
Dipenghujung bulan, tepatnya di tanggal 28 Januari sampai 1 Februari 2026 kemarin diadakan acara “Ngalap Ajip” dengan tagline Menggali Jejak dan Warisan Ajip Rosidi. Acara ini memang untuk memperingati akan sosok sastrawan sekaligus budayawan Ajip Rosidi yang dilaksanakan di perpustakaan Ajip Rosidi, Jl. Garut no. 2 Bandung. Kegiatannya meliputi diskusi, musikalisasi puisi, pembacaan Cerpen, Bazzar buku, lapakan kuliner, hingga koleksi barang antik lainnya disela-sela panggung acara.
Kami dari Pers Pelajar Delapena berkesempatan untuk mengisi dua slot acara yang sudah dirancang panitia, yakni musikalisasi puisi dan pembacaan cerpen dari karya Ajip Rosidi. Ketika hari Jum’at (30/1/2026) kami datang ke tempat acara, sambutan hangat dari kawan-kawan panitia dan lainnya seakan memberi semangat dan keakraban diantara kami. Dalam musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Arya Anggaraksa, Jeihan Amadea, Kayla Febriani dan saya sendiri sebagai perwakilan Delapena yang juga diiringi oleh petikan gitar Adhitya Narayan sebagai musisi. Ada sekitar delapan puisi yang kami bacakan secara bergantian dengan iringan senandung musik tenang dihadapan para mahasiswa, pelajar, aktivis dan pengunjung lainnya.

Sedangkan puisi yang kami bacakan diambil dari buku “Ketemu di Jalan” terbitan Pustaka Jaya yang ditulis oleh tiga orang penyair : Ajip Rosidi, Sobron Aidit dan S.M. Ardan. Puisi berjudul “Di Bawah Bulan” & “Catatan 1; di Cibeureum” dibacakan oleh Arya, lalu “Catatan 2; di Cibolèrang” & “Tanpa” oleh Jeihan. Selanjutnya Puisi “Malam Bening” & “Cikiniraya” oleh Kayla hingga yang terakhir puisi “Tentang Sajak” & “Surat” oleh saya. Sesaat sesudah selesai membacakan puisi, pengunjung banyak yang mengapresiasi kami yang merasa masih pemula jika dibandingkan dengan yang lain. Tidak kalah seru ketika kami juga mengunjungi berbagai stand-stand yang menjual koleksi dan buku-buku untuk sekedar melihat dan membelinya.
Tentang sosok Ajip Rosidi sendiri memang kami belum begitu mengenalnya dibanding misalnya Pramoedya Ananta Toer dengan novelnya Bumi Manusia yang sempat menjadi film, untuk itu saya berkesempatan untuk mewawancarai ketua pelaksana acara “Ngalap Ajip” yakni kang Hafidz Azhar:

Mengapa sosok Ajip Rosidi itu perlu diperingati?
“Karena bulan Januari, momen perayaan Ajip Rosidi. Mestinya di Bulan Januari itu di peringati momen Ajip. Beliau itu sastrawan sekaligus budayawan yang karyanya sudah banyak dan mengembangkan secara pemikiran dan material. Orang orang di sini itu bukan hanya orang yang consent terhadap sastra dan budaya, tapi juga ada yang bergiat di seni, literasi. Acara ini semacam penghormatan terhadap Ajip Rosidi yang sudah menyumbangkan manfaat dari karya-karyanya” ujarnya.
“semua komunitas diundang sebenarnya, dari masyarakat hingga akademisi, semua boleh datang ke sini. Karena Ajip ini tidak terlepas dari budaya daerah, tapi beliau ruang lingkupnya tidak kecil, tetapi nasional, dari karya karyanya. Tapi anak muda sekarang kayaknya jarang yang mengenal” ucap kang Hafidz.
Lebih lanjut kang Hafidz juga berharap dengan adanya acara “Ngalap Ajip” ini akan membuat masyarakat umum termasuk pelajar bisa lebih mengenal sosok sastrawan tersebut dan juga melaksanakan apa yang sudah diikhtiarkan Ajip, ia mengaku masih banyak yang belum bisa digelar dari eksistensi beliau yang begitu besar.

Selain itu kami juga sempat berkeliling melihat pameran foto-foto tentang rekam perjalanan sosok Ajip Rosidi ketika masih muda sampai hayatnya.
Menyusul pada hari Minggu (1/2/2026) kami dari Delapena juga menghadiri puncak acara Ngalap Ajip ini untuk mengisi satu sesi lagi yaitu pembacaan cerita pendek atau cerpen. Pembacaan cerpen dipindahkan kedalam ruangan karena cuaca hujan deras, didalam ruangan suara kami terasa lebih kuat dan lantang. Diawali pembacaan cerpen oleh Arya dengan judul “Seorang Jepang” disusul dengan pembacaan Jeihan yakni “Hari Ini Aku Punya” kemudian saya membacakan cerpen berjudul “Di Tengah Keluarga” yang merupakan judul yang sama dengan bukunya. Sekaligus menutup penampilan Delapena pada acara itu.

