
Tepat 20 Juli 2026 ini Paguyuban Pasundan (PP) berusia 113 Tahun sejak dirintis oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA tahun 1913 di Batavia (Jakarta). Tujuan awal berdirinya PP hampir mirip dengan organisasi lain seperti Boedi Utomo yang bergerak dibidang sosial dan budaya. Salah satu pendiri sekaligus ketua umum PP pertama Daeng Kanduruan Ardiwinata seorang berdarah Makassar Sulawesi yang membuktikan bahwa organisasi PP itu merupakan organisasi yang tidak terbatas oleh suku dan etnis Sunda saja, tetapi terbuka juga bagi etnis-etnis lain yang mempunyai semangat dan tujuan yang sam dengan cita-cita yang dibangun PP. Dalam buku “Sekilas Paguyuban Pasundan” dijelaskan bahwa Organisasi ini menonjolkan prinsip egaliterianisme dan non sektarianisme. Dalam visi Paguyuban Pasundan yakni “Terwujudnya Masyarakat Indonesia yang memiliki harkat dan martabat” dengan dua misi utama:
- Meminimalisir kebodohan dan kemiskinan
- Menjaga, memelihara dan mengembangkan nilai islam dan budaya Sunda
Selain itu juga PP bergerak diberbagai bidang lain seperti pendidikan, agama, sosial, budaya, ekonomi, politik hukum, pemberdayaan perempuan, kepemudaan, dan media.

Pada hari Selasa (14/7/2026) kami berkesempatan untuk mewawancarai Dadang Bainur selaku Sekretaris bidang Humas di Paguyuban Pasundan. Ditemui dikantornya Jalan. Sumatera No. 41, dijelaskan bahwa usaha PP dalam mengurangi kebodohan yaitu dengan mendirikan dua yayasan yang berfokus pada pendidikan. Pertama, Yayasan Pendidikan Tinggi (YPT) yang menaungi empat perguruan tinggi: Universitas Pasundan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan. Sedangkan kedua, Yayasan Pendidikan Dasar & Menengah (YPDM) yang sudah memiliki 118 sekolah dasar dan menengah swasta yang tersebar diberbagai wilayah Jawa Barat dan Banten. Adapun Sekolah pertama yang didirikan adalah HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Pasoendan pada tahun 1922, sedangkan untuk sekolah tingkat menengah MULO Pasoendan pada tahun 1928 yang dirintis oleh R.H. Achmad Atmadja. Catatan ini menjadikan Paguyuban Pasundan sebagai organisasi yang memiliki sekolah terbanyak setelah ormas keagamaan Muhammadiyah.
Menurutnya, melihat kondisi pendidikan saat ini perlu disikapi dengan pendidikan bermutu. Ini berarti pendidikan tidak hanya sebagai formalitas, tetapi bagian dari kehidupan dikarenakan belajar tidak mengenal waktu. Oleh karena itu, program dari Paguyuban Pasundan akan terus berjalan dengan mengembangkan pendidikannya dalam bentuk sarana-prasarana, hingga menyiapkan para pengajar di sekolah-sekolah Pasundan layak dan memadai dengan latar pendidikan minimal sarjana. Maka dari itu mutu pendidikan perlu ditingkatkan terlebih dahulu, barulah bisa meningkatkan kualitas murid.
Sedangkan pada bidang sosial, PP ingin meminimalisir kemiskinan dengan menawarkan dan menyediakan fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat, seperti Rumah Sakit Pasundan, Baitul Maal wa Tanwil (BMT) Citra Pasundan, hingga Koperasi Paguyuban Pasundan yang berbasis ekonomi. Belum lagi fasilitas yang berbasis keagamaan seperti Pesantren Pasundan.
Para pelajar yang khususnya berada dilingkungan Pasundan perlu mengetahui sejarah dari perjalanan Paguyuban Pasundan itu sendiri. Menjadi bagian dari Pasundan itu tidak perlu minder dan merasa rendah diri karena banyak alumni yang berasal dari sekolah Pasundan menjadi orang hebat dan menempati jabatan strategis. Kita mengenal Oto Iskandardinata, Ir. Djuanda, Wiranakusumah, Mochtar Kusumaatmadja, sampai ketua umum PP saat ini Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si mempunyai perann dan kontribusinya masing-masing dalam mengemban visi dan misi Paguyuban Pasundan.

Dinamika perjalanan PP juga tidak hanya pada bidang sosial ataupun pendidikan tetapi juga pada keterlibatannya dalam politik nasional. Sejarah mencatat PP pernah mengubah namanya dengan Parki / Partai Kebangkitan Indonesia pada kongres tahun 1949 di Bandung. Tetapi kemudian nama PP kembali digunakan pada tahun 1956. Selain itu, Paguyuban Pasundan sendiri memiliki surat kabar bernama Sipatahoenan yang berbasis bahasa Sunda. Surat kabar ini merupakan identitas tersendiri bagi PP dan umumnya bagi orang sunda. Indra Prayana dalam bukunya “Jejak Pers di Bandung” menuliskan bahwa: surat kabar Sipatahoenan ini, terbit pertama pada 23 April 1923 di Tasikmalaya. Adapun namanya sendiri diusulkan oleh Bakrie Soeraatmadja sebagai perwakilan Paguyuban Pasundan Surabaya. Nama Sipatahoenan diambil dari lubuk atau bagian yang paling dalam dari sungai Ciliwung pada zaman Padjadjaran dulu (daerah kebon Raya Bogor sekarang), konon lubuk itu dulunya tempat menguji keberanian dan kepribadian Prabu Siliwangi sebelum naik tahta menjadi raja” (Hal: 87). Setelah berbincang mengenai garis besar sejarah PP, kami diajak berkeliling gedung A, B dan C dilingkungan tersebut. Digerbang awal dihias dengan bendera hijau dan slogan “Nyantri Nyunda Nyakola” seakan menggambarkan tentang keagamaan, kebudayaan dan pendidikan yang senantiasa dijadikan tujuan bersama. Saat memasuki ruangan awal di gedung A terlihat berbagai potret tokoh-tokoh pengurus dengan periodenya dengan patung harimau di tengahnya, pada ruangan setelahnya terdapat berbagai buku terutama buku dengan penulis Ajip Rosidi diletakkan di rak mengelilingi meja panjang.
Kemudian, kami diajak melihat gedung Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan yang terlihat sepi daripada biasanya. Pada dinding-dinding terdapat berbagai foto kebersamaan pengurusan Paguyuban Pasundan dengan tokoh penting seperti Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dilanjutkan ke ruangan Ketua Umum yang juga dipenuhi foto tokoh-tokoh penting pada dinding juga berbagai penghargaan dari banyak negara menunjukkan keberhasilan dan dedikasi yang kuat dari PP. Tetapi kedepan PP pasti menghadapi berbagai tantangan dan kondisi sosial masyarakat yang terus mengalami berbagai perubahan, dan itu memerlukan jawaban-jawabannya yang jelas dalam memperkokoh tujuannya sebagai organisasi besar.
Selamat Milangkala 113 Tahun Paguyuban Pasundan.
