Lelah Yang Terbayar: Catatan dari Kemah Budaya Sako Pasundan

Avatar Zahra Dwi Defiana
Foto: Siswa SMAS Pasundan 8 Bandung dalam Kemah Budaya Sako Pasundan

Sumedang, 6–8 Oktober 2026. Kemah Budaya Sako Pramuka Paguyuban Pasundan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Kiara Payung, Jatinangor Sumedang. Kegiatan diisi dengan berbagai aktivitas, mulai dari pematerian, permainan kelompok, penjelajahan pos, hingga upacara api unggun. Meski jadwalnya cukup padat dan waktu istirahat terbatas, kegiatan ini memberikan banyak pengalaman dan kenangan tersendiri bagi para peserta.

Saya ingin membagikan sedikit pengalaman selama mengikuti kegiatan tersebut. Kami berangkat dari sekolah hari Selasa pagi sekitar jam 6.30 dengan menggunakan beberapa mobil angkot. Setibanya di lokasi perkemahan, kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dipimpin oleh pengurus Sako Paguyuban Pasundan. Setelah upacara selesai, kami kembali ke tenda untuk membersihkan dan merapikan tempat masing-masing sebelum mengikuti berbagai pematerian.

Materi awal yang disampaikan meliputi sejarah dan awal mula gerakan Pramuka, tokoh Baden Powell yang dikenal sebagai bapak pramuka dunia, serta Peraturan Baris Berbaris (PBB). Kami juga mendapatkan materi mengenai adab dan sopan santun, gotong royong, kerja sama, dan etika berbicara. Selain pematerian, berbagai permainan juga turut mewarnai kegiatan selama kemah berlangsung.

Menariknya, kebersamaan tidak hanya terasa saat kegiatan resmi. Pada malam hari, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk memasak bersama wali kelas. Walaupun makanan sebenarnya sudah disediakan oleh panitia, kami tetap semangat melakukan kegiatan masak-masakan bersama. Momen sederhana tersebut menjadi salah satu pengalaman menyenangkan yang membuat suasana semakin akrab. 

Tidak hanya mendapatkan pengalaman baru, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk bertemu kembali dengan teman-teman lama. Secara tidak langsung, saya bisa mengadakan reuni kecil-kecilan bersama teman-teman semasa SMP dan SD yang ternyata berada dalam satu naungan sekolah Pasundan.

Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan teman, rasanya menyenangkan bisa kembali bertatap muka, saling menyapa, menanyakan kabar, dan bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Pertemuan yang tidak direncanakan itu menjadi kebahagiaan tersendiri di tengah padatnya kegiatan kemah. Meskipun hanya berlangsung singkat, kesempatan tersebut cukup untuk mengobati rasa rindu kepada kawan lama. Siapa sangka, di antara banyaknya kegiatan yang harus dijalani, Bumi Perkemahan Kiara Payung justru menjadi tempat bertemunya kembali cerita-cerita lama yang sempat terpisah oleh waktu.

Keesokan harinya, kami dibangunkan sekitar pukul 03.00 untuk melaksanakan salat Subuh. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan post to post, yaitu kegiatan berpindah dari satu pos ke pos lainnya dengan menyelesaikan berbagai tantangan yang diberikan. Bagi saya, post to post merupakan salah satu kegiatan paling seru selama kemah budaya. Di setiap pos, kami tidak hanya mendapatkan pertanyaan seputar Dasa Dharma, Tri Satya, dan pengetahuan kepramukaan lainnya, tetapi juga harus mengikuti aturan serta instruksi yang telah ditetapkan.

Salah satu hal yang menarik adalah tata cara menyampaikan instruksi atau meminta izin sebelum memasuki pos. Kami harus mengucapkan, “Intrupsi!” terlebih dahulu, kemudian menyampaikan laporan sangga dan meminta izin kepada penjaga pos. Begitu pula ketika ingin bertanya atau menanggapi sesuatu, kami harus meminta izin terlebih dahulu. Hal ini mengajarkan kami untuk lebih disiplin, tertib, dan menghargai orang lain saat berkomunikasi.

Selain menguji pengetahuan, kegiatan ini juga menghadirkan tantangan fisik, seperti berjalan jongkok, merangkak, hingga melewati tantangan di pos terakhir yang melibatkan lumpur. Menurut saya, pos terakhir menjadi bagian yang paling menyenangkan. Saya bisa bermain tanah dan lumpur.

Mungkin bagi sebagian orang kegiatan tersebut terdengar biasa saja atau bahkan sedikit aneh. Namun, bagi saya, bermain tanah justru memberikan kesenangan tersendiri. Saat kecil, saya memang suka bermain kotor-kotoran. Jadi, ketika harus melewati tantangan di pos terakhir, rasanya seperti kembali ke masa kecil, saat bermain tanpa terlalu memikirkan pakaian kotor atau badan yang penuh lumpur. Walaupun melelahkan, pengalaman itu membuat saya tertawa dan menikmati kegiatan dengan cara yang sederhana.

Hal lain yang membuat kemah ini terasa berbeda adalah aturan pengumpulan handphone selama kegiatan berlangsung. Selama tiga hari, kami tidak menggunakan handphone seperti biasanya. Awalnya, mungkin terasa sedikit berbeda karena tidak bisa leluasa mengakses ponsel. Namun, ternyata keadaan tersebut membuat kami lebih banyak mengobrol, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama teman-teman tanpa terlalu sibuk dengan layar masing-masing.

Pada malam terakhir, kegiatan dilanjutkan dengan upacara api unggun. Setelah rangkaian upacara dan penyalaan api unggun, peserta mengikuti dinamika kelompok yang berlangsung meriah. Setiap sangga mendapat kesempatan untuk menampilkan lagu yang berbeda-beda sehingga suasana malam itu dipenuhi nyanyian dan kebersamaan.

Sejujurnya, saya sempat berharap setiap sangga akan menampilkan drama kecil-kecilan agar suasana semakin beragam. Sangga saya sendiri bahkan sempat memiliki ide untuk menampilkan drama yang berasal dari gagasan saya. Sayangnya, keterbatasan waktu membuat rencana tersebut tidak dapat dipersiapkan secara maksimal. Akhirnya, kami memilih bernyanyi bersama sebagai bentuk penampilan kelompok. Walaupun tidak sesuai dengan ekspektasi awal, kegiatan tersebut tetap menyenangkan dan menjadi salah satu kenangan selama kemah.

Di balik keseruan yang dirasakan, tentu ada beberapa hal yang menurut saya perlu diperbaiki dan menjadi bahan evaluasi. Pertama, dalam pelaksanaan pematerian. Materi yang diberikan sebenarnya bermanfaat, tetapi cara penyampaiannya seharusnya dapat dibuat lebih interaktif misalnya melalui permainan singkat, praktik langsung, atau sesi tanya jawab agar peserta lebih mudah memahami materi dan tetap antusias mengikuti kegiatan.

Kedua, kondisi tempat duduk saat pematerian juga harus menjadi perhatian. Permukaan tanah yang tidak rata membuat saya merasa kurang nyaman ketika harus duduk dalam waktu cukup lama. Ketiga, Fasilitas toilet pun cukup padat digunakan peserta sehingga perlu mendapat perhatian lebih dan pengaturan  agar kenyamanan selama kegiatan dapat terjaga.

Menurut saya, beberapa hal tersebut harus menjadi perhatian untuk pelaksanaan kemah budaya berikutnya. Dengan pematerian yang lebih menarik, penataan tempat yang lebih nyaman, serta fasilitas yang memadai, kegiatan ini diharapkan dapat berjalan lebih optimal tanpa mengurangi nilai pendidikan dan kebersamaan di dalamnya.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pelantikan dan upacara penutupan pada pagi hari sebelum peserta bersiap untuk pulang. Tiga hari dua malam tentu bukan waktu yang sebentar ketika harus menjalani kegiatan dengan jadwal padat dan waktu istirahat terbatas. Namun, bagi saya, rasa lelah tersebut terbayarkan oleh pengalaman, kebersamaan, dan berbagai cerita yang didapatkan selama kemah.

Pada akhirnya, Kemah Budaya Sako Pramuka Paguyuban Pasundan bukan hanya tentang menjalani kegiatan kepramukaan, tetapi juga tentang belajar mandiri, bekerja sama, menghargai orang lain, dan membangun kedekatan tanpa bergantung pada handphone. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat persahabatan, mempertemukan kembali orang-orang yang sudah lama tidak berjumpa, serta merasakan kembali kebahagiaan sederhana yang mungkin sudah lama terlupakan.

Meskipun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, pengalaman ini tetap memberikan kesan menyenangkan bagi saya. Rasa lelah selama tiga hari dua malam terasa sepadan dengan semua cerita yang dibawa pulang. Sebab, terkadang hal paling berharga dari sebuah perjalanan bukan hanya tempat yang dikunjungi atau kegiatan yang dilakukan, melainkan orang-orang yang ditemui dan kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *