
Salah satu tujuan bernegara adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 45, tentunya tidak hanya cerdas secara nalar pemikiran tetapi juga rasa dan sikapnya yang harus berbanding lurus. Pelaksanaan atas tujuan bernegara tersebut adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan dan kurikulum yang baik sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajarnya. Berbagai bentuk kurikulum sudah diterapkan. Saat ini kita menggunakan Kurikulum Nasional sebagai kurikulum yang dirancang oleh pemerintah sebagai kerangka dasar yang digunakan sekolah-sekolah diseluruh Indonesia. Peresmiannya ditandai dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, Jenjang Pendidikan Menengah.
Untuk lebih memperjelas apa itu Kurikulum Nasional, jurnalis Delapena berkesempatan melakukan wawancara dengan Bapak Eka Kartiwa, S.Pd, MM guru Bahasa Inggris sekaligus juga sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang kurikulum di SMA Pasundan 8 Bandung dan beberapa guru lainnya. Berikut petikan wawancaranya:
Apa sebenarnya Kurikulum Nasional itu?
“Sekarang kurikulum merdeka berganti nama menjadi kurikulum nasional. Jadi dulu kurikulum itu ada yang disebut dengan kurikulum 2013. Kemudian pada saat zaman menteri Nadiem Makarim diganti menjadi kurikulum merdeka. Sekarang Namanya diganti menjadi kurikulum nasional, berdasar kemendikdasmen nomor 13 tahun 2025”.
Untuk sekarang Kurikulum Nasional, apa yang membedakannya dengan kurikulum lain?
“Perubahannya kurikulum Merdeka dengan kurikulum Nasional mulai dari penjurusan berbeda, kemudian dulu di kurikulum 2013 penjurusannya dari kelas 10. Terus sekarang kurikulum merdeka mah dari kelas 11 kelas 12. Terus itu juga tidak ada penjurusan sebetulnya di kurikulum nasional.
Jadi siswa bebas memilih mata pelajaran di kelas 11 dan kelas 12.Jadi di kurikulum nasional ada yang disebutkan fase E dan fase F. Di fase E kelas 10, fase F di kelas 11 dan 12. Nah di kelas 11, kelas 12 itu ada mapel pilihan yang disesuaikan dengan minat siswa. Hanya sekolah memberikan arahan atau rekomendasi mapel apa yang harus nanti diampu oleh siswa. Tapi intinya pembelajarannya lebih ke jurusan IPA-IPS. Jadi ada di kelas 11 ada yang mapel pilihan, mapel pendalamannya ada yang eksak, ada yang sosial.
Kemudian pembelajaran di kurikulum nasional ada tiga: intra, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler. Intra yang sehari-hari kita belajar di kelas, kemudian ada ko-kurikuler, yang kalau di kurikulum merdeka namanya P5 Project. Nah itu, sekarang namanya bukan P5 lagi, tapi menjadi ko-kurikuler. Jadi pembelajaran di luar intra, untuk lebih memperdalam prakteknya kalau yang ko-kulikuler itu. Kemudian ada ekstra-kurikuler atau ekskul untuk minat siswa pembelajaran di luar intra sama ko-kurikuler.
Selain itu di kurikulum nasional sekarang ada yang disebut pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam (PM). Untuk pelajaran mendalam itu menggunakan 3 pendekatan, yaitu: Mindful, Joyful, Meaningful.
Meaningful Learning menekankan proses belajar harus memiliki makna dan keterkaitan dengan kehidupan nyata siswa. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga memahami konsep yang dipelajari dan dapat menghubungkannya dengan situasi sehari-hari.
Mindful Learning menekankan kesadaran penuh dalam proses belajar. Siswa didorong untuk secara aktif terlibat dalam pembelajaran, berpikir reflektif, serta memiliki niat dan motivasi internal untuk mengembangkan pemahaman serta keterampilan mereka.
Joyful Learning menekankan bahwa pembelajaran harus menjadi pengalaman yang menyenangkan dan menggugah minat siswa. Dengan suasana belajar yang positif, siswa lebih termotivasi untuk terus mengeksplorasi pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mereka.” ungkap Bapak Eka Kartiwa
Kenapa untuk tahun sekarang, SMA Pasundan 8 menggunakan kurikulum nasional?
“Kurikulum nasional. Karena memang semuanya diwajibkan sih enggak ya. Kalau tidak salah masih ada sekolah yang menggunakan kurikulum 2013, cuman pemerintah mendorong semuanya untuk menggunakan kurikulum nasional. Jadi apakah nanti ada imbasnya ke Dapodik atau enggak, tapi semuanya didorong untuk menggunakan kurikulum nasional.”
Lalu apa yang ingin dicapai dari proyek ko-kulikuler tersebut?
“Dalam kegiatan biasanya ada berupa proyek bersama, hasilnya nanti dikumpulin gitu kan, setiap kelas itu biasanya punya hasil proyek bersama itu. Tujuannya untuk menguatkan elemen-elemen profil ko-kurikuler ini, yang sudah disesuaikan dengan kondisi sekolah juga lingkungan” ungkap Ibu Desi

Bagaimana seharusnya kami (siswa) mengikuti kurikulum nasional ini?
“Guru akan membuat capaian pembelajaran untuk setiap mapel, setiap jenjang dari kelas 10, 11, 12. Siswa ikuti saja capaian pembelajaran yang diarahkan oleh guru. Karena tiap materi itu guru akan punya pencapaiannya masing-masing. Dan ingat, janganlah tiap jenjang, di setiap kelas juga ada pembelajaran buat diferensiasi. Jadi setiap siswa yang sudah mempunyai kemampuan lower, middle, and high itu akan dibedakan dalam sisi penguasaan materi.
Makanya kemarin kalau di pelajaran saya ya, pencapaian paling dasar itu kamu bisa memperkenalkan diri. Yang sudah mahir nanti membuat tulisan menjadi short paragraph ya. Kalau sudah bisa ngomong, speaking dan belum tentu siswa itu bisa speaking dan membuat short paragraph. Karena dalam pembelajaran bahasa, listening, speaking, reading, writing itu sudah berurutan. Jadi listening, speaking, kalau sudah bisa itu baru ke reading nantinya. Karena reading itu kan banyak, ada reading aloud, ada reading comprehension. Nah baru nanti ke writing, writing itu kemampuan atau skill karena menulis itu paling susah sebetulnya.
Pembelajaran dikelas 10 dimulai dari tahap yang sangat sederhana. Target awal siswa adalah mampu memperkenalkan diri terlebih dahulu. Jika kompetensi dasar ini sudah dikuasai, pembelajaran dapat ditingkatkan ke tahap menulis short paragraph berupa biografi singkat tentang diri mereka. Siswa yang belum lancar harus tetap fokus pada tahap pengenalan diri ini dan belum disarankan beralih ke paragraf pendek. Sebaliknya, siswa yang sudah mahir membuat paragraf pendek bisa langsung ditantang menulis long paragraph, seperti teks untuk memperkenalkan teman. Aktivitas memperkenalkan orang lain ini sengaja diberikan di tahap akhir karena membutuhkan penguasaan tata bahasa atau grammar yang lebih kompleks, seperti penggunaan pronoun.
Jadi untuk siswa yang belum bisa, itu dulu kuasai. Sedangkan yang sudah bisa, terus lanjut terus ke atas. Nah, makanya ada pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum nasional seperti itu. Makanya saya selalu memperkenankan, ‘Kamu gak usah malu kalau belum bisa, karena kan belajar ya’ dan kemampuan orang itu bakatnya kan beda-beda.
Kamu kan senang baca, senang nulis. Sedangkan temannya mungkin dia nggak suka, nggak senang baca, dia senangnya nonton atau mendengarkan. Dan dia lebih ke motorik, dia senangnya gerak dan sebagainya. Itu akan beda, bakatnya akan beda-beda.Makanya di kelasnya ada yang senang, ada yang bakatnya membaca literasi, ada yang bakatnya di olahraga dan lain sebagainya. Gak jadi masalah itu. Makanya guru pun tidak akan menekankan harus bisa atau enggak. Jadi minimal kemampuan capai pembelajaran dasarnya aja dikejar itu. Kalau itu udah tercapai baru nanti ke next level.
Dan SMA Pasundan 8 Bandung sudah mengarah ke sana. Semoga tahun depan kita sudah bisa berkiprah di olimpiade lah ya. Karena memang bagus secara akademik belum tentu bagus secara non-akademik karena setiap orang punya bakat masing-masing. Makanya pembelajaran di kurikulum nasional seperti itu.
Jadi dipisahkan ada yang pintar di intra, mungkin ada yang di ko-kurikuler nya bagus. Karena di kokurikuler itu kan butuh tim untuk sebuah proyek, perencanaan dan sebagainya. Itu di aplikasikan nanti di organisasi, di school-nya nanti diaplikasikan juga.”
Untuk kesimpulan dari kurikulum nasional ini apa?
Pertama, kita mengikuti program kurikulum nasional yang dilaksanakan oleh pemerintah. Yang kedua, capaian pembelajaran itu kan sekolah yang menentukan. Jadi SMA Pasundan 8 Bandung mengikuti program kurikulum nasional sesuai dengan arahan pemerintah, dari kementerian. Tetapi kita juga akan mengaplikasikannya sesuai dengan karakter yang ada disini. kemampuan siswanya, budayanya, dan lain sebagainya.” pungkas pak Eka Kartiwa.
