Resensi Buku Lectio Divina: Membaca sebagian dari Iman

Avatar Mulyani
Foto: Street Library di Braga (sumber foto: Mulyani)

Identitas Buku

Judul : Lectio Divina

Pengarang : Doddi Permana

Tebal Buku : 105 Halaman

Cetakan : Cetakan Pertama, Oktober 2026

Penerbit : BANDONG

Cover buku Lectio Divina

Buku “Lectio Divina” merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Doddi Permana dalam sudut pandang pengalamannya mengenai membaca dan buku yang dikaitkan dengan unsur-unsur lainnya. Penulisan yang singkat dan langsung masuk ke pembahasan menjadikan buku ini layak menjadi teman perjalanan singkat diwaktu luang yang bisa habis dibaca dalam kurang dari 3 jam. Berisikan sebuah gagasan bahwa buku bukan hanya sebagai tempat informasi atau gudangnya ilmu, tetapi buku juga untuk mendatangkan kebahagian itu sendiri.

Buku saku berukuran 16 x 11,5 cm ini memuat sekitar 20 tulisan dengan berbagai angle yang cukup menarik dan cerita yang berbeda tiap harinya. Meskipun ditulis secara subjektif tetapi cukup merepresentasikan setiap orang yang membacanya.

Dalam Bab 1 Iqra! Penulis ingin mengingatkan dan mengaitkan bagaimana membaca merupakan perintah pertama Tuhan kepada umatnya yakni untuk membaca Al-Quran. Melalui perantara malaikat Jibril , perintah Iqra (membaca) disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk diteruskan kepada kita selaku umatnya. Membaca dapat memberi kebahagiaan, maka benar adanya bahwa perintah Tuhan pasti membawa kebaikan dan dengan membaca pula dapat menghasilkan manusia bebas dan merdeka.

Setelah kita diperintahkan untuk Iqra (membaca), tentu kita juga akan berusaha bagaimana menanamkan minat baca itu sendiri, sebagaimana tulisannya di Bab 2 yaitu Minat Baca, yang menjelaskan bagaimana kondisi membaca di Indonesia masih memiliki optimisme karena sebagian masyarakat masih dapat mengeksplorasi ide. Optimisme terhadap minat baca itu tentunya harus memperhatikan juga bahwa berbagai kesulitan sarana prasarana dalam mengembangkan tradisi membaca yang dihadapi saat ini menjadi penghambat dalam menggerakkan literasi secara luas.

Dalam tulisan Kutu Jelek, Kutu Buku Bagus! yang terinspirasi dari kutipan Benyamin S. ini merupakan kisah pengalaman penulis yang menilai bagaimana masyarakat sosial memandang seseorang yang sangat menyukai buku itu sering disebut sebagai Kutu Buku, dan itu telah merubah mindset yang selama ini negatif menjadi positif. Kemudian, terdapat dua puisi buku “religius” yang disisipkan antaranya, yaitu Moksa dan Membaca sebagian dari Iman.

Pada Bab Jurig Buku—merupakan julukan bagi seseorang yang sangat menyukai serta menghabiskan waktunya untuk membaca dari bahasa Sunda. Diceritakan bahwa membaca merupakan sebuah perlawanan dan peningkatan kesehatan jiwa serta pikiran. Mungkin sebagian orang dapat meredakan stress hanya dengan membaca, tidak jarang ditemukan masyarakat seperti pengendara ojek online yang membaca diselamatkan waktu luangnya setelah seharian menghadapi berbagai penumpang.

Pada tulisan selanjutnya, Apa Guna Membaca? Yang meliputi sebagai media informasi dan pemahaman untuk digunakan kembali dalam kehidupan sehari-harinya. Apa Guna Membaca? Itu seakan menjadi pertanyaan kepada semua. Aku, kamu, kita, dan kalian pasti mempunyai jawabannya tersendiri dan itu bagus ga ada masalah. Meskipun sebagian masyarakat masih menganggap membaca buku itu sebagai tekanan. Tetapi, buku sebenarnya bisa menjadi sarana hiburan seperti hobi lainnya yang tentunya setiap orang memiliki selera cerita dan tingkat pemahaman berbeda.

Cerita selanjutnya merupakan pengalaman yang menarik dari penulis. Pada tulisan Pulang menceritakan bagaimana penulis mengamati kondisi remaja saat ini yang tergila-gila dengan game online di angkutan umum sepulang sekolah. Sedangkan pada Buku adalah Seni, terdapat gagasan bahwa bukan hanya isi buku yang merupakan karya seni, tetapi buku itu sendiri yang terdiri dari cover, font, kertas buku, dan topografi yang indah sebagai bagian dari seni. Seseorang yang membeli buku pastilah untuk ia baca, tetapi tidak jarang orang membeli buku hanya untuk memajang dan mengaguminya dan menjadi kolektor.

Tulisan Sasakala Ustadz merupakan cerita perjalanan yang dialami ketika dalam kereta api sembari membaca buku kumpulan cerita pendek “Tiga Pertapa” dari Leo Tolstoy yang menceritakan seorang uskup dan Tiga pertapa tua di pulau terpencil menjadi teman perjalanan. Sedangkan tulisan Lectio Divina yang dijadikan judul bukunya menjelaskan hal pertama yang diajarkan Tuhan kepada Adam itu adalah nama-nama (Asma) yang merupakan ilmu pengetahuan mengenai segalanya, serta menjelaskan tahapan membaca, dari mulai merenungkan, mendialogkan hingga menjadikannya tindakan dalam keseharian.

Cerita paling menarik terdapat pada Bab Bibliobiografi bercerita perjalanan dari masa kecil hingga dewasa penulis yang bersinggungan dengan buku. Dari pedagang loak kakeknya hingga lapak buku bekas Pak Eman diemperan jalan. Sedangkan dalam tulisan Teori Segelas Air—yang dicetuskan seorang feminis merah Alexandra Mikhailovna Kollontai tentang bagaimana mengenai pemenuhan kebutuhan seksual seperti orang yang haus tanpa terikat kepemilikan atau pernikahan—ketika diterapkan dalam dunia membaca, menumbuhkan rasa haus lalu memuaskannya dengan ilmu.

Bab lainnya yang menurut saya menarik adalah Quo Vadis Buku? Dalam The Shallows by Nicholas Carr yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Mengaitkan hubungan penggunaan Internet dengan eksistensi buku fisik yang penggunanya menurun serta bagaimana manusia kehilangan kemampuan berpikir mendalam. Serta kutipan filsuf Romawi “Berada dimana-mana berarti tak berada dimana-dimana” sebagai tafsiran di era internet kita mampu melihat dunia dengan mudah dan memperoleh pengetahuan, tetapi tidak mendalam dan hanya mencapai permukaannya saja.

Menurut saya buku ini menyajikan cerita, puisi hingga kutipan dari tokoh tertentu sehingga pembaca dapat mengetahui pemahaman dan pengetahuan baru. Selain itu, buku ini memiliki pendekatan yang santai dalam mengajak masyarakat mulai membaca dengan mengaitkannya pada beberapa unsur penting lainnya. Meskipun tadi sudah disebutkan, keunggulan buku ini antara lain adalah cerita yang menarik dari pembukaan maupun isinya dengan penulisan singkat, oleh karena itu pembaca bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat yang dikemas oleh bahasa yang mudah dipahami, cocok untuk masyarakat yang ingin mulai membaca.

Tentunya bagi sebagian orang, sulit untuk menulis cerita pendek dimana penyelesaian akhir cerita dan pesan dalam cerita dapat tersampaikan dengan baik meskipun keterbatasan kata. Dalam buku ini pula disajikan dokumentasi masyarakat yang sedang membaca yang ditangkap oleh penulis yang menjadi inspirasi tiap cerita.

Meskipun begitu bagi saya buku ini mempunyai kelemahan, misalnya cover pada buku meskipun mencolok, tetapi tidak terlalu sesuai dengan isi konsep buku dan style era saat ini. Kemudian, pada halaman akhir tidak dicantumkan profil penulis secara ringkas. Dalam sudut pandang saya sendiri, font pada judul tiap Bab tidak terlalu mengesankan dan sulit terbaca meskipun memiliki detail estetika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *