
Dalam dunia pendidikan pasti ada penilaian yang diberikan oleh guru kepada anak-anak didiknya, penilaiannya tentu dengan berbagai pertimbangan. Sebagai salah satu tahapan dalam penilaian itu ada yang dinamakan PTS (penilaian tengah semester), namun seberapa penting pelaksanaan PTS itu dalam menilai secara keseluruhan peserta didiknya? apakah memungkin dalam kegiatan belajar mengajar yang waktunya relatif pendek itu dapat memberikan penilaian kepada siswa secara menyeluruh? Tidak bisakah PTS yang dilaksanakan secara serentak itu diganti dengan penilaian yang sifat keseharian? Untuk mengetahui lebih jauhnya terkait dengan pelaksanaan PTS, Jurnalis Delapena (Kayla Febriani dan Zahra Dwi) berhasil mewawancarai Denny Muljana Rachmat, S.Sos salah seorang guru yang juga sebagai staf kurikulum di SMA Pasundan 8 Bandung, berikut petikan wawancaranya :
Menurut Bapak manfaat PTS itu apa sih?
“Manfaat PTS itu untuk mengetahui kompetensi atau kemampuan siswa dari apa yang sudah diberikan oleh guru berupa materi, dan siswa bisa sejauh mana menguasai tentang materi yang telah diterimanya, yang sebelumnya sudah disampaikan oleh guru. Itu untuk PTS ya. PTS itu kan Penilaian Tengah Semester, ada juga yang menyebutnya Penilaian Sumatif Tengah Semester, itu hanya istilah-istilah aja.”
Apa bisa mengukur nilai anak dalam waktu yang relatif pendek ini? jadi seperti baru masuk sudah langsung PTS gitu. Terutama untuk kelas X yang baru berapa bulan,belum lagi kalau ada acara diluar jam belajar.
“Ya. Kan itu ada tahapan-tahapannya. Sebelum PTS kan ada assesment diagnostik. Nah, itu untuk mengetahui perbedaan-perbedaan, contoh misalnya gaya belajar siswa, pola belajar siswa nanti diketahui di assesmen diagnostik kan sudah disampaikan ya assesmen diagnostik oleh semua guru. Yang kedua, sebelum PTS itu ada assesmen formatif. Pekan ini mengadakan penilaian harian atau asesmen formatif ya, selanjutnya pelaksanaan PTS atau Penilaian Tengah Semesternya. Jujur saja kalau bapa gak bisa gercep, gerak cepat gitu. Soalnya itu ada tahapan-tahapannya: Yang harus saya nilai misalnya tentang ulangan harian. Nanti mungkin ada lagi nilai keterampilannya bisa berupa presentasi, atau buat laporannya berupa infografis, bikin poster, atau bisa artikel. Itu kan harus dinilai juga. Terus yang lainnya mungkin ada pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam memberikan penilaiannya. Bagi saya bisa-bisa saja sih diukur dengan singkat ya, dalam waktu yang relatif singkat. Bisa aja.
Tapi menurut Bapak hal ini tuh efektif gak sih buat siswa-siswi?
Nah itu tadi, kan tergantung hasil diagnostiknya. Diagnostik itu kan nanti kita bisa mengetahui nih siswa itu ada klasifikasinya. Klasifikasinya itu kan ada yang dikategorikan biasa-biasa saja, ada yang dikategorikan pintar atau mampu. Kalau dilihat dari efektif atau tidak efektifnya, ya tergantung guru mata pelajarannya masing-masing sih. Tapi kalaupun saya tidak bisa gercep, itu bisa diusahakan kalau memang menjadi tuntutan untuk bisa menilai dengan cepat dan tepat. Bukan sekadar cepat, tapi tepat, karena sudah ada dasarnya tadi dari diagnostik, formatif, baru ke sumatif.”
Apa memungkinkan PTS ditiadakan atau diganti semisalnya dengan tugas-tugas dari setiap mapelnya?
“Kalau memang itu ada regulasinya, ada peraturannya, bisa saja. Jadi tidak mesti PTS, maksudnya ada kegiatan-kegiatan tertentu yang bisa menggantikan PTS itu sendiri. Dalam arti PTS ini kan yang tadinya diberikan soal ya, soal misalnya baik esai maupun pilihan ganda. Nah bisa saja digantikan oleh kegiatan-kegiatan tertentu yang memang kalau ada regulasinya, ada aturannya. Nah kalau ingin lebih afdolnya bisa nanti ditanyakan ke Wakasek Urusan Kurikulum yah atau ke staf lainnya.”
Kalau untuk di SMA Pasundan 8 sendiri ini kenapa memilih untuk mengadakan PTS?
“Karena mungkin juga disesuaikan dengan karakter dan budaya sekolahnya, bisa saja. Atau ada pertimbangan lain dari pihak manajemen. Mungkin di SMA Pasundan 8 masih relevan diadakan PTS yang seperti ini gitu kan. Mengisi soal, baik PG maupun uraian.”
Kalau harapan bapak untuk pelaksanaan PTS tanggal 15 itu seperti apa?
“Harapan saya sih dari gurunya ya, dari gurunya ya sesuai dengan apa yang diharapkan ya oleh masyarakat dan oleh sekolah, ya harus lebih bisa lagi meningkatkan misalnya: kualitas dan kemampuan dirinya, terus tertiblah ya dalam arti patuh terhadap aturan yang ada di sekolah, untuk gurunya. Untuk siswanya juga diharapkan aktif karena sehebat apapun guru kalau tidak mendapat respon positif dari siswa kayaknya tidak akan bisa tercapai maksud dan tujuannya, gitu. Khususnya di kegiatan PTS nanti. Begitu kalau menurut saya, lebih kurangnya sih mohon maaf apabila yang disampaikan oleh saya tidak sebagus seperti guru lain kalau diwawancara.”
Kalau misalkan PTS ini benar-benar tidak dilaksanakan, kayak pure nilai rapot murid itu diambil dari nilai harian aja atau bagaimana?
“Ya kan gini ya. Dalam pendidikan itu kan ada yang namanya kognitif ya, kognitif, psikomotor, dan afektif. Nah, walaupun ketiga ranah itu berbeda—ada kognitif, ada psikomotor, ada afektif—nah itu tentunya bisa saling berkaitan nantinya. Gitu, kalau pure misalnya tidak dilaksanakan, ada yang relevan untuk menggantikannya dengan kegiatan apa, bisa saja. Tapi saya di sini tidak bisa menyebutkan yah.”
