjualan didaerah Cianting Purwakarta sekitar tahun 1960 an. Sedangkan untuk wilayah Wanayasa dan sekitarnya, warung H.Oking ini termasuk yang mengawalinya sejak tahun 1985 berjualan sate maranggi hingga saat ini.
Saya diajak pertama kali ke Warung H. Oking ini juga karena mendengar berbagai cerita dari teman-teman Baraya yang sebelumnya sudah kesana. Sambil berbincang-bincang kami semua makan dengan lahap. Apalagi sambil melihat kawan Dimas Al Wafi makan yang hampir 3-4 piring porsi jumbo maka akan terasa semakin kenyanglah perut ini rasanya. Kawan Herman nyeletuk kalau dulu ada ustad Opik sebagai “tong sampah” sebagai bagian pembersihan makanan, maka saat ini Dimas lah penerusnya. Saya dan kawan lain hanya tersenyum mendengarnya.
Selepas makan, istirahat dan sholat kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju perkebunan teh Cupunagara. Pak Muslim dan Vito tidak turut mengikuti rombongan dan langsung pulang ke Bandung melalui jalur semula. Kurang lebih 2 jam perjalanan kami tempuh dari Wanayasa ke arah Subang menuju desa Bukanagara kecamatan Cisalak. Rute jalan menuju lokasi sangat menantang dengan tebing-tebing curam di kanan kiri jalannya. Pepohonan rimbun dan menjulang serta suasana jalan yang sepi memacu kuda besi kami lebih cepat. Tak lama kami berhenti ditikungan jalan untuk melihat salah satu jejak sejarah yakni keberadaan Goa Jepang. Goa yang menempel ke dinding tebing itu berukuran tinggi 1,37 meter, lebar 1, 15 meter, dengan panjang -+12, 5 meter merupakan tempat berteduh dan beristirahat tentara Jepang ketika mereka melakukan perjalanan dari Subang menuju Bandung. Beberapa diantara kami masuk ke dalam Gua dan melihat ada bekas-bekas sesajen, pecahan uang 2000 rupiah, serta kertas lainnya. Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan menuju Tugu Cupunagara yang menjadi semacam “alun-alunnya” daerah tersebut. Sekitar jam 15.30 kami tiba di lokasi, dan langsung ketempat “Landhuis Tjoepoenagara” atau Rumah Belanda Cupunegara yang letaknya berada lebih tinggi dari hamparan jalan utama dan perkebunan. Sambil melepas lelah dengan sajian aneka kopi dan sedikit cemilan, saya mengamati dan berkeliling rumah tua yang masih nampak kokoh meskipun beberapa bagian belakang bangunan itu sudah rapuh dan rusak tidak terurus. Di bagian depan dinding terdapat batu penanda bertuliskan “De Eerste Steen Gelegd Door Anneke Frelier 15- 6 -1930 ( peletakan batu pertama oleh Anneke Frelier pada 15 Juni 1930). Dari berbagai informasi terhimpun Anneke Frelier ini merupakan anak perempuan dari A Frelier yang pada waktu itu menjabat sebagai administratur perkebunan di Bukanagara. Rumah dengan gaya art deco itu seperti milik personal dari keluarga Frelier karena peletakan batu pertama oleh anaknya sendiri.
Dari ketinggian rumah yang sekarang berada dalam lingkup PT perkebunan Nusantara VIII dan menjadi cagar budaya pemerintah Kabupaten Subang, saya berdiri melihat sekeliling sejauh mata memandang hamparan perkebunan teh, ada juga bekas bangunan-bangunan tua, serta jalan setapak yang menghubungkan Bukanagara Subang sampai Maribaya Lembang. Setengah dari jalan itu Cisalak sampai Bukanagara dibuat oleh Raden Rangga Martayuda (1790 -1856), keterangan itu berdasar pada tugu monumen yang terdapat ditengah lapang alun-alun, tertulis: Pembuatan jalan pedati Bukanagara oleh Raden Rangga Martayuda dan Tuan Tanah T.B. Hofland dari P & T Lands Subang pada tahun 1847.
Sebelum persiapan menuju ke Bandung, kami berpose terlebih dahulu depan bangunan rumah Belanda yang bersejarah ini. Sekitar pukul 16.15 kami meninggalkan tempat itu untuk menelusuri jalan-jalan terjal dengan bebatuan dan hembusan debu tanah yang lumayan pekat. Melewati perumahan penduduk, hutan angker di puncak Eurad, sampai keluar dari arah Maribaya untuk selanjutnya melewati Punclut dan berakhir di basecamp SMA Pasundan 8 Bandung.
Sampai ketemu di catatan Baraya selanjutnya….
