Reformasi Mei 1998

Foto: Baris puisi untuk tragedi Trisakti (Sumber: Tabloid Adil, Mei 1999)

Bulan Mei dikenal sebagai bulan lahirnya Reformasi di Indonesia, yang seringkali ditandai dengan turunnya jabatan Presiden Soeharto setelah 32 tahun menjabat sebagai Presiden republik Indonesia di masa orde baru. Pada masa kepemimpinan Soeharto, rakyat Indonesia dibebani oleh berbagai krisis yang terjadi, seperti krisis ekonomi, lemahnya nilai mata uang rupiah, kenaikan harga bbm dan bahan-bahan pokok yang tidak masuk akal, serta banyak ketimpanangan sosial yang terjadi. Masa kepemimpinan Suharto dinilai hanya mementingkan kepentingan golongan daripada keadaan rakyat dan negara. Banyak kabinet serta menteri diisi oleh kerabat Suharto—nepotisme.

Aksi-aksi mahasiswa yang berlangsung pada bulan Mei mengacu pada rasa keprihatinan yang sangat mendalam atas berbagai krisis yang semakin banyak dan parah. Sidang umum MPR tidak meghasilkan pertanggungjawaban presiden mengenai krisis yang terjadi. KKN, krisis ekonomi, kenaikan harga barang pokok dan BBM membuat banyak masyarakat menderita dan resah. Sementara, pemerintah terlihat kurang serius dalam menanggapi serta mengatasi berbagai macam krisis yang terjadi di negeri ini.

Banyaknya krisis membuat berbagai kalangan khususnya mahasiswa merasa terpanggil untuk mengibarkan kata “reformasi” sebagai bentuk kepedulian terhadap nasih bangsa. Berbagai aksi mulai dilakukan, menurut Ricardhi S. Adnan Dan Arvan Pradiansyah yang tertulis pada buku “Tragedi Trisakti 12 Mei 1998” disebutkan bahwa gerakan-gerakan mahasiswa dibagi menjadi 4 periode berdasarkan momen-momen penting mahasiswa pada tahun 1998. Pertama yakni gerakan mahasiswa sebelum 1 market 1998, tanggal sidang umum MPR 1-11 Maret 1998, Insiden berdarah Universitas Trisakti 12 Mei, dan mundurnya Presiden Suharto pada tanggal 21 Mei 1998. Salah satu dari banyaknya gerakan mahasiswa yang terjadi pada tahun 1998, peristiwa berdarah universitas Trisakti lah yang paling menyayat hati.

Pada 12 Mei 1998, kumpulan mahasiswa dari Universitas Trisakti bergabung dalam aksi demonstrasi damai dari gerbang kampus menuju Gedung Nusantara sebagai bagian dari serangkaian protes di seluruh negeri. Aksi damai ini masih berupa aksi mimbar bebas.

Lalu pada saat yang bersamaan, barisan dari aparat langsung menyerang massa mahasiswa dengan tembakan dan pelemparan gas air mata kepada arah kumpulan masa aksi mahasiswa Trisakti. Massa mahasiswa panik dan berlarian menuju kampus. Keadaan menjadi ricuh. Korban luka-luka berat ringan maupun berat dilarikan ke rumah sakit sumber waras. Sedangkan, Keempat mahasiswa yang menjadi korban tewas dalam peristiwa tragis ini adalah Elang Mulia Lesmana (Mahasiswa Arsitektur), Heri Hertanto (Teknik mesin), Hafidin Royan (Teknik sipil), dan Hendriawan Sie (Manajemen). Mereka tewas ditembak di dalam kampus, mengenai bagian-bagian vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Kami dari Pers pelajar DelaPena juga sempat berkunjung ke Makam dan rumah Hafidzin Royan pada hari jumat, 1 Mei 2026 dan bertemu dengan ibu serta Kakak Hafidzin Royan di kediamannya. Disana kami berbincang-bincang hangat dan melihat-lihat museum Kamar Hafidzin Royan yang berisikan barang-barang terakhirnya yang dipakai sebelum ia menjadi korban peristiwa Trisakti.

Tragedi peristiwa berdarah Universitas Trisakti memberikan dampak yang sangat signifikan bagi Reformasi Indonesia. Setelah peristiwa tersebut terjadi, rakyat semakin menuntut Reformasi lalu menuntut bahwa rezim Soeharto harus segera berakhir. Masyarakat menuntut pemerintah untuk segera melakukan penyelesain dari segala krisis yang terjadi dan menyengsarakan rakyat Indonesia.

Kerusuhan Mei 1998 baru mereda setelah Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998, yang sekaligus menandai akhir dari rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Peristiwa berdarah Trisakti adalah sejarah pelanggaran HAM berat serta sebagai salah satu perjuangan mahasiswa bagi bangsanya yang tidak boleh dilupakan oleh negeri ini. Bahwa peristiwa Trisakti ini memberikan dampak yang sangat besar bagi negera Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *