
Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu : “berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi ke lapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Mujadilah : 11)
Setiap tanggal 17 Mei disepakati sebagai Hari Buku Nasional (HBN), kesepakatan itu berdasarkan pada keputusan mantan menteri pendidikan kabinet gotong royong Malik Fajar pada tahun 2002 yang mecanangkan HBN untuk pertamakalinya. Adapun rujukan HBN bersandar pada berdirinya perpustakaan nasional Repubik Indonesia, yakni 17 Mei 1980. Embrio Perpusnas sendiri sebenarnya jauh lebih tua dari itu, ketika pada tahun 1778 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, sebuah lembaga kajian yang berfokus pada perkembangan seni dan sains di Batavia (Jakarta), yang menjadi cikal bakal hadirnya perpustakaan nasional. Sedangkan tujuan HBN sendiri pada dasarnya adalah untuk meningkatkan budaya literasi pada masyarakat luas dengan buku sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Kumpulan aksara yang terangkum dan terkumpul dalam sebuah bacaan atau buku dapat membuka cakrawala perihal awal peradaban manusia, alam semesta, laut, bumi atau apapun itu dapat diketahui dengan membaca buku. Buku tidak hanya mampu menjembatani antar peradaban tetapi juga bisa membuat manusia menjadi mahluk beradab. Begitupun sebaliknya buku juga yang bisa membuat manusia menjadi biadab
Kekuatan bacaan sangat berpengaruh kepada setiap orang dalam bertindak dan berperilaku. kita ingat misalnya bagaimana Nelson Mandela mantan presiden Afrika Selatan menulis buku otobiografinya berjudul : Long Walk to Freedom (Jalan Panjang Menuju Kebebasan), buku tersebut menggambarkan bagaimana perjuangannya melawan kebijakan politik Apartheid yang sangat diskriminatif karena membedakan manusia berdasarkan warna kulit atau ras nya. Dengan buku itu juga dunia seperti tertampar dan upaya menghapus politik Apartheid menggema kesegenap penjuru bumi, untuk memperlakukan manusia itu sama, setara dan sederajat. Tetapi disisi lain kita juga membaca sejarah bagaimana seorang Adolf Hitler pemimpin Jerman waktu itu mengaku sangat terpengaruh oleh buku Il Princes (sang pangeran) karya Niccolo Machiavelli dalam menjalankan kebijakan-kebijakan politik fasisme yang offensif, untuk akhirnya Hitler sendiri menulis buku berjudul Mein Keimpt (Perjuanganku) yang diakui dunia sebagai salah satu buku berbahaya dan menjadi rujukan para pemimpin tiran dan diktator
Sejak awal sebenarnya islam sangat konsens dan peduli dengan budaya baca, perintah membaca diturunkan sebagai ayat pertama yang di sampaikan Alloh SWT kepada Nabi Muhammad “Iqro Bismirobika lazdi Holaq”sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Alaq : 1, karena dengan membaca kita akan mengetahui segala ilmu, dan dengan ilmu kita dapat lurus dalam mengerjakan setiap amalan. Dalam perkembangan ilmu pengetahuanpun, bisa jadi islam sebagai titik pijak karena banyak sekali ilmuwan-ilmuwan muslim yang mempelopori berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sebagai contoh bagaimana Ibnu Sina sebagai peletak dasar ilmu farmasi dan kedokteran, kita juga mengenal Al khawarizmi sebagai penemu ilmu matematika, Ibnu Khaldun penulis buku Muqadimmah yang diakui sebagai referensi utama dalam melaksanakan kehidupan sosial dan politik secara santun dan beradab, dst. Karya – karya ilmuwan muslim yang sangat luar biasa itu di klaim bahkan seringkali diplagiasi oleh pihak barat sebagai hasil dari pemikiran ilmuwan baratBuku-buku yang dihasilkan oleh para pemikir muslim merupakan karya-karya masterpiece yang diakui dunia dengan ketebalan buku yang luar biasa. Semisal bagaimana Imam Al Ghazali menulis kitab “Ihya Ulumuddin” hampir 11 jilid dengan ketebalan per jilid antara 800-1000 halaman. Ketekunan ilmuwan-ilmuwan muslim ini sangat mengagumkan dan sulit dibayangkan. Bagaimana misalnya Al-Murzabani yang meninggal dunia tahun 1000, menulis hampir 37.850 halaman, Ibnu Hizm yang berasal dari Spanyol menulis 400 jilid buku dengan lebih dari 80.000 hal
Dalam realitas sekarang kaum muslimin banyak mengalami kemunduran, sekarang banyak hal-hal yang diciptakan oleh pemikir barat yang notabene non muslim menjadi konsumsi umat islam. Akibat kemunduran dalam tradisi baca dan tulis akhirnya umat islam hanya sebagai pengikut, tidak lagi sebagai pionir dan pelopor dalam ilmu pengetahuan. Dengan banyaknya rujukan ilmuwan muslim yang sangat mengagumkan itu, seharusnya tradisi baca dan tulis itu menjadi kebutuhan umat islam apalagi jelas perintahnya bersumber dari Al-quran dan Hadist. Al quran sebagai kitab yang memerintahkan manusia untuk membaca dan menulis kiranya dapat menular kepada kita selaku generasi sekarang Mari kita membangun lagi kebiasaan membaca dan menulis untuk memperluas pengetahuan dan kebajikan kita selaku umat islam. Sebagaimana hadist Rasullulah “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” tentunya akan terus relevan dalam mengingatkan bahwa memori otak manusia menyimpan pengetahuan itu sangatlah terbatas, maka menuliskannya bagian dari memperpanjang ingatan tersebut. Sedangkan Allah SWT juga menegaskan dalam surat Al -Mujadalah : 11 diatas, bahwa akan meninggikan beberapa derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Jadi tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak mencintai ilmu, dan buku merupakan salah satu lautan ilmu tersebut.Selamat Hari Buku
