
Sebagai manusia, amarah pada dasarnya merupakan emosi alami yang muncul sebagai respons kita terhadap berbagai situasi yang mengancam, menyinggung, maupun membuat kita merasa tidak nyaman dan aman. Kondisi ini normal dan sangatlah manusiawi, bahkan kita membutuhkannya untuk kondisi kesehatan mental kita. Namun, ketika amarah tersebut tidak dikelola secara tepat, amarah akan berkembang dengan menjadi anger issues atau masalah kemarahan.
Orang yang mengalami masalah kemarahan akan kesulitan dalam mengendalikan emosi mereka sendiri secara terkontrol dan sehat. Terkadang orang yang mengalaminya kondisi ini sering kali meluapkan reaksi amarahnya secara berlebihan dan diluar kendali. Padahal, mungkin saja penyebab timbulnya amarah tersebut hanya karena hal-hal kecil dan sepele dan seharusnya tidak menimbulkan kemarahan yang berlebihan. Hal ini biasanya tidak hanya mempengaruhi kondisi emosional individu, tetapi juga sosial dan lingkungan sekitarnya.
Lalu, apa penyebab seseorang mempunyai anger issues? Banyak sekali faktor-faktor yangmembuat seseorang menjadi memiliki masalah kemarahan, beberapa diantaranya adalah:
Penanganan Emosi
Tidak diajari bagaimana cara menangani emosi pada saat kita berada difase anak-anak, kita masih belum bisa mengekspresikan emosi yang sedang dialami. Saat masih anak-anak sering kali kita meluapkan emosi dengan cara menangis atau memendam perasaan saja. Sering kali orang tua tidak mengajarkan kepada anaknya bagaimana cara menangani perasaan yang dialami anaknya dan mereka selalu terburu-buru mengalihkan perhatian dan melupakan perasaan anaknya secara cepat atau bahkan malah memarahi anaknya. Hal ini membuat kita seperti bom waktu, saat sudah dewasa kita meluapkan segala masalah perasaan yang dulu belum terselesaikan.
Pengaruh lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga yang dipenuhi oleh amarah dan kekerasan, akan membawa pengaruh besar kepada seseorang untuk menyelesaikan sebuah masalah atau konflik. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini akan selalu melakukan hal-hal yang dia lihat pada saat dia berada di dalam rumah. Contohnya, setiap hari dia melihat kedua orangtuanya bertengkar dan saling memaki satu sama lain bahkan melakukan kekerasan, dia akan melakukan hal yang sama kepada orang lain atau temannya karena dia sudah mengganggap hal itu adalah hal biasa dan wajar untuk dilakukan kepada siapapun ketika dia berinteraksi.
Stres yang berkelanjutan
Ketika seseorang mengalami stres yang tinggi dan berkelanjutan dapat memicu masalah kemarahan, karena dia kesulitan dalam menanggapi tekanan yang dia rasakan. Kesulitan dalam menanggapi tekanan dapat menyebabkan seseorang bereaksi marah berlebihan sebagai bentuk melepaskan bebannya.
Diabaikan atau tidak dipedulikan
Diabaikan dan tidak dipedulikan oleh orang-orang disekitar dapat menjadi pemicu kita menjadi marah. Contohnya pada saat seseorang membutuhkan dukungan dan cinta dari orang terdekat seperti keluarga maupun sahabat, justru yang didapatkan hanyalah pengabaian saja. Hal tersebut membuat perasaan amarah meningkat karena ekspektasi tak sesuai dengan realitanya.
Rasa cemas
Rasa cemas yang timbul dapat menyebabkan seseorang sulit mengontrol emosi karena pikiran mereka sedang kacau. Orang yang cemas seringkali berpikir negatif akan suatu hal yang belum benar-benar akan terjadi. Akibatnya, ketika sesuatu terjadi dia akan meluapkan segala emosinya. Kemarahan juga dapat ditunjukkan dengan cara yang berbeda-beda dengan tingkat intensitas yang berbeda pula. Berikut adalah beberapa jenis-jenis amarah yang diluapkan:
- Kemarahan Batin
Jenis kemarahan ini mengarah kepada diri sendiri dan mencakup pikiran-pikiran gelap dan ucapan negatif kepada diri sendiri. Kemarahan batin juga ditunjukkan ketika seseorang menolak hal-hal yang ia sukai atau butuhkan sebagai bentuk hukuman.
- Kemarahan yang ditunjukan
Kemarahan ini diluapkan dengan cara menunjukkan aksi fisik, contohnya melempar barang barang, memukul orang lain, dan berteriak.
- Kemarahan pasif
Perilaku ini mencakup tindakan yang sarkastik, merendahkan orang lain, mengabaikan orang lain, dan merajuk. Masalah kemarahan tidak hanya berdampak pada kondisi emosional individu saja, tetapi memengaruhi berbagai aspek-aspek kehidupan lainnya. Dari sisi psikologis, anger issues sering dikaitkan dengan meningkatnya gangguan kecemasan, stres, bahkan depresi. Seseorang yang mengalami anger issues akan cenderung mengalami perasaan bersalah dan frustasi setelah meluapkan apa yang dirasakannya, dan berujung turunnya kepercayaan diri dan kesehatan mental.
Dampak anger issues juga sangat berdampak dalam kehidupan sosial. Seseorang dengan masalah kemarahan sering mengalami kesulitan dalam menjalin atau mempertahankan hubungan yang sehat dan damai. Reaksi amarah yang berlebihan dapat memicu konflik dengan orang-orang yang terdekat, seperti keluarga dan sahabat. Dalam jangka panjangnya, kondisi ini dapat memicu penolakan sosial dan menurunnya kualitas komunikasi. Orang-orang sekitar akan merasa takut dan tidak nyaman ketika berinteraksi dengan orang yang memiliki masalah emosi yang tidak stabil. Anger issues juga bisa berpengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang. Rasa emosi yang berlebihan dapat memicu peningkatan detak jantung dan tekanan darah. Bila kondisi ini terjadi secara terus menerus, dia berisiko mengalami gangguan tidur, sakit kepala, dan fisik yang lelah. Stres akibat anger issues yang tidak dikelola juga dapat menurunkan daya tahan tubuh dan kualitas hidup.
Masalah kemarahan ini merupakan kondisi yang dapat dialami oleh siapa saja apabila amarahnya tidak dikelola dengan baik. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh lingkungan sosial. Dukungan dari lingkungan dan kesadaran untuk mencari bantuan profesional juga menjadi langkah penting dalam mengatasi masalah ini, sehingga individu dapat menjalankan kehidupan yang seimbang dan damai
