Nilai KAA itu Seperti Mantra atau Jampi-Jampi

Foto: Anggota Delapena mewawancarai narasumber dari AARC

Selain melihat-lihat ke dalam museum, jurnalis Delapena juga berbincang-bincang dengan salah seorang pendiri Asian African Reading Club (AARC) kang Adew Habsta sesaat sebelum aksi solidaritas membela Palestina dilaksanakan. AARC sendiri merupakan komunitas club baca yang berada dilingkungan Museum, berikut wawancaranya:

Kapan berdirinya AARC?“

Berdirinya tanggal 15 Agustus 2009 di Museum Konferensi Asia Afrika, saat itu ada perhelatan festival kemerdekaan dalam rangka menghidupkan ruang-ruang publik di antaranya museum, pun juga ada Gerakan Nasional Cinta Museum yang dicanangkan di 2008 agar masyarakat mau datang ke museum, belajar ke museum. Jadi momentum festival kemerdekaan yang dilaksanakan dibulan Agustus diantaranya ada pembuatan atau pendirian klub baca. Dari sekian banyak acara, diskusi buku, workshop, diantaranya ada peluncuran atau pendirian klub baca, Namanya Asian African Reading Club Tepat pada 15 Agustus 2009 di Museum KAA.”

Tujuannya sendiri adalah untuk memaknai semangat Bandung dan bangsa-bangsa Asia-Afrika. Dari sekian banyak cara untuk memetik hikmah kebijakan dan nilai-nilai KAA itu sendiri, yakni lewat buku, bacaan yang memang sudah tersedia di museum. AARC menjadi ruang belajar siapapun untuk memaknai nilai-nilai konferensi Bandung, juga bersemangat dalam mengkampanyekan literasi untuk masyarakat agar datang ke museum

Apakah AARC hanya membahas buku-buku tentang Konferensi Asia-Afrika saja?

“Ya, karena klubnya di Asia Afrika Reading Club dan kita ingin punya kekhasan dan jadi karakter lalu kelompok ini menjadi pembeda lah dengan kelompok-kelompok lain, maka dipilih lah buku-buku yang ada kaitannya dengan nilai-nilai pemikiran konferensi Bandung. Termasuk buku-buku yang dituliskan oleh para tokoh-tokoh Asia Afrika. Misalnya Bung Karno, Bung Hatta, Ali Sastroamidjojo, Roeslan Abdul Gani, juga yang luar, dari India, Nehru banyaklah tokoh-tokoh Asia Afrika bahkan tokoh-tokoh yang kekinian, kontemporer yang memang dari Asia Afrika, misalnya Nelson Mandela dan seterusnya, pokoknya khas pemikiran asli Asia dan Afrika, penulisnya Asia Afrika

Jika memang nanti ada sastra, sastranya Asia Afrika. Misalnya sastra Korea, Jepang, Puisi Cina, puisi India, kita juga suka K-pop, tapi Korea gitu ya, tapi diambilnya dari pintu sastranya. Nonton filmnya, kadang-kadang juga film itu diambil dari novel karya-karya sastra dari Korea misalnya gitu.

Itu juga kan bagian dari kekhasannya. Kekayaan pemikiran, kebijaksanaan Asia dan Afrika. Pokoknya Asia Afrika. Kalau dari Amerika, dari Eropa, belum dulu lah kayak gitu.” Katanya.

Apa yang bisa diambil dari KAA?

“Nah ternyata peristiwa KAA ini bukan melulu dimaknai sebagai peristiwa politik. Bisa juga kita artikan kita amalkan lah dalam keseharian kita, dalam sehari-hari dalam tingkah laku, misalkan nilai KAA itu perdamaian kita ambil nih, tarik jadi peristiwa kebudayaan kita hari-hari ini. Bagaimana sih kita menjadi pribadi yang damai menjadi orang yang menyenangkan. Kedatangan kita itu tidak menjadi ancaman, tidak jadi teror. Itu dalam lingkungan cukup kecil dalam tetangga, dalam masyarakat, di sekolah kita kayak gitu.

Datang kita tuh gembira, seneng. Kedatangan kita tuh orang lain ga pada nyinyir ya. Itulah semangat Bandung spirit perdamaian, peaceful, coexistence hidup damai, berdampingan. Nilai ini kan tetap aktual, apalagi di tengah situasi dunia hari ini ya, banyak peperangan, konflik, maka semangat Bandung, nilai-nilai perdamaian, kerukunan, persaudaraan ini bisa menjadi jampi-jampi. Jampi-jampi, mantra-mantra yang ampuh untuk meredam segala konflik, mudah-mudahan. Kayak gitulah.”

Bagaimana terkait isu Palestina yang notabenenya masih ambigu mengenai kemerdekaan negaranya? Padahal disebutkan di Dasa Sila Bandung, negara-negara di KAA sangat menentang adanya kolonialisme di seluruh bangsa-bangsa

“Betul, sebagaimana catatan yang sudah ditulis oleh Ruslan Abdul Ghani di bukunya Bandung Connection yang jadi buku wajib KAA. Kemerdekaan Palestina menjadi hutang, bukan apa ya bukan sesuatu yang membebani, tapi ini menjadi satu perjuangan terakhir barang kali, untuk membebaskan siapapun bangsa negeri yang terjajah, yang dalam hal ini adalah Palestina, bahkan di akhir Penutupan Konferensi Bandung, 24 April 1955, semua peserta mendukung kemerdekaan Palestina. Mungkin hari ini ada yang berubah juga haluan politiknya, ada beberapa negara yang lurus-lurus sajalah, tidak terlalu toh-tohan membela, tetapi rakyat Indonesia masih terdepan, masih berdiri untuk Kemerdekaan Palestina.

Apapun yang terjadi, itu perjuangan kita kemarin berjuang, hari ini berjuang, besok juga berjuang. Soal hasil akhir, ada yang maha menentukan dari segalanya. Sebenarnya itulah, harus terus disuarakan kemerdekaan untuk Palestina. Apapun keberadaan negara-negara lain yang masih terjajah, yang teraniaya yang masih dalam cengkraman kolonialisme. Zionisme ternyata adalah Kolonialisme yang sangat purba dengan segala macam manifestasi-manifestasinya yang harus terus dilawan, ditentang apapun caranya”

Mengenai keanggotaa AARC ini terbuka untuk umum, dari segala kalangan, umur maupun latar belakang dengan niat dan tekad yang sama sama mengenal kembali Kota Bandung untuk selalu dibanggakan, layak kita cintai, salah satunya dari peristiwa Konferensi Asia-Afrika di museum ini, di Kota Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *