“Sejarah Perlawanan itu Perlu dikenang, Sebelum dihapus Kekuasaan”

Foto: Ato Rinanto, mantan Aktivis Mahasiswa 1998

Selain mencari keterangan melalui keluarga korban Tragedi Trisakti, kami juga ikut menelusuri jejak nyata dari mantan aktivis mahasiswa yang turun langsung saat peristiwa Reformasi Mei 1998, salah satunya Ato Rinanto yang pada saat bergulirnya Reformasi itu, menjabat sebagai Presiden Mahasiswa di Universitas Langlangbuana (UNLA) Bandung. Sedangkan saat ini beliau menjabat sebagai ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia ) Daerah Tasikmalaya. Reporter Delapena Mulyani menghubunginya melalui saluran telephone WA. Berikut petikan wawancaranya :

Apa itu Reformasi?

“Saat itu terjadi sebuah gerakan moral yang dituntut oleh mahasiswa dan segenap golongan masyarakat karena pemerintahan Soeharto yang dipandang merugikan karena telah melakukan berbagai tindak KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme). Pada saat itu mahasiswa dan masyarakat sangat menginginkan sebuah perubahan yang berbasis pada pergerakan moral ini.

Dinamakan Reformasi disebabkan oleh kesepakatan bangsa, dimana konsepnya merupakan perubahan secara perlahan dan bertahap, dengan begitu akan meminimalisir kerugian dan korban. Jika menggunakan kata Revolusi tentu perlu ada perubahan secara total.

Bagaimana kondisi pergerakan mahasiswa di tahun 98 itu?

“Waktu angkatan saya, ketika itu kita murni pergerakan moral, dan yang kita suarakan adalah suara rakyat, yang kita sampaikan kepada masyarakat merupakan kepentingan negara yang perlu segera diperbaiki” Ungkapnya

Ia menyatakan bahwa selain dari tindakan KKN di pemerintahan Orde Baru, kondisi ini semakin memburuk akibat adanya krisis moneter dimana Rupiah saat itu sudah menyentuh lebih dari Rp. 12.000/dollar. Menurutnya, krisis pada ekonomi akan selalu bergeser ke krisis politik yang membuat Indonesia semakin tidak stabil. Belum lagi media dan para aktivis yang kritis terhadap pemerintahan orde baru di bredel dan dibungkam.

Seberapa besar keterlibatan masyaraka di gerakan 98?

“Sangat besar, tentunya semua ini tidak akan terjadi, tidak akan ada perubahan tanpa keterlibatan semua golongan masyarakat yang menginginkan sebuah Reformasi. Jika tidak, mungkin kita tidak akan bisa berpendapat atau bersuara tanpa Reformasi” Katanya

Hampir semua komponen masyarakat ikut serta menentang rezim Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun. Seperti pelajar, petani, buruh, tani, mahasiswa, dan lainnya, terlibat dalam satu tujuan yakni menurunkan Presiden Soeharto. Sama ketika pemerintahan Orde Lama yang juga dijatuhkan oleh gerakan rakyat pada tahun-tahun 1965-1966.

Begitu juga dengan kondisi Indonesia saat ini yang tidak menyangkal bahwa ada sebuah potensi kemungkinan peristiwa gerakan masyarakat akan terulang kembali. Ketika negara mengalami krisis ekonomi seperti saat ini Rupiah berada dititik terendahnya terhadap dollar, lonjakan harga ini akan berdampak pada krisis politik, dan ketika sistem sudah melenceng dari tanggung jawabnya, maka sebuah pergerakan masyarakat akan segera dimulai

Foto: Suasana Reformasi 98 di kampus UNLA Bandung

Apakah saat ini semangat Reformasi masih ada?

“Sebetulnya, walaupun hari ini semangat kita terkikis, tetapi semangat perubahan akan selalu ada. Meskipun tindakan KKN rezim akhir akhir ini semakin gila dari Soeharto, kita perlu tetap mengaungkan pergerakan perubahan dan tidak boleh hilang.

Dalam membicarakan kinerja pemerintah saat ini, menurutnya masyarakat harus turut senantiasa mengikuti dan memperbaharui seiring berjalannya waktu masa jabatan. Semua keputusan yang tidak tepat dan merugikan perlu dievaluasi dan dikritisasi oleh rakyat

Apakah yang bisa kita pelajari dari peristiwa 98, terutama untuk siswa pelajar?

“Bahwa siswa adalah bentuk subjek dari sebuah negara, maka dari itu menjadi sebuah kewajiban bagi siswa untuk mempelajarinya. Dimana siswa tidak hanya mementingkan nilai sendiri, tetapi juga harus peduli terhadap fenomena sosial masyarakat juga

Dalam berbagai catatan sebenarnya Indonesia sudah sering mengalami berbagai gejolak perlawanan untuk menggapai sebuah kebebasan dan keadilan, tetapi hingga saat ini hasil nyatanya belum dirasakan oleh semua rakyat. Dan juga sejarah perlawanan di Indonesia itu perlu dikenang sebelum dihapuskan oleh kekuasaan yang menulis ulang sejarah. Maka dari itu, apa yang ditanyakan dalam wawancara ini sebagai bagian untuk terus mengingat peristiwa Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *