Bandung Bergerak; Jurnalisme harus Berpihak

Foto: Suasana wawancara bersama pemimpin Redaksi Bandung Bergerak

Pada momentum Hari Pers Nasional (HPN) yang biasa diperingati setiap tanggal 9 Februari ini, kami dari Pers Pelajar Delapena yang menjadi bagian dari SMA Pasundan 8 Bandung berkesempatan untuk mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya sudah dikenal di kawasan Bandung sebagai kantor berita, untuk melakukan peliputan seputar media yang bersifat cetak ataupun online. Sedangkan tempat yang menjadi tujuan kami adalah koran Pikiran Rakyat sebagai media cetak dan Bandung Bergerak (BB) sebagai media onlinenya. Pada hari Jum’at kemarin (6/2/2026) kami mengunjungi kantor BB sekaligus juga tempatnya perpustakaan Bunga di Tembok yang berada di Jalan. Pasirluyu Timur No. 117 A Kota Bandung. Dalam kunjungan tersebut kami diterima oleh teman-teman BB dan juga oleh Bapak Tri Joko Her Riadi selaku Pemimpin Redaksi Bandung Bergerak yang kami mintai waktunya untuk wawancara. Berikut petikan wawancara jurnalis Delapena (Mulyani dan Kayla Febriani) dengan bapak Tri Joko Her Riadi :

Sejak kapan berdirinya Bandung Bergerak?

“Berdirinya Maret 2021. Sebelumnya saya 12 tahun di PR, terus Agustus 2020 resign, lalu Maret 2021 mendirikan BB karena waktu itu melihat ada kecenderungan media lokal saling adu cepat dan saling adu banyak. Jadi 2021 sudah banyak media online dan BB dibuat untuk memberi alternatif, bahwa menjadi media lokal, bawah menjadi media alternatif tidak perlu serba cepat dan banyak. BB mereportasi data yang mendalam dan memihak pada kepentingan publik”. Katanya.

Hingga saat ini, Bandung Bergerak aktif sebagai media yang menyediakan tempat orang orang untuk menulis dan melakukan beberapa kali pertemuan diskusi dengan masyarakat dan komunitas di tempatnya yang berada di Kafe sekaligus Perpustakaan Bunga di Tembok di Jl. Pasirluyu

“2021 kami mulai tidak punya tempat, terus 2021 Pandemi masih kuat, gak semua tempat boleh dibuka. Jadi waktu itu ketemu di warung kopi yang buka. Dua tahun berikutnya kami numpang di organisasi Jurnalis namanya AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Bandung. Kebetulan waktu itu nebeng ditempat yang muat 10 orang sudah penuh, masih di Buah Batu. Baru setahun terakhir kita disini membuat perpustakaan.

Kenapa di tempat ini dan menjadi perkumpulan kawan-kawan?

“Kenapa disini? Karena sejak awal BB itu kami percaya, kalau menjadi media lokal itu harus tau siapa komunitas kami. Jadi kami gak mau bikin media sekedar online, sekedar klik/punya pengikut, tapi gak ngerti siapa yang mengikuti kita dan siapa yang meng klik. Tapi kami pengen media online lokal alternatif yang ngerti siapa. Artinya tempat itu penting. Sehingga berkantor di ruang publik membuat kita menjadi lebih dekat dengan komunitas pendukung/pembaca kami. Makanya disini ada diskusi, pertemuan, menonton film dengan berbagai maksud. Dan persis itu yang dibayangkan BB. Jadi kita kenal dengan audiens kita, kita kenal dengan mereka.” Lanjutnya.

Apa Visi dan Misi Bandung Bergerak?

“Kita pengen melayani komunitas dengan cara membuat laporan-laporan jurnalisme yang bermutu dan memberi keberpihakan kepada kelomppk-kelompok marginal, kelompok-kelompok rentan. jadi kalau teman-teman sempat membaca di berbagai liputan BB, kan slogan kami : Bercerita dari Pinggir. Jadi kalian akan mendapatkan tulisan yang ceritanya berawal dari warga. Kami jarang banget membuat cerita dari perspektif pemerintah atau otoritas. Karena BB memang diniatkan untuk memberikan keberpihakan kepada kelompok kecil, pinggiran, marginal, kelompok yang disingkirkan oleh sistem/tidak adil. BB banyak meliput tentang warga korban penggusuran Taman Sari, Dago Elos. Kami juga membuka ruang bercerita bagi kelompok agama minoritas, penghayat kepercayaan”. lontarnya

Bagaimana dampak yang dihasilkan BB terhadap masyarakat?

“Harusnya yang baca (pembaca) atau teman-teman komunitas yang harus bertanya kepada mereka. Misalkan apa yang mereka dapatkan setelah BB menulis warga terdampak di Dago Elos atau Tamansari. Yang jadi jantungnya reportase BB itu adalah warga biasa. Kami memang gak mau memberi panggung kepada otoritas yang punya kekuasaan. Karena mereka punya sumber daya untuk melakukan itu. Tapi kadang kelompok kecil ini agak kesulitan untuk mendapatkan itu” .

Yang membuat jurnalisme sebenarnya masih memiliki dampak kuat terhadap masyarakat, menurutnya zaman sekarang tidak akan kekurangan informasi hingga berlimpah ruah. Sehingga peran jurnalisme bukan lagi memberi berita, tetapi juga memberi informasi yang berbeda, memberi perspektif yang kuat, lengkap dengan gambaran utuh. Disiplin jurnalisme juga masih penting dalam memberikan berita berkualitas dalam tiga verifikasi, yakni, mendatangi lapangan, wawancara dan mengolah data katanya.

Jurnalisme itu lebih cocok pada media cetak atau digital?

“Tergantung zaman, jika sekarang lebih baik digital tentu. Cetak memang akan bertahan skala jangkauan, tapi dampaknya mungkin akan semakin terbatas ya, mungkin akan bagus di komunitas komunitas. Tapi untuk hari ini, besok atau setelahnya, lebih baik digital memang” ungkapnya

Tanggapannya terhadap media berita yang tidak netral?

“Bandung bergerak itu sejak pertama tidak percaya bahwa jurnalisme itu harus netral. Bagi kami jurnalisme itu harus berpihak, karena netralitas jurnalisme itu sering dipakai untuk pembenaran, tidak memberikan membelaan kepada kelompok kelompok kecil atau sering dipakai sebagai pembenaran untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan penguasa, otoritas yang punya modal dan sebagainya. Bandung Bergerak sejak awal tidak percaya netralitas, jadi kami harus memihak pada kelompok- kelompok kecil, rentan dan sulit mendapatkan akses. Dengan cara ya tekniksnya kita mengadakan rapat mingguan kita akan meliput isu apa, kita akan mewawancarai siapa dan sebagainya. Lalu turunan rinciannya itu ketika Bandung Bergerak memilih keberpihakan itu maka yang kamu wawancarai itu siapa, pemerintah atau warga terdampak gusuran misalnya, yang ditaruh pada paragraf pertama itu siapa, pemerintah yang punya kekuatan atau warga yang kehilangan rumahnya? Nah itu kan ga netral, itu pilihan. BB pasti akan menempatkan warga-warga tergusur, penduduk minoritas itu yang pertama tuh sebagai headline nya. Nah itu pilihan, jadi BB menolak jurnalisme itu netral, mereka harus memihak. Termasuk jika kamu ingin memasukan data dari otoritas atau pemilik modal, itu pilihan, dan itu tidak netral kan? Karena kita redaksi memiliki pilihan untuk meletakkan yang pertama dan yang terakhir” ucapnya

Apakah ruang Jurnalisme masih terbuka luas?

“Kalo secara bisnis berat, maksudnya bisnis media itu berat. Kalian akan membaca dalam 2 atau 3 tahun terakhir banyak media besar yang me-lay off wartawan atau jurnalis sebagainya. Di luar negeri juga sama, jadi bisnis media itu semakin sulit akan tergeser beberapa hal, seperti kehadiran media sosial dan sebagainya, artinya media jurnalisme itu bukan lagi satu-satunya yang menghasilkan berita.

Setiap orang juga sekarang bisa membuat berita, dan juga satu orang sekarang pengikutnya bisa jutaan, media biasanya ribuan, artinya satu orang itu lebih berperangaruh atau berdampak. Tapi secara ilmu dan keterampilan mewawancarai, mencari data, mengolah cerita, itu masih penting. Artinya, tidak ada ruginya belajar jurnalisme, karena meskipun secara karir betul semakin sulit tapi secara ilmunya kamu akan mendapatkan banyak hal karena kamu diajari pergi ke lapangan bertemu banyak orang, membaca data, bahkan menulis, belajar banyak hal. Dan nanti mungkin relevansinya tidak akan selalu di jurnalisme. Kamu belajar jurnalisme iya, tapi mungkin karirmu menjadi dosen. Kalo wawancara bertemu orang juga kan artinya memperluas jaringan, kenal orang banyak, bisa menolong di satu kesempatan”

Bagaimana kebebasan menulis masih menjadi persoalan?

“Meskipun ada UU ITE, ada yang dituntut juga, tetapi kita harus percaya pada kebebasan berpendapat dan menulis” Pungkasnya.

Pertemuan Delapena dengan pemimpin Redaksi Bandung Bergerak tidak semata untuk wawancara saja, tetapi kami menikmati kunjungan yang disediakan dengan baik dan juga belajar dengan kawan kawan yang sedang bekerja di sana. Jawaban dari Pak Joko juga menjadi tolak ukur baru bagi kami yang berkegiatan di Pers Pelajar dalam memandang jurnalisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *