
Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno yang memiliki bentuk perjuangan dan pergerakannya dibeberapa tempat termasuk Bandung hingga namanya begitu tersohor dengan jiwa kepemimpinanya dan banyak mendapat dukungan kepercayaan kala itu. Tetapi catatan ikonik dalam Buku “Catatan Seorang Demonstan” oleh Soe Hok Gie dikatakan bahwa ia menghargai Soekarno sebagai pemimpin bukan pribadinya, menjadi pertimbangan pula memisahkan peran Soekarno sebagai pemimpin dan personal pribadinya. Diluar itu, Bandung adalah tempat yang cocok untuk disebut sebagai pergerakan awal Soekarno yang juga ditemani istrinya, Inggit Garnasih, melawan penjajahan kolonial Belanda. Dan beginilah kisah perjalanan sang Proklamator itu di Bandung:
Dari Penjara Ke Penjara
Masuknya ke penjara sudah menjadi bagian perjalanan hidup Soekarno sebagai pejuang
kemerdekaan. Penjeblosan beliau ke Penjara Banceuy menjadi sebuah peringatan pertama Soekarno untuk membebaskan bangsa Indonesia dari pemerintahan kolonial Belanda. Sebagian hidupnya di isi dari penjara ke penjara, hal senasib tentu dialami juga oleh kawan kawan pergerakannya.
Pada hari Senin (21/12/25), kami
berkesempatan mewawancarai Pak Ahmad sebagai pemelihara situs monumen Penjara
Banceuy. Ia mengakui sudah bekerja disini sejak tahun 1983 sedangkan penjara ini baru dijadikan ruko pada tahun 1986. Tempat ini awalnya didirikan dengan dua sel di abad 19, yang satu untuk tahanan politik dan lainnya untuk tahanan pepetek (istilah untuk membedakan tahanan rakyat biasa dengan tahanan politik) sekarang tahanan pepetek dipindahkan ke Jl. Soekarno Hatta.

“Bung karno dipenjara disini karena beliau
mendirikan perserikatan anak anak bangsa Indonesia. Kalo di zaman sekarang biasanya disebut ketua BEM. Waktu itu beliau mengkritisi pemerintahan Belanda, dari pihak Belanda ketakutan terhadap pemberontakan. Makanya beliau ditangkap di Yogyakarta, dijebloskan ke sel ini selama satu tahun tanpa pengadilan. Menjalankan proses pengadilan di Gedung Indonesia Menggugat, beliau lalu dipindahkan ke Sukamiskin. Di Sukamiskin hanya menjalankan 1 tahun”. Ungkapnya kepada Reporter Delapena saat kami
menanyakan dalam perkara apa Soekarno dijebloskan ke Penjara Banceuy

Pak Ahmad mengerti dengan kepribadian Soekarno yang berjiwa pemimpin, ia menggambarkan sang Proklamator berjiwa batu. Dalam perjalanannya dari awal penangkapan di Tahun 1929 hingga proklamasi membutuhkan waktu yang begitu lama hingga 16 tahun. Dengan mental tidak seperti batu, ia akan menerima fasilitas Belanda dengan senang hati dan tidak memikirkan kemerdekaan bangsanya.
“Iya, makanya PNI tempat perkumpulannya para intelektual, pemuda pemudi di seluruh Indonesia, bertempatnya di rumah Inggit Garnasih. Lama kemudian perkumpulan beliau tercium oleh pihak intelejen Belanda, perkumpulan beliau dianggap membahayakan pemerintahan Belanda, di undang ke Yogyakarta, dan ditangkap. Disana sudah disediakan tentara Belanda, sedang mempropagandakan PNI disana, langsung beliau ditangkap. Dan Inggit Garnasih dibawa ke Bandung, dinaikkan kereta api, turun di Cicalengka, dari sana dinaikkan mobil menuju Penjara Banceuy. Ini saksi bisu pergerakan awal, beliau menderita disini” Katanya saat kami tanyai mengenai sikap Bu Inggit yang selalu menemani Soekarno
Sebagai pemelihara, Pak Ahmad
menginginkan pemimpin publik saat ini menyadari pentingnya sejarah perebutan
kekuasaan Indonesia dari tangan Hindia Belanda. “seharusnya ini difasilitasi yang layak. Untuk memajukan bangsa, jangan
melupakan jas merah (jangan sekali kali melupakan sejarah). Bangsa ini awalnya dari sejarah, kalo kita melupakan sejarah, pemimpin negeri ini juga acak acakan” katanya. Lebih lanjut Pak Ahmad menyebut bahwa saat ini makna sejarah telah hilang dengan pergantian mata pelajaran PMP menjadi PPKN. Berharapnya pelajar saat ini tidak pernah melupakan perjuangan para pahlawan penghapus penjajahan
Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat atau pengadilan Landraad ini pada 18 Agustus sampai 22 Desember 1930 menjadi tempat persidangan Soekarno dan kawan-kawannya atas tuduhan memberontak dari pemerintah Hindia Belanda. Ia membawa Pidato yang dikenal dengan Indonesia Menggugat sebagai bentuk pledoi pembelaan ketika orang didakwa — dengan mengutarakan pendapat untuk membela dirinya sendiri. Disamping pembelaannya, sang Proklamator lebih condong menyerang ke sistem pemerintah Hindia Belanda, maka dari itu terdapat ideologi yang dibawanya pada saat pledoi Indonesia Menggugat dibacakan yaitu Marhaenisme.
Pada hari Senin (5/1/2026) kami berkesempatan mewawancarai bapak Dede Ahmad sebagai pemandu dari Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

kami mengawalinya dengan menanyakan, bagaimana sebenarnya perkara Soekarno itu sehingga beliau dibawa untuk diadili? “Perkara yang dituduhkan oleh Hindia Belanda atas Bung Karno, jadi dulu Bung Karno salah satu tokoh partai politik PNI (Partai Nasional Indonesia) dimana waktu itu ia merancang dan merintis kemerdekaan. Melalui berbagai aktifitas rapat-rapat, pidato, menulis dalam memperjuangkan harkat dan martabat bangsa untuk kemerdekaan bangsa indonesia. Dimana waktu itu Hindia Belanda menuduh Soekarno melakukan makar kepada Hindia Belanda. Maka ditangkaplah atas tuduhan makar itu sendiri”. katanya lalu oleh Hindia Belanda dituntut dengan pasal-pasal 153, 151 dan 163 tentang pemberontakan kepada pemerintah, tentang pengasutan kepada masyarakat lokal untuk berani melawan kepada Hindia Belanda. Disanalah Bung Karno ditangkap dan diadili di bangunan ini” sambungnya pada kami
Bangunan ini dulunya memang tidak dirancang untuk menjadi tempat pengadilan, namun merupakan rumah hunian dari pengusaha Belanda yang bernama Van Der Wijck yang dibangun pada 1903. Hingga saat ini, GIM sudah terkenal dikalangan masyarakat seperti pelajar dan Mahasiswa, diantaranya untuk membuat naskah atau video vlog tentang historikal Gedung Indonesia Menggugat dan tereksplorisasi oleh kalangan awam.“
Nah jadi dulu itu ketika jalannya kemerdekaan atau pra kemerdekaan tahun 1930 ada 4 tokoh anak muda yang tergolong dalam suatu partai politik, diantaranya ada Sukarno, Gatot, Maskoen dan Supradinata. Jadi 4 tokoh anak muda itu yang dipersidangkan. dijatuhi vonis berbeda. Soekarno dijatuhi 4 tahun penjara, sedangkan Gatot, Maskoen dan Supradinata itu ada yang duatahun, ada yang satu tahun 8 bulan dan ada yang 1 tahun 3 bulan. Jadi tidak sama” Katanya saat kami menanyakan terkait siapa saja yang pernah di adili ditempat ini.
Dan bahwa isi dari naskah Indonesia Menggugat yang sudah terkenal itu memiliki sebuah simbol perlawanan, “Salah satu dari pledoi Bung Karno itu ada yang namanya Marhaenisme. Jadi itu salah satu ideologi yang dicantumkan Bung Karno kedalam pledoi Indonesia Menggugat. Jadi Marhaenisme itu terinspirasi oleh salah seorang petani lokal bernama (Marhaen) yang dihampirinya. Lalu menceritakan tentang nasibnya yang serba kekurangan, mendengar jawaban itu, lalu Soekarno mencium adanya penjelewengan dan pemerasan terhadap rakyat kecil, yang terwakili oleh kalangan Marhaen itu.. Disitulah Soekarno membuat ideologi bernama Marhaenisme dan memperjuangkan di pledoi Indonesia menggugat” ungkapnya

Inggit dan Soekarno
Inggit Garnasih, nama yang jarang dikenal namun berjasa besar bagi bangsa Indonesia. Beliau seorang wanita tangguh dengan jiwa keibuan, tegas dan berprinsip sehingga menarik hati Soekarno untuk dipinang. Pada saat kami mendatangi Rumah Bersejarah Inggit Garnasih dan mewawancarai Pak Jajang yang merawat rumah sejarah tersebut:
Kisah cinta Soekarno dan Inggit diabadikan dari awal bertemu hingga mengenalnya: “Dulu, saat Soekarno datang ke Bandung pada 1921 untuk melanjutkan sekolah tinggi disini. Tjokroaminoto mengirimkan surat ke Haji Sanusi sesama pengurus Sarekat Islam yang tinggal di Bandung. Dalam surat tersebut Tjokroaminoto meminta Haji Sanusi untuk mencarikan tempat kos untuk calon menantunya. Karena tidak ada tempat yang cocok, akhirnya Inggit dan Sanusi menerima Soekarno ditempatnya yang ada di daerah Kebon Jati. Puncaknya 1923, mereka ternyata cinlok dan sekaligus menikahlah di tahun itu. Baru 1926 mereka berdua bisa membeli rumah ini — yang sekarang menjadi rumah bersejarah Inggit — jadi mereka menempati rumah ini dalam keadaan rumah panggung (rumah kayu), dan sekaligus memulai pergerakan perlawanan politik secara langsung kepada pemerintah Belanda” kata pak Jajang.
“Mungkin karena mereka satu atap sering berinteraksi, saling menemani dan curhat. Soekarno merasa ia mempunyai calon istri yang masih kekanak kanakan karena pada waktu itu Oetari masih berumur 12 tahun dan Soekarno berumur 20 tahun. Sedangkan Soekarno baru umur segitu sudah memikirkan kebangsaan dan melawan penjajahan, dan kebetulan saat itu juga Inggit ada keretakan dalam rumah tangganya. Puncaknya, entah di bulan berapa, ia pun akhirnya menceraikan dulu Oetari lalu pulang ke Bandung dan melamar Inggit” sambungnya kala itu.
Pak Jajang mengatakan bahwa Perjuangan Inggit dan Soekarno tetap harus dipelajari sekalipun tidak menyukai sejarah, setidaknya generasi muda tidak melupakan, disitu banyak yang bisa dipetik dari perjalanan mereka berdua yang berjuang untuk membela bangsanya, dan bahkan ada satu pelajaran terpenting ketika Inggit dengan sukarela menjadi kepala rumah tangga saat Soekarno mendekam dipenjara.
Bahkan Inggit rela dari orang yang sudah berekonomi ke atas sampai turun ke bawah karena ingin sekali melihat Soekarno berjuang untuk bangsanya. Inggit menyokong segala pergerakan dan tidak jarang Inggit menjadi juru bahasa Sunda itu sendiri, ia menjadi menopang perjuangan Soekarno di Bandung. Pelajaran pentingnya, ia seorang wanita yang tangguh, dan dengan kegigihannya menemani di masa-masa sulit seorang calon Presiden walaupun mereka bercerai sebelum kemerdekaan tiba” Ujarnya

Tanggapan Warga Bandung
Indonesia yang sedang bergairah akan kebebasan dari penjajahan dan memulai kehidupannya untuk menjadi sebuah negara, dan Soekarno memimpinnya sejak proklamasi 1945 sampai ia dilengserkan buntu peritiwa 1965. Dari kepemimpinan itu, masyarakat menanggapi dengan berbagai opini terkait kebijakan dan pemerintahnya. Salah satu masyarakat Bandung yang kami wawancarai pada saat itu (21/12/2025) dengan nama Arya S. yang bekerja sebagai Security di salah satu kampus ternama. ia memiliki anggapan bahwa sang Proklamator adalah seorang ambisius yang idealis
“Tergantung pribadi masing-masing, menurut saya, iya lebih baik dari Hatta dan Tan Malaka. Cuman minusnya tuh dia terlalu idealis, egois. Kalo Hatta kar na dia penggerak nya. Kalo pemimpin tuh dia cuman nunjuk doang jadi gak usah turun tangan. Hatta itu menurut saya kayak tangan kanannya. Sedangkan Tan Malaka gak terlalu menonjol bagi orang awam. Perjalanan nya pun lebih bagus Hatta. Hatta lebih menonjol daripada Tan Malaka. Kalau Tan Malaka kan dia juga penantang. Sebagai pemimpin Soekarno memang lebih bagus. Yang lain tuh ada bidang nya masing-masing. Nah, bidangnya Sukarno ini memang jadi pemimpin. Hatta sama Tan Malaka ini baguslah jadi tangan kanan tangan kiri” ungkapnya saat kami menanyakan mana yang lebih baik antara Soekarno, Hatta dan Tan Malaka
Di zamannya yang lebih mengarah ke sosialisme, ia mengungkapkan bagaimana pandangannya terkait masa Orde Lama itu: “generasi 98 ada zamannya Suharto, kalo di zaman Soekarno, mungkin menilainya zaman itu kebih baik karena dulu tuh ga mentingin hutang. Lagian hutangnya ga gede gede amat. Duit banyak. Tapi gak tau juga sih duitnya ada atau engga. Sampai sekarang juga ga tau kan ya. Emas Soekarno juga gak tau dimana. Kalo menurut saya, zaman dulu tuh lebih baik lebih maju daripada sekarang. Pemimpin sekarang tuh banyak yang seperti tikus-tikus berdasi, demons, pungli, angka ekonomi juga ga separah sekarang ya. Kita kan negara agraris atau pertanian. Agraris juga lebih maju zaman dulu daripada sekarang. Kalo sekarang kan kemajuan dari teknologi. Kalo dulu kan bisa merata gitu karena mayoritas petani, jarang yang jadi pejabat, pengusaha pabrik. Majuan zaman dulu. Pemerataan ekonomi juga lebih bagus. Tapi itu selera masing-masing ya sebagai warga awam” pungkasnya.
