Literasi di Sekolah: Sekedar Tuntutan atau Gerakan Bersama?

Avatar delapena
Foto: Perpustakaan Kota Bandung (sumber foto: Mulyani)

Pernah nggak kita berpikir, kenapa sekolah begitu menginginkan siswanya rajin membaca, memiliki wawasan luas, dan aktif dalam berbagai kegiatan literasi, tetapi pada saat yang sama, gerakan literasi yang dibangun oleh siswanya sendiri justru belum mendapatkan perhatian yang merata. Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini bukan untuk menyebut semua guru malas membaca atau tidak peduli terhadap gerakan literasi. Saya percaya setiap guru memiliki pengalaman dan perjuangannya masing-masing. Namun, saya juga ingin mengajak kita melihat satu hal: apakah gerakan literasi di sekolah ini sudah benar-benar didukung oleh seluruh warga sekolah?

Kepada Bapak dan Ibu Guru, saya yakin ketika masih menjadi mahasiswa, banyak dari kalian yang harus membaca berbagai buku, jurnal, dan sumber informasi untuk menyelesaikan tugas hingga skripsi. Membaca menjadi bagian penting dalam setiap perjalanan akademik yang ditempuh. Lantas, setelah menyelesaikan pendidikan dan menjadi pendidik (guru) , apakah kebiasaan membaca itu masih terus dipertahankan? Saya tidak sedang mempertanyakan kemampuan atau kemauan Bapak dan Ibu untuk membaca. Saya hanya ingin mengajak kita semua memahami bahwa literasi seharusnya menjadi kebiasaan sepanjang hayat, bukan sekadar tuntutan yang diberikan kepada siswa. Beberapa dari kami yang tergabung dalam gerakan literasi sekolah berusaha mengambil bagian dalam membangun kebiasaan tersebut.

Kami membuat Buletin setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda dengan mendatangi berbagai narasumber secara langsung, melakukan wawancara, menelusuri jejak sejarah, mengumpulkan berbagai informasi, kemudian menyusun semuanya kata demi kata hingga menjadi sebuah karya yang dapat dibaca oleh semua warga sekolah. Proses itu tentu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesungguhan karena kami tidak sekedar menulis untuk memenuhi halaman buletin, ada yang lebih urgen dari itu yakni menyampaikan informasi kepada publik, mengenalkan hal-hal yang mungkin saja belum banyak diketahui orang, dan dari itu syukur-syukur bisa menumbuhkan ketertarikan terhadap kegiatan membaca dan menulis.

Apresiasi terhadap apa yang dikerjakan jauh lebih kuat dirasakan dan diharapkan oleh siapapun, sesederhana ketika ada pertanyaan “Bulan ini temanya apa?” atau “Apa yang dibahas dalam buletin kali ini?” Sayangnya, terkadang untuk menjelaskan isi Buletin saja, kami sudah mendapatkan penolakan. Mungkin bagi sebagian orang, buletin itu hanyalah beberapa lembar kertas. Namun, dibalik lembaran tersebut, ada proses kolaborasi serta kesungguhan untuk mencipta dan menghasilkan suatu karya.

Walaupun benar tidak semua usaha kami diabaikan, karena ada juga guru yang konsisten mendukung dengan membeli setiap lembar bulletin yang terbit sebagai apresiasi atas “kerja-kerja” jurnalistik yang kami lakukan.

Dengan dukungan tersebut seharusnya semakin menumbuhkan ketertarikan terhadap gerakan literasi sekolah yang semakin meluas, meskipun sebenarnya tidak perlu respon yang sama tetapi kami berharap setiap karya siswa apapun itu tidak langsung dinilai sebelum diketahui atau dibaca dulu isinya.

Persoalan ini juga terlihat dari keberadaan mading sekolah. Mading dibuat sebagai tempat untuk menyampaikan informasi, memajang karya, dan mengajak siswa mengenal berbagai bacaan. Namun, jika keberadaannya jarang diperhatikan, kita perlu bertanya: apakah mading kita sudah cukup menarik? Apakah warga sekolah mengetahui manfaatnya? Atau, apakah kita selama ini hanya sibuk menyediakan media literasi tanpa benar-benar membangun kebiasaan untuk menggunakannya?

Ketika saya mencoba bertanya kepada beberapa siswa dari kelas X, XI, hingga XII mengenai kebiasaan membaca mereka, saya menemukan bahwa sebagian dari mereka mengaku jarang membaca buku. Tentu saja, jawaban tersebut tidak mewakili seluruh siswa. Saya masih menemukan siswa yang memiliki ketertarikan terhadap buku dan kegiatan membaca. Akan tetapi, pengalaman itu cukup menjadi bahan refleksi bagi kita semua.

Sebab, gerakan literasi tidak akan berhasil hanya dengan menyediakan buku, membuat mading, atau menerbitkan buletin. Semua itu membutuhkan keterlibatan orang-orang di sekitarnya. Siswa perlu didorong untuk membaca, tetapi mereka juga perlu melihat bahwa membaca, menulis, dan menghargai karya merupakan kebiasaan yang hidup di lingkungan sekolahnya.

Bapak dan Ibu Guru, sekali lagi, tulisan ini bukan tuduhan kepada semua guru. Kami tahu ada guru yang mendukung, membantu, dan menghargai perjuangan kami. Namun, kami juga berharap guru-guru yang belum menunjukkan ketertarikan terhadap gerakan literasi dapat mulai membuka diri. Dukungan tidak harus selalu berupa uang atau pujian. Meluangkan waktu untuk membaca buletin, memberikan masukan terhadap tulisan siswa, mengunjungi mading, atau sekadar bertanya tentang kegiatan literasi pun bisa menjadi bentuk dukungan yang berarti.

Pada akhirnya, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana: untuk apa kita membangun gerakan literasi jika orang-orang di lingkungan yang sama tidak ikut menghidupkannya?

Literasi bukan hanya tanggung jawab siswa, bukan pula tanggung jawab guru semata. Literasi adalah kebiasaan yang perlu dibangun bersama. Kita tidak bisa terus-menerus meminta siswa mencintai kegiatan membaca jika lingkungan disekitarnya belum memberikan ruang yang cukup untuk tumbuhnya kecintaan tersebut.

Kami hanya ingin usaha kami diberi ruang yang luas, dibaca, dan dinilai dengan semestinya. Karena bagi kami, literasi bukan sekadar tentang menghasilkan tulisan untuk ditempel di dinding atau diterbitkan setiap bulan. Literasi adalah tentang bagaimana sebuah tulisan mampu menemukan pembacanya, bagaimana sebuah gagasan mendapatkan ruang untuk didengar, dan bagaimana kebiasaan membaca dapat tumbuh menjadi budaya.

Jadi, mari kita berhenti memandang literasi hanya sebagai kewajiban siswa. Mari menjadikannya gerakan bersama, dimulai dari hal sederhana: membaca, menghargai, dan memberikan ruang bagi setiap karya untuk tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *