Menyoal Pelaksanaan TKA

Foto: Suasana pelaksanaan TKA di SMA Pasundan 8 Bandung

Dalam era transformasi pendidikan nasional, muncul sebuah instrumen baru yang membawa harapan sekaligus tantangan bagi para pelajar dan pendidik—Tes Kemampuan Akademik atau TKA. Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, TKA dirancang sebagai bentuk asesment standar yang mengukur capaian akademik murid dengan cara yang lebih objektif dan menyeluruh. Meski belum menjadi syarat kelulusan, keberadaan TKA mulai menggantikan paradigma lama yang menempatkan ujian nasional sebagai satu-satunya tolok ukur penilaian. Dengan demikian, TKA bukan hanya soal angka dan nilai, tetapi juga tentang akses, keadilan, dan kesiapan kompetitif murid dalam menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Terkait pelaksanaannya di SMA Pasundan 8 Bandung, saya berkesempatan untuk mewawancarai beberapa siswa yang mengutarakan pendapatnya tentang TKA ini, namun sayang dari pihak panitia pelaksana TKA tidak ada yang bersedia memberikan tanggapan ataupun komentar sama sekali. Berikut petikan wawancara dengan beberapa orang siswa ;

Bagaimana menurut kamu dengan perubahan kebijakan dengan munculnya TKA yang mendadak ini?

“Pelaksanaan TKA yang mendadak dengan persiapan cuman 3 bulan menurut aku kurang efektif ya, ada baiknya kalau TKA itu diterapkan untuk anak X sekarang, untuk dilaksanakan pada saat mereka kelas XII. Jadi mereka sudah bisa menyiapkannya, karena mereka perlu bagi waktu belajar TKA, SNBT dan lain lain biar ga repot pas kelas XII nanti. Kalau buat kelas XII angkatan sekarang kurang cocok ya soalnya persiapannya itu cuman 3 bulan, sedikit banget persiapannya. Terus beberapa kebijakannya juga masih sering diganti-ganti mendekati pelaksanaan TKA tuh jadi bikin bingung” Ungkap Zahra kelas XII MIPA 2

Kamu lebih dulu belajar menyiapkan untuk SNBT atau TKA?

“Kalo aku TKA sih, cuman bukan yang begitu juga. Soalnya aku berharap sebisa mungkinSNBP ya”. Ujar Fini Cahyani XII IPS 2.

Apa yang kamu harapkan dari TKA ini?

“Yang aku harapkan mungkin hasil dari sertifikat TKA ini ga terlalu mempengaruhi hasil akhir untuk ke perguruan tinggi, karena bagi aku sendiri rasanya gak adil gitu. Kita sudah pertahankan nilai selama 5 semester tapi ternyata harus dibuktikan lagi sama TKA. Buat TKA kan kita perlu mengulang materi ya, dan waktu 3 bulan itu menurut aku sendiri sangat mepet” Kata Zahra.

Sedangkan Qayilla dari kelas XII MIPA 1 mengharapkan bahwa program TKA ini mampu mempermudah orang untuk memasuki kerja ataupun kuliah.

Apakah TKA ini membebankan kamu dari pengerjaan tugas lainnya?

“Menurut aku, untuk angkatan sekarang ini sangat amat membebankan karena kita tidak di kasih banyak waktu untuk belajar lebih efektif, jadi kesannya mendadak. Sangat memberatkan, dan kita juga berharap TKA tuh dibatalkan” Ucap Fini.

Kalo ada petisi pemberhentian TKA, bagaimana?

“Kalau buat aku sendiri kalau ditiadakan kayaknya bakal bikin aku ngerasa sia-sia ya selama ini belajar sampai malam demi TKA tapi ternyata dihapus. Mungkin kalau diundur aku bakal lebih ikhlas gitu ya, tapi kalau semisal memang diberhentikan TKA ini, aku ngerasa sia-sia yah. Mengingat ada SNBT juga, jadi materi yang ada di TKA mungkin ada juga di SNBT. Jadi ya kalau aku ambil sisi positifnya aja” Ungkap Zahra.

Dari beberapa tanggapan siswa di atas, dapat terlihat bahwa pelaksanaan TKA pada angkatan yang sedang berada di kelas XII memunculkan perasaan campur aduk: antara kewajiban untuk menyesuaikan diri, rasa tertekan karena waktu persiapan yang sempit, serta kekhawatiran terkait dampaknya terhadap masa depan pendidikan mereka. Secara garis besar, para siswa menilai bahwa perubahan kebijakan ini terlalu mendadak. Zahra menekankan bahwa persiapan hanya tiga bulan jelas tidak sebanding dengan cakupan materi yang harus dikuasai, apalagi aturan pelaksanaannya masih berubah-ubah. Fini pun menyebutkan bahwa kondisi ini terasa membebani karena berbarengan dengan tugas akhir sekolah dan harapan untuk proses masuk perguruan tinggi yang lain seperti SNBP. Di sisi lain, ada pula pandangan lebih optimis yang melihat TKA sebagai peluang, bahwa sertifikat TKA dapat membuka kesempatan lebih luas, baik untuk kuliah maupun bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa TKA sebenarnya memiliki potensi sebagai alat asesment yang objektif dan fungsional, namun masalah terbesarnya terletak pada kesiapan sistem, bukan pada konsepnya.

Mungkin yang menjadi permasalahannya bukan pada tujuan TKA, tetapi pelaksanaannya. Perubahan yang baik sekalipun membutuhkan waktu untuk beradaptasi, sosialisasi yang jelas, dan persiapan yang matang. Tanpa itu, kebijakan yang seharusnya mendukung perkembangan pendidikan justru berpotensi menambah tekanan psikologis serta ketidaksetaraan akses antar siswa. Sehingga, harapannya ke depan, pemerintah dan lembaga pendidikan dapat mengevaluasi kembali mekanisme penerapan TKA, agar ia benar-benar menjadi instrumen peningkatan mutu pendidikan, bukan sekadar satu beban baru yang harus ditanggung siswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *