Bincang Buku; Pulang

Foto: Diskusi Buku Pulang Leila S. Chudori (Sumber foto: Mulyani)

Buku Pulang karya Leila. S. Chudori merupakan buku berlatar belakang sejarah Indonesia pada tahun 1965-1998. Namun di didalamnya terdapat pula beberapa unsur fiksi yang di tambahkan seperti unsur persahabatan, percintaan, keluarga, dan keh sosial agar buku ini tidak terlalu terkesan membosankan sebagai buku fiksi sejarah.

Novel Pulang menceritakan kisah empat orang buangan politik akibat peristiwa 30 September 1965. Kondisi politik Indonesia pada saat itu tidak memungkinkan mereka untuk kembali ke Indonesia. Di negara orang, mereka berjuang untuk hidup—berkelana kesana kemari. Situasi politik di Indonesia pasca-30 September 1965 bukan hanya sedang tidak berpihak kepada mereka saja, tetapi sangat berbahaya bagi siapapun yang berbau “kiri” dan dianggap terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Maka tokoh-tokoh  dalam novel tersebut  Dimas Suryo , Nugroho serta Risjaf tidak berani memutuskan untuk pulang ke tanah airnya. Selain itu, alasan mereka tidak bisa pulang karena paspor dan visa mereka dicabut oleh pemerintah yang menganggap mereka sebagai pengkhianat negara, dengan kebijakan bersih lingkungan dan bersih diri. Bersih diri adalah kebijakan pemerintah yang dikeluarkan sekitar tahun 1980-an kepada mereka yang dianggap terlibat dalam gerakan 30 September 1965, anggota PKI, atau anggota organisasi lainnya yang sejenis. Begitupun dengan istilah bersih lingkungan dikenakan kepada orang-orang yang dicap sebagai komunis. Peraturan ini dikeluarkan oleh departemen dalam negeri yang melarang orang-orang yang tidak bersih diri atau tidak bersih lingkungan menjadi anggota TNI/POLRI, guru, pemimpin agama, atau profesi yang berhubungan dengan publik.

Akibat dari peraturan ini adalah terjadinya berbagai diskriminasi yang tak hanya tertuju pada tahanan politik 1965 itu sendiri, tetapi juga terhadap keluarga, anak, cucu, serta kerabat mereka. Akibat tragedi itu juga yang membuat merekapun pergi ke Peking Cina untuk bertemu dengan orang-orang Indonesia yang senasib. Dari Peking lalu pergi ke Eropa, dan pada akhirnya keempat orang yang diceritakan dalam novel tersebut bertemu di kota Paris. Sejak saat itulah (1968) mereka menyandang status sebagai eksil politik Indonesia, sebelum kemudian setelah beberapa tahun menetap disana dan memperoleh status sebagai warga negara Prancis. Untuk bertahan hidup, setelah menjalani sejumlah pekerjaan serabutan, akhirnya mereka mendirikan sebuah restoran masakan Indonesia bernama “RestoranTanah Air” yang mereka kelola bersama.

Dimas Suryo eksil politik yang menjadi tokoh utama dalam novel ini, dikisahkan sebagai individu yang senantiasa memendam harapan dan keinginannya untuk pulang ke Indonesia, entah hidup atau mati. Sebab baginya “Indonesia” adalah rumah, tetapi ia menganggap negaranya, pemerintahnya, dan mungkin juga sebagian warganya tidak menghendaki kehadirannya di tanah air. Di Paris, Dimas Suryo menikah dengan seorangperempuan cantik Prancis bernama Vivienne Deveraux, dan memiliki seorang putri semata wayang yang mereka namai Lintang Utara. Singkat cerita, saat Lintang Utara menginjak umur dewasa, ia pergi ke Jakarta untuk menyelesaikan tugas akhirnya di Universitas Sorbonne, yaitu membuat film dokumenter berisi wawancara dengan para eks-tapol Peristiwa 1965 beserta keluarga mereka. Ia pergi ke Jakarta pada bulan Mei 1998  ketika situasi politik Indonesia sedang panas-panasnya. Hal ini adalah dampak dari krisis moneter sejak 1997, KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), serta tuntutan agar Presiden Soeharto segera turun dari jabatannya yang semakin gencar dikemukakan oleh masyarakat.

Kemudian, selang beberapa bulan setelah Lintang pergi ke Jakarta, ayahnya pun ikut menyusul pulang ke Jakarta. Pada akhirnya ia benar-benar bisa pulang. Pulang ke tanah air yang selama ini telah dirindukannya. Ke tanah air yang didambakan sejak lama. Tetapi saatia pulang ke tanah air, ia harus pulang dalam keadaan sudah menyatu dengan tanah di TPU Karet Jakarta Pusat.

Saya sendiri menilai buku Pulang ini memiliki alur cerita yang sangat menarik karena mengambil tema dan latar cerita dari peristiwa-peristiwa bersejarah seperti G30S, PKI, KKN (Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme), kemunduran presiden Soeharto 1998, dan yang lainnya. Leila S Chudori berhasil menyajikan buku ini dengan sangat baik. Mulai dari tampilan cover yang di design dengan simple—memadukan warna abu dan gambar bayangan seorang lelaki yang berjalan mencari jalan pulang, serta tulisan kata Pulang yang disusun secara zigzag teratur. Penulis benar-benar mahir dalam merancang alur dan menuliskan narasi-narasinya dengan sangat apik di setiap lembar perlembarnya.  

Setelah selesai membaca buku ini rasanya seperti saya seperti ikut masuk terhanyut di dalam ceritanya. Mengapa demikian ini terjadi? Hal ini terjadi karena penulis dapat menyajikan serta menuliskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam buku Pulang dengan sangat rapih tertata dan deskriptif. Sehingga perasaan-perasaan yang ingin disampaikan pun dapat tersalurkan dengan baik kepada para pembacanya.

Untuk kritikan, saya sebagai anak SMA (Sekolah Menengah Atas) tidak akan memberikan banyak karena isi buku nya sendiri sudah sangat bagus. Hanya terkadang ada beberapa kosakata yang masih terdengar asing saat saya membaca buku ini. Beruntung di bagian akhir halaman buku dilampirkan penjelasan-penjelasan dari kata-kata yang tidak saya mengerti itu. Terakhir, setelah saya menamatkan buku ini ada satu hal yang mengganjal yaitu peranan Lintang anaknya Dimas Suryo, apakah berakhir bahagia bersama Segara Alam atau Nara Labvre Mungkin jawabannya terdapat dalam buku Novel Namaku Alam. Dan saya menyarankan untuk membaca buku menarik Leila S Chudorilainnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *