“Hafidhin itu ditembak, di Dekat Gedung Rektorat”

Foto: Makam pahlawan Reformasi, Hafidhin Royan mahasiswa Teknik Sipil Universitas Trisakti

Di bulan Mei ini banyak memperingati peristiwa besar bagi Indonesia, salah satunya yakni gejolak Reformasi yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Presiden Indonesia ke-2 Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Akar terjadinya Reformasi sendiri selain berbagai krisis, tentunya yang menjadi pemantik besarnya adalah Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998. Peristiwa Trisakti ini menjadi titik acuan memanasnya konflik sosial-politik Indonesia yang memakan banyak korban. Untuk memutar kembali ingatan bersama kita tentang sejarah Reformasi, redaksi Delapena berkesempatan untuk bertemu dengan keluarga salah satu korban Tragedi Trisakti yaitu Hafidhin Royan mahasiswa Teknik Sipil Trisakti. Tak lupa kami juga berziarah ke makam Hafidhin Royan yang terletak tidak jauh dari kediamannya di Jl. Sinargalih, Pasirluyung Kota Bandung. berikut petikan wawancara kami dengan ibu Sunarmi dari pihak keluarga :

Apakah boleh diceritakan sedikit terkait almarhum?

“Anak saya Royan lulus dari SMAN 2 Bandung ditahun 95, ia merupakan anak keempat yang lahir pada tahun 1976 dan melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti Teknik Sipil pada 1996. Saat masih dijenjang SMA, ia menyukai olahraga basket bersama teman-temannya dan sering kali menggunakan fasilitas olahraga di sekolahnya untuk menyalurkan hobi”

Apakah pihak Universitas Trisakti rutin ke sini?

“Semenjak terjadi peristiwa itu dari Rektor mengeluarkan surat keputusannya bahwa setiap tahun harus ada peringatan, dan itu masih berjalan sampai sekarang. Nanti tanggal 12 Mei ada upacara bendera di kampus, sebelumnya ada ziarah ke makam-makam korban. Kalo aktivis-aktivis di Bandung sebelumnya persis setriap tanggal 12 Mei itu ke makam. Kalo saya ikut upacara di Jakarta karena diundang” Katanya

Waktu kejadian, ibu ada dimana?

“Saya di Jakarta, waktu pertama kali mendengar kabar anak saya kena tembak dari teman-teman kampus, kejadiannya habis magrib jadi sudah pada pulang, tapi memang masih ada dosen-dosen disitu. Waktu itu beritanya kurang jelas, ga bilang kalo ditembak. Sesudah itu kami disuruh datang. Tapi ketika kami datang dia sudah dikamar jenazah, meninggal di rumah sakit. Tapi yang lain kayak Elang dan Herdriawan Sie meninggalnya di kampus. Hafidhin dan Heri Hartanto belum sempat dibawa ke rumah sakit sudah meninggal” Ungkapnya

Ibu ketika mendengar kabar tersebut langsung pergi ke rumah sakit?

“Iya, kebetulan saya lagi di Jakarta menemani kakaknya lahiran. Teman dekatnya sudah menunggu digerbang rumah sakit, langsung dibawa ke kamar jenazah, ternyata sudah ada 4 orang meninggal disana. Setelah dibersihkan, dibawa ke kampus dan besok paginya ke rumah masing masing”

Bagaimana kegiatan sehari-hari almarhum?

“Hobinya naik gunung, jadi dihari minggu itu masih digunung, meninggalnya dihari selasa. Hafidhin itu anak keempat dari lima bersaudara, laki-laki satu satunya”

Hafidhin semester berapa saat peristiwa tersebut?

Kakak pertama dari Hafidhin Royan mengatakan bahwa saat adiknya mengalami peristiwa Trisakti, ia masih berada di semester 6 setelah ujian akhir jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti. Dikampusnya sendiri memiliki titik-titik posisi terakhir korban seperti up light dilantai dengan nama nama mahasiswa yang menjadi korban.

Ibu Sunarmi menambahkan bahwa saat itu demonstrasi dibatasi diantara jam 4 hingga magrib. Kebetulan keempat korban sedang berada di halaman kampus, Heri Hartanto berada didekat gedung Rektorat yang di depannya memiliki tiang bendera. Sedangkan Hafidhin Royan berada di bawah tangga gedung Rektorat, kemudian Elang berada lebih jauh diantara gerbang dan gedung. Saat itu Herdriawan Sie sedang menutup pintu, menjadikan dirinya yang paling dekat untuk ditembak.

“Sebelumnya, titik-titik penembakan itu dihiasi karangan bunga, apalagi Hafidhin Royan posisinya di bawah tangga, jadi orang orang sering lewat” Tambah Bu Sunarmi

Barang peninggalan Hafidhin Royan dibawa kembali oleh teman-temannya. Dari pencinta alam SMAN 2 meminta keluarga untuk dimuseumkan, hingga sekarang kamar Hafidhin Royan telah dijadikan museum sederhana. Barang-Barang miliknya kini bisa dikenang kembali oleh generasi mendatang sebagai pelajaran bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *