
Selain perpustakaan sebelumnya, kami juga mengunjungi perpustakaan komunitas yang terletak di jalan Pasirluyu Timur no 177 A, sekitat pukul 16.00 kami tiba di perpustakaan yang diberi nama Bunga di Tembok. Perpustakaan ini mempunyai suasana estetika dengan cafe yang menarik perhatian generasi muda untuk berkunjung, bercengkrama sambil meluangkan untuk membaca-baca buku. Jauh dari kesan perpustakaan yang senyap dan sunyi, selain itu tempat ini juga menyediakan menu makanan dan minuman yang tidak mengganggu kegiatan membacanya karena disediakan ruangan khusus untuk itu. Tak lama kami bertemu dan berbincang dengan teh Nabila yang juga pengelola perpustakaan Bunga di Tembok, berikut petikannya:
Kenapa dinamakan Perpustakaan Bunga di Tembok?
“Bunga di Tembok itu sebenarnya sudah persiapan pendirian jauh sebelum grand opening. Sebelumnya kita sudah ada preparing pendataan koleksi buku segala macam tuh udah enam bulan sebelumnya. Tapi grand opening nya baru di 16 November 2024. Jadi Bunga di Tembok itu memang terinspirasi dari puisi Wiji Thukul yang judulnya Bunga di Tembok. Karena pertama, Bunga di Tembok dan Wiji Thukul jadi sosok yang bisa jadi mewakilkan teman-teman dalam perjuangan gitu. Dan Bunga di Tembok itu kami percaya lewat perlawanan tuh gak harus selalu lewat di jalan dan segala macam. Walaupun itu penting, tapi lewat diskusi, segala macam, terus adanya ruang operasi tuh jadi satu bentuk.”

Bagaimana minat kunjungan ke Perpustakaan Bunga di Tembok?
“Kita tuh di Bunga di Tembok lebih banyaknya kalau agak padat itu di hari Jum’at, Sabtu, Minggu, dan Senin. Sisanya teman-teman yang mau baca. Tapi kita senangnya di Bunga di Tembok tuh gak cuman satu kalangan doang, tapi semuanya gitu, mulai dari yang teman-teman sekolah, bisa mahasiswa, sampai yang sudah bekerja.”
Nabila menyatakan bahwa Perpustakaan Bunga di Tembok sendiri mempunyai dua tujuan, yaitu perpustakaan toko buku dan kedai kopi, tetapi secara konsep lebih berfokus pada perpustakaan.
“Tapi kita menyediakan toko buku itu untuk misalkan teman-teman yang datang kesini pengen bawa pulang beberapa judul buku untuk jadi buah tangan, itu bisa dibeli kesini,” katanya
Kenapa Perpustakaan Bunga di Tembok ini selalu mengadakan kegiatan saat weekend?
“Kami percaya perpustakaan itu gak harus jadi ruang yang senyap, cuman buat dibaca buku doang. Dari awal juga Bunga di Tempok dijadikan gak cuman jadi perpustakaan yang senyap buat baca, tapi juga jadi ruang kegiatan teman-teman komunitas, siapapun komunitasnya dari mana pun bisa banget buat bekerja sama dan kita bikin acara bareng disini. Hari Jumat tuh ada klub buku yang namanya kembang kata setiap hari Jumat, agenda utamanya silent reading, terus menceritakan buku yang dibaca, sampai yang berbedanya adalah menulis kesan dan isi dari buku, dari yang dibaca, itu setiap hari Jumat. Hari Sabtunya ada lagi sesi Sabtu Sore. Nah sesi Sabtu Sore itu bisa diisi sama kegiatan yang dirancang sama Bunga di Tembok dan Bandung Bergerak, atau juga kegiatan komunitas yang ada, yang memang pengen berkegiatan disini.”

Dari Perpustakaan Bunga di Tembok sendiri mengadakan acara tersebut karena ingin berdampak apa kepada pengunjung?
“Mungkin dari teman-teman perpustakaan yang ada di Bandung, pasti kan pengennya gak cuman mengenalkan kegiatan baca, buka, tulis aja, pengennya lebih luas lagi ya. Tapi kalau Bunga di Tembok sendiri, selain itu juga pengennya kita ngajak teman-teman tuh berkegiatan bareng dan punya pengalaman yang baru. Maksudnya selain dari baca buku, kita juga bisa kok ngobrol bareng dan diskusi bareng dari beberapa komunitas yang ada di sini. Terus kita bisa saling punya teman baru di Bunga di Tembok dari kegiatan-kegiatan yang terbuka untuk publik.”
Apa saja koleksi buku di Perpustakaan Bunga di Tembok?
“Di Bunga di Tembok itu sebenarnya ada 43 atau sekarang bertambah jadi 46 kategori sebenarnya. Tapi lebih banyaknya kita punya koleksi jurnalisme, bahkan kita punya satu ruangan khusus koleksi buku-buku jurnalisme di lantai dua. Tadinya itu memang diniatkan dibuka untuk publik, cuman karena sebelahan dengan media Bandung Bergerak jadi tidak memungkinkan, jadi buku-buku jurnalismenya kita turunkan dirak belakang pintu yang ada di ruang baca.
Nah, selain jurnalisme, kita juga paling banyak itu buku-buku Bandung, tentang Bandung, mulai dari arsip, sejarahnya, esai-esai tentang Bandung, atau bahkan sampai ke buku-buku fiksi penulis Bandung. Kita ada yang karya sastra, karya sastra juga macam-macam, ada novel, cerpen Indonesia, puisi, sampai bahkan fiksi global mulai dari Asia, Afrika, Amerika, Amerika Latin, Rusia, dan lain banyak, dan Eropa gitu. Lumayan cukup banyak pilihan untuk buku fiksi. Tapi selain itu juga ada yang kategorisasinya secara spesifik, itu ngomongin 1965, 1998, terus ngomongin tentang HAM, Agraria, dan lain macamnya. Banyak banget sih sebenarnya secara kategori, sampai bahkan buku-buku anak juga ada. Dan kita juga yang bedanya dari perpustakaan yang lain, mungkin kita punya yang namanya rak komunitas. Jadi kita menyediakan mungkin sekitar 20 rak, yang memang kita khususkan buat koleksi teman-teman komunitas.”
Apakah keberadaan Perpustakaan Bunga di Tembok bisa meningkatkan literasi di sekitar?
“Kita berusaha untuk bisa menyediakan perpustakaan yang bebas akses. Makanya dari awal Bunga Di Tembok didesain untuk jadi perpustakaan bebas akses. Jadi siapapun sebenarnya bisa masuk, bisa baca, bisa baca buku manapun. Cuman memang kita belum bisa ngasih pelayanan peminjaman untuk buku, baru bisa dibaca di tempat saja. Karena kita masih mempelajari soal sistemnya, yang baiknya seperti apa, yang buruknya seperti apa, dan beberapa koleksi buku juga kan, untuk buku-buku yang cukup lama juga perlu penyeleksian kategorisasi lagi, soal mana yang bisa dipinjam dan yang belum bisa dipinjam. Kalau keinginan kita udah dari awal sebenarnya pengen, cuman memang karena keterbatasan kami, itu belum juga terlaksanakan”
Nabila juga mengungkapkan bahwa Perpustakaan Bunga di Tembok tidak mengharuskan pengunjung untuk membeli minuman karena memang sudah diniatkan sebagai perpustakaan bebas akses tanpa dorongan komersial. Ia juga menambahkan bahwa perpustakaan bersatu melalui Aliansi Perpustakaan Independent (API )
“Kalau misalnya mau nyari informasi, bahkan titik-titik perpustakaan di Bandung itu udah banyak banget. Kita juga ada peta, peta titik perpustakaannya juga,” pungkasnya.
