
Pada Sabtu kemarin (18/4/2026) menjadi peringatan hari Konferensi Asia-Afrika ke 71 di Bandung. Untuk mengetahui lebih lanjut terkait pesan yang disampaikan pada konferensi besar itu dan kaitannya dengan kondisi moral saat ini. Maka, redaksi Delapena mengunjungi museum Asia-Afrika dan menwawancarai Pak Ginanjar selaku Educator di MKAA (Museum Konferensi Asia Afrika), berikut petikannya :
Apakah dibulan April ini ada peringatan untuk hari KAA?
Untuk peringatan KAA akan diadakan sepekan, dalam acara tersebut akan ada beberapa kegiatan. Namun, tidak ada perayaan khusus dan meriah, hanya memperingati saja.
Ini menjadi kekecewaan tersendiri bagi sebagian pihak dikarenakan agenda perayaan KAA yang dinilai kosong, juga bendera-bendera yang ternyata tidak dikibarkan pada tiangnya dan negara seperti menyepelekan peringatan ini. Padahal, KAA termasuk penunjang perdamaian paling besar yang dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk dunia.

Apa yang melatarbelakangi peristiwa KAA itu?
“Pada saat itu didorong atas keinginan pemerintah kita untuk mewujudkan politik luar negeri bebas aktif lalu keinginan untuk mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, dan tentunya untuk ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial. Sehingga memang tujuan utama kita, Indonesia untuk melawan segala bentuk penjajahan dan mendorong kemerdekaan di Asia-Afrika, terutama di dunia.” Katanya
Berarti, keberpihakan Indonesia yang dulu memiliki arah yang jelas mengenai nasib bangsa-bangsa yang belum merdeka dan tertindas. Karena segala bentuk kejahatan, adalah sebuah kejahatan. Indonesia yang telah keluar dari dan mengalami penjajahan, menentang keras sikap mengabaikan kemanusiaan.
Bagaimana dengan Indonesia saat ini? Apakah dengan berita berita yang beredar terkait pemerintah Indonesia yang hanya mengangguk dan menyetujui kebijakan Amerika Serikat membuat mereka melanggar pendirian Indonesia selama puluhan tahun? Dan bagaimana pula dengan isu-isu “Indonesia menjajah Papua” yang sudah terdengar ditelinga masyarakat dunia hingga dikecam keras oleh organisasi kemanusiaan karena terus menggeruk bumi masyarakat Papua untuk kepentingan para penguasa itu sendiri. Apakah ini menjadikan Indonesia menjadi bagian dari penjajah itu?
Kenapa pelaksanaan KAA itu di Bandung?
“Saya juga masih agak kesulitan mencari informasi faktualnya. Tapi ada interpretasi dari para sejarah yang mengkaji tentang KAA terutama tentang tempatnya, 3 poin yang bisa diasumsikan kenapa Bandung dipilih menjadi pelaksaan KAA. Yang pertama adalah sisi keamanan, Bandung pada saat itu menjadi pusat militer terutama pusat latihan ya Bandung-Cimahi, sehingga menjadikan Bandung sebagai tempat yang aman. Dua, gedung ini sangat strategis, dekat dengan hotel Homann dan lainnya sehingga menunjang pelaksanaan KAA. Ketiga, kondisi cuaca Kota Bandung yang dinilai tidak terlalu dingin & panas sehingga cocok untuk sebagian besar orang-orang dan masyarakat internasional yang akan datang ke Bandung” Ungkapnya

Apakah pesan yang disampaikan KAA masih relevan dengan kondisi saat ini?
“Tentunya masih sangat relevan, karena memang memiliki nilai nilai yang universal dan masih sangat dibutuhkan di dunia ini. Nilai nilai kesetaraan, hidup berdampingan secara damai, mengenai toleransi dan lainnya digaungkan di KAA sehingga apabila kita mempelajari kembali KAA, maka kita akan mampu menghidupkan kembali pentingnya nilai nilai internasionalisme, kerja sama gotong royong” Katanya
Misalnya saat ini dengan memanasnya konfik perang Iran dengan AS & Israel yang menuai banyak sekali pandangan, perpecahan, hingga permusuhan antar masyarakat diberbagai negara. Dalam menanggapi isu ini, Pak Ginanjar mengatakan bahwa rupanya akan selalu sama, terjadi peperangan. Maka dari itu, dulu KAA hadir untuk merespon bagaimana cara menyelesaikan dan menghentikan perang, dan bagaimana solidaritas dapat menggalang kembali rasa melawan ketidakadilan yang ada di dunia
Apakah pelajar wajib mengetahui terkait KAA?
“Sangat wajib, untuk mengenal KAA, karena ini adalah konferensi pertama yang dinilai tersukses bagi Indonesia, menjadi saksi perjalanan diplomasi Indonesia dalam mewujudkan tatanan dunia yang lebih baik. Karena dunia itu tidak pernah laju sama pasca KAA, setelah Konferensi Asia-Afrika itu muncul kerja sama baru di Asia-Afrika dan muncul negara negara baru yang merdeka di Asia-Afrika. Maka dari itu untuk menimbulkan rasa nasionalisme kebanggaan kita terhadap Indonesia, kita kunjungi museum Asia-Afrika”.
Selain tanggapan dari Pak Ginanjar, kami sedikit mewawancarai pengunjung yang hadir di museum dalam kegiatan mempelajari wisata sejarah di Bandung, atau lebih sering disebut Kak Dea
“Tadi saya menonton dokumentasi gitu ya, jadi lebih tau gimana awalnya konferensi Asia-Afrika hingga akhirnya negara negara mana saja yang bergabung” Katanya menceritakan hal menarik yang ia temui di museum Asia-Afrika.
