Hari Buku Nasional, Menurut Guru

Foto: Reporter Delapena sedang mewawancarai Bu Cartika Guru Ekonomi SMA Pasundan 8 (Sumber foto: Kanaya & Nabila)

Setiap tanggal 17 Mei dikenal dengan Hari Buku Nasional (Habuknas), yang bertepatan juga dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada tahun 1980, selain itu di tanggal yang sama juga terbentuknya Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) sebuah lembaga yang menjadi wadah penerbitan buku pada tahun 1950. Terkait dengan merayakan hari buku nasional itu juga, kami melakukan liputan kecil dengan mensurvei kepada beberapa orang guru di SMA Pasundan 8 Bandung tentang topik hari buku ini. Survei yang kami lakukan tidak bisa menggambarkan pandangan umum dari keseluruhan guru yang ada di sekolah Pasundan 8 karena kami juga melakukannya dengan cara acak. Artinya sample yang kami jadikan responden dalam survei ini adalah guru-guru yang kami temui aja, baik itu secara kedekatan ataupun disaat waku senggang dalam mengajar. Secara umum hampir setiap guru mendukung untuk meningkatkan minat membaca buku dikalangan siswa, dengan alasan bahwa buku sekarang semakin ditinggalkan karena adanya perkembangan zaman yang melejit secara cepat dan perkembangan teknologi yang semakin maju. Seringkali membuat siswa menjadi terlena untuk belajar dan berpikir secara bertahap dan terus menerus. Kekhawatiran tentang siswa yang semakin berfokus untuk mengejar hasil akhir bukan pada prosesnya, semakin dirasakan dengan sarana dan prasarana yang serba instan. Hal ini seakan dibenarkan oleh salah satu Guru Bahasa Jepang, Ibu Ririn : “Pengaruh AI (artificial intelegence) dan teknologi juga dapat berpengaruh karena ketidaksiapaan remaja untuk menyaring informasi yang di dapat. Literasi justru harus dibangun dari lingkungan luar ataupun keluarga dan membentuk kebiasaan” Ucapnya, tak kala kami lontarkan pertanyaan mengenai pentingnya membaca buku.

Kecanggihan media sosial untuk memuat informasi memang sudah banyak digunakan dari berbagai kalangan, dari yang muda hingga tua. Tetapi sumber yang tertera belum tentu benar dan akurat, karena media sosial merupakan medan terbuka yang siapa saja bisa bermain. Entah itu permainan yang sehat dan sportif atau sebuah permainan yang dimainkan secara merusak yang semuanya tidak bisa dipertanggungjawabkan, baik secara sumber dan kebenarannya. Maka dari itu menurut Ibu Cartika yang mengajar ekonomi mengatakan : “keberadaan telpon genggam sebenarnya memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu, tetapi akan lebih baik jika itu berasal dari buku “. Saat kami temui disela waktunya. Artinya apa yang diucapkan itu merujuk pada keberadaan buku sebagai sumber ilmu yang sudah teruji dan dapat dipertanggungjawabkan.    

Kesadaran bahwa buku sebagai sumber ilmu itu belum sepenuhnya tersebar dikalangan pelajar. Sebagai tolak ukurnya adalah bagaimana pelajar kita belum bisa memprioritaskan buku sebagai kebutuhannya, kondisi yang berbeda apabila dibandingkan dengan pelajar di negara lain. Meskipun data peringkat kemampuan literasi Indonesia kini mulai mengalami kenaikan sekitar 5-6 posisi dibandingkan tahun 2018 dalam statistik hasil studi PISA 2022 sebagaimana dilansir website resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, masih jarang sekali pelajar ataupun masyarakat yang memiliki kesukaan membaca buku, kecuali seorang yang memang diharuskan membaca buku untuk bidangnya

Untuk menggali lebih dalam terkait solusi mengenai minat buku, kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada para guru. Salah satu yang kami hubungi adalah guru PPKn Ibu Ajeng yang menyatakan: “Penghambat literasi itu biasanya bahasa buku yang baku dan monoton, buku novel bisa menjadi bacaan awal yang bagus karena bahasanya lebih menarik. Lalu masyarakat Indonesia lebih suka mendengar melihat dari orang lain dibandingkan membaca sendiri. Sedangkan untuk harga buku dipasaran bisa menjadi faktornya karena harganya mahal, tapi membajak buku bukan solusi yang tepat, karena bisa merugikan penulis” ucapnya saat kami wawancarai di jam senggangnya. Terkait dengan harga buku memang seringkali menjadi dilema, pada satu sisi masyarakat ingin meningkatkan pengetahuannya dengan membaca buku, tetapi pada aspek lain bukunya tidak bisa dibeli dikarenakan harganya relatif mahal. Sehingga tidak jarang  buku-buku yang dibutuhkan dan diminati publik itu seringkali menjadi objek bajakan untuk memenuhi permintaan konsumen yang berkantung tipis.     

Setelah melakukan wawancara dengan beberapa nara sumber, kami dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya minat literasi dikalangan masyarakat Indonesia itu terkait dengan beberapa faktor. Selain dari keinginan individu, ada juga faktor dari pemerintah yang seharusnya aktif dan mendorong berbagai kegiatan yang terkait dengan buku dan literasi. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah haruslah mempermudah masyarakat dalam mengakses berbagai sumber ilmu dan pengetahuan. Sarana dan prasarana yang menunjang tumbuh kembangnya minat baca juga haruslah diperhatikan sehingga tercipta iklim yang kondusif dalam mewujudkan pelajar ataupun masyarakat luas yang akrab dan berinteraksi dengan buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *