Setahun Delapena

Foto: Anggota ekskul Delapena 2025-2026

Ketika sastrawan Argentina Jose Luis Borges menafsirkan dengan membayangkan bahwa surga itu adalah sebuah perpustakaan yang didalamnya berisi buku-buku dari berbagai lintasan zaman. Artinya ia sedang intim dengan berbagai kenikmatan yang diberikan surga sebagaimana imajinasinya. Tafsiran dengan unsur metafor itu tentu tidak hanya untuk seseorang, tetapi setiap orang bisa dan berhak menafsirkan makna kenikmatan dengan rasa dan caranya sendiri. Begitupun saya ketika mengenalkan dan menyebarkan berbagai kegiatan yang terkait dengan buku dan literasi khususnya kepada anak-anak di SMA Pasundan 8 Bandung, ada kepuasan, kesenangan dan kenikmatan yang tak bisa terucap secara lisan tetapi hanya tersimpan dalam cita dan rasa. Usaha untuk mengenalkan dunia tulis menulis kepada anak tidak bisa hanya dengan ucapan motivasi semata tetapi juga harus dibuktikan dengan tindakan dan karya, ini penting untuk menunjukan bahwa saya juga melakukan hal yang sama yakni menulis, sesuai dengan apa yang sering disampaikan kepada mereka.

Sebagai bentuk usaha untuk “menemukan” anak yang berminat dalam pembiasaan membaca dan menulis, saya sering mengadakan lomba menulis yang ditujukan untuk semua siswa. Perlombaan menulis biasanya dikaitkan dengan momen-momen tertentu yang mempunyai nilai keterikatan, misalnya dalam menyambut bulan suci Ramadhan, momen hari Literasi, hari Kemerdekaan, hari Sumpah Pemuda, dll. Tentu semuanya dilakukan secara mandiri, baik dari modal moril maupun materilnya. Dari setiap siswa yang mengirimkan karya tulisan biasanya akan ada keterikatan dan minat yang sama dalam dunia literasi.

Sehingga suatu waktu gayung bersambut saya bertemu dengan siswa yang berbakat dan antusias dalam menulis, tepatnya pada momen Hari Literasi Nasional 8 September 2024. Pada saat itu yang mengirimkan tulisan relatif banyak dari mulai kelas X, XI dan XII ada perwakilannya. Tetapi tidak semua tulisan memenuhi persyaratan yang saya tetapkan, dari mulai panjangnya tulisan, originilitas tulisan, topiknya menarik dan menampilkan suatu yang baru, dll. Semua naskah tulisan yang masuk saya baca dan pelajari secara objektif untuk menentukan para pemenang lomba. Saya harus mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan dan harus bisa dipertanggung-jawabkan baik secara moral dan intelektual. Hasil ketetapannya diumumkan bahwa : juara ketiga diraih atas nama Elvira dari kelas XII, pemenang kedua Salma Nabila dan juara pertama diraih oleh Mulyani yang saat itu masih duduk dikelas (X.1).

Spirit Tak Terbendung Tulisan yang dikirimkannya berupa cerpen berjudul “Midnight Paper” dengan panjang tulisan sekitar 1250 kata, dalam penilaian saya sangat bagus dan sistematis untuk ukuran penulis pemula. Kurang lebih sepekan setelah pengumuman pemenang lomba, siswa perempuan itu datang lagi untuk meminjam buku yang terkait dengan tema : “Reformasi dan Penculikan”, mendengar tema itu tentunya sedikit kaget karena sangat jarang anak sekolahan yang ingin mengetahui kasus penculikan aktivis dan Reformasi 98. Akhirnya saya memberi pinjaman dua buah buku sesuai permintaannya, yaitu buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 karya Muhidin M Dahlan, serta buku Keluarga Gerilja tulisan Pramoedya Ananta Toer. Tak lupa saya juga menyuruhnya untuk menuliskan tentang peristiwa seputar Reformasi 98 dari sudut pandang siswa pelajar, dan ternyata tulisannya dimuat di Bandung Bergerak.id yang mempunyai pembaca cukup luas.

Sebenarnya dari mana para pelajar itu mengetahui tentang berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lalu, yang tidak banyak disebut-sebut dalam buku pelajaran sekolah. Rupanya novel Laut Bercerita karya Laela C. Chudori telah banyak memberi warna kepada sebagian pelajar yang membacanya, buku yang menceritakan peristiwa kelam di penghujung senjakala pemerintahan Orde Baru itu telah memantik banyak pertanyaan khususnya untuk bagi para pembaca yang lahir pasca 1998. Bacaan dengan tema-tema yang relatif “berat” itu tidak lazim, karena sebagaimana biasanya remaja itu mengkonsumsi bacaan yang bersifat petualangan, percintaan, cerita remaja, atau hiburan lainnya. Pendapat itu dibenarkan oleh H. Rohanda dalam bukunya Budaya Baca Remaja, hasil penelitian dosen UNPAD seputar buku dan budaya baca remaja di kota Bandung tahun 2010 yang menyebutkan bahwa : “Remaja SMA yang berusia antara 15-18 tahun menggemari buku-buku dengan tema percintaan, kisah-kisah nyata, komedi, horor, detektif, biografi, dll. Beberapa novel favorit mereka contohnya ; Astaga Gue Jatuh Cinta, Laskar Pelangi, Harry Potter, 24 Wajah Billy, dll, sedangkan untuk bacaan komik yang banyak digemari anak SMA seperti Naruto, Detektif Conan, Batman, Spiderman, dll”( Hal : 32 )

Melihat potensi kritis dan gairah keingintahuan anak juga yang mendorong saya pada penghujung tahun 2024 melibatkan mereka dalam sebuah diskusi terbuka dengan tema : “Palestina Merdeka, Penting gak sih?”, topik yang diangkat untuk merespon isu global dari sudut pandang anak muda / pelajar.

Diawal bulan, tepatnya pada 6 Februari 2025 terdapat momen perayaan 100 Tahun Sastrawan Pramoedya Ananta Toer ( PAT ). Penulis roman tetralogi buru yang namanya pernah menjadi nominasi nobel sastra ini diperingati dengan berbagai cara dari mulai diskusi, bedah buku, penulisan, hingga seminar-seminar yang mengingatkan perjalanan PAT beserta karya-karyanya. Tak terkecuali dengan Komunitas Baca Pasda , kelompok kecil di sekolah yang berkutat dalam berbagai kegiatan literasi juga turut serta merayakannya. Waktu itu kami mengapresiasinya dengan melakukan pembacaan buku Bumi Manusia secara bergiliran sebagaimana kajian tadarusan. Novel Bumi Manusia yang dipilih karena buku ini tidak hanya melambungkan nama penulisnya tetapi juga sebagai gerbang pembuka dimana generasi – generasi muda terutama anak sekolahan mengenal Pramoedya Ananta Toer. Beberapa siswa yang turut dalam tadarusan buku waktu itu ada nama : Mulyani, Kanaya Virliani, Naftalisa, Aulia Azhar, Khanza, Azka Nurul, Lulu Tri, dll yang hampir semuanya pelajar kelas X.

Dalam pertemuan itu kami juga melakukan perluasan dari sisi tujuan Komunitas Baca Pasda yang semula hanya berupa kajian dan bincang-bincang mengenai buku diperluas menjadi bagian dari kegiatan jurnalistik. Hal ini dipicu karena salah seorang dari mereka menanyakan ; “pak.. apakah diskusi-diskusi buku ini tujuan nantinya akan menjadi ekskul?”, dan saya membenarkannya.

Pertimbangan untuk membentuk ekskul jurnalistik sebenarnya sudah direncanakan jauh sebelumnya, tentu didasari kondisi objektif sekolah yang dalam pengamatan saya masih sangat minim untuk berbagai kegiatan literasi. Sekolah yang seharusnya menjadi taman pendidikan dimana berbagai kegiatan yang dapat mengeksplorasi daya kognitif siswa bisa dipupuk dalam lingkungan yang kondusif. Dalam perspektif saya selain pendidikan yang sesuai kurikulum, pendidikan ekstra-kurikulum juga tak kalah pentingnya. Dan Jurnalisme yang didalamnya siswa bisa belajar untuk membaca, menganalisa, menanyakan kembali dan menuliskan berbagai isu dan persoalan yang dilihat dan dirasakan menjadi arah baru terbentuknya ekstrakurikuler Jurnalistik yang dinamakan Pers Pelajar Delapena.

Penamaan Delapena sendiri datang dari anak-anak, sebagai akronim dari Delapan dan Pena. Delapan merupakan identitas sekolah, dan Pena merupakan alat ( dengan pengertian luas ) untuk menulis. Sedangkan dalam susunan redaksi Delapena tercantum nama-nama berikut :

1. Pemimpin Redaksi : Mulyani

2. Staf Redaksi : Kanaya Virliani, Nabilla Maharany, Azka Nurul Hikmat, Lulu Tri Ayundari, Aulia Azhar, Kayla Febriani, Jeihan Amadea, Yolanda , Arya Anggaraksa, M Rivaldhi

Sejak itu kami mulai menyesuaikan kegiatan yang tidak hanya mendiskusikan buku tetapi juga memberikan materi pembelajaran menulis dan cara membuat berita. Tentu saya sebagai pembina juga memberi rumus standar yang biasa dipakai oleh wartawan dalam menjalankan tugasnya yakni, 5 W ( What, Who, Where, When, Why ) 1 H (How) sebagai patokan untuk mulai menulis kepada anak-anak. Sebagai langkah awal proses menulis biasanya saya menyuruh mereka memulai dari buku yang menjadi bahan diskusi, lalu dituliskan isi buku tersebut dengan gaya dan bahasa mereka sendiri. Sedangkan untuk menuliskan suatu topik berita biasanya pemimpin redaksi membagi tugas untuk melakukan wawancara kepada nara sumber yang telah ditentukan. Metode seperti ini terus-menerus kami lakukan sebagai langkah untuk : pertama mengembangkan daya kritis siswa, kedua menguatkan mental dan kepercayaan diri siswa, dan yang ketiga memperkaya sudut pandang dari suatu isu berita yang sedang dituliskan.

Sejak setahun bermetamorfosis dari komunitas baca menjadi jurnalisme pelajar banyak progress terjadi, relasi dan pertautan yang terbangun juga semakin luas. Hanya mereka yang istiqomah saja yang terus berjalan dengan keyakinannya. Tentang keyakinan ini, saya jadi teringat sepenggal bait puisi “Bunga dan Tembok “ dari penyair Wiji Thukul :

Jika kami Bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi ditubuh tembok itu Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan : engkau harus hancur!

Dalam Keyakinan kami

Dimanapun- tirani harus tumbang!

Tentunya spirit dan situasi puisi yang ditulis oleh Penyair yang hilang ditengah prahara peristiwa 1998 itu tidak sama dengan apa yang sedang kami kerjakan. Tetapi secara substantif terutama ketika kegigihan dalam menanam benih literasi dilahan yang meskipun tandus, suatu saat akan tumbuh juga. Artinya hanya dengan konsistensi dan komitmen yang kuat, kedepan kita bisa berharap lahir penulis-penulis muda berbakat dari siswa SMA Pasundan 8 Bandung dengan karakter yang kritis dan mampu membawa perubahan-perubahan kearah yang lebih baik.

Selamat Setahun Delapena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *