Hari Kemerdekaan, Menurut Guru

Foto: Salah satu Reporter Delapena sedang mewawancarai guru (Sumber foto: Mulyani)

Kemerdekaan Indonesia akan menginjak usia ke 80, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2025. Beberapa guru SMA Pasundan 8 Bandung terutama guru mata pelajaran bidang sejarah dan kewarganegaraan turut memberikan pendapatnya mengenai hari lahir Bangsa Indonesia, saat kami temui pada hari Senin (11 Agustus 2025)  kemarin. Kepada Bu Tia Amelia salah seorang guru yang mengampu pelajaran sejarah, kami menanyakan beberapa pertanyaaan :

Sebenarnya apa arti kemerdekaan itu sendiri?“

Kemerdekaan adalah sesuatu dimana kita bisa hidup bebas namun masih dalam lingkup aturan pemerintah. Walaupun Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun, tetapi masih banyak hak-hak masyarakat yang masih terabaikan. Kita yang seharusnya mendapat kesejahteraan, malah dibebani dengan berbagai pungutan pajak dihampir semua sektor, sekarang apa-apa dipungut pajak. Negara lain juga tentu membayar pajak, namun mereka diimbangi dengan infrastruktur dan akses kesehatan bahkan pendidikan yang mudah”. ucapnya.

Pendapat yang tak jauh beda juga disampaikan oleh bu Meity selaku guru PPKn yang menyebut bahwa : bahwa kemerdekaan itu adalah kebebasan melakukan hal yang positif. Berkreasi, Berpendapat, serta mengekspresikannya dengan penuh tanggung jawab. Tanpa ada paksaan atau tekanan dari manapun

Idealnya memang harus seperti itu, ketika pemerintah memungut pajak darirakyat maka negara harus menjamin kebutuhan- kebutuhan dasar rakyatnya, seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan lainnya. Tetapi kenyataannya pada kebutuhan primier seperti itulah yang seringkali menjadi persoalan rakyat. Pendidikan belum merata, akses kesehatan yang mahal, sulitnya lapangan pekerjaan menjadi permasalahan serius Indonesia ke depannya. Untuk membedah apa saja yang telah dicapai Indonesia diusianya yang lebih dari setengah abad ini. Pak Sabila Ardiansyah M, seorang guru yang juga mengajar sejarah menilainya bahwa : “Indonesia termasuk negara yang masih muda dibandingkan negara lain dan juga tidak dimerdekakan oleh negara lain, Indonesia merdeka sendiri, berdiri sendiri. Jadi masih wajar kalo kita masih harus banyak belajar tentang arti kemerdekaan”. mengartikan kemerdekaan sudah pasti akan berlainan, mungkin bisa jadi setiap kepala akan berbeda dalam menterjemahakan kemerdekaan itu sesuai dengan rasa dan kehendaknya masing-masing. Sebagaimana disinggung oleh Pak Sugeng Riyadi salah seorang guru agama yang menyebut bahwa “kemerdekaan menurut bapak yang basic nya belajar agama, yang salah satunya adalah kebebasan beragama karena hal tersebut sesuai dengan tujuan bangsa kita dan pancasila, terutama pada sila pertama ”Ketuhanan Yang Maha Esa”. Menurut bapa itulah sebagai bukti-bukti kita dalam mengamalkan nilai kemerdekaan”. ujarnya

Ditengah ramainya permasalahan penulisan ulang sejarah yang disponsori menteri Kebudayaan Fadli Zon tidak kami lewatkan untuk menanyakannya kepada guru sebagai bentuk kebebasan berpendapat

Bagaimana menyikapi tentang rencanamenulis ulang sejarah yang dilakukan Menteri Kebudayaan Fadli Zon itu?

Bu Tia berpendapat, bahwa “Dilihat dari yang dilibatkan siapa aja harus digaris bawahi. Apakah, yang terlibat ada kepentingan untuk membuat sejarah Indonesia itu seperti Komando, misalnya seperti Orde Baru mengenai G30S. Makanya kalo memang mau penulisan sejarah, orang harus dilihat apakah ada kepentingan lain atau memang pure dari sumber sumber sejarah yang ada”

Tidak jauh dari pendapat Bu Tia selaku guru sejarah, Pak Sugeng memiliki pandangan yang hampir sama dengan mengucapkan “Kalau menurut bapak, menulis ulang sejarah itu silahkan, tetapi tetap harus memegang prinsip transparansi bukan hanya sebagai kepentingan pribadi tetapi mampu mengakomodir kebutuhan negara kita. Karena seperti yang kita ketahui, sejarah yang kita tau pun penuh konspirasi. Jadi boleh saja, namun yang harus menulis ulang itu harus orang yang benar benar kompeten”. saat kami menanyai terkait isu penulisan ulang sejarah

Apakah benar sejarah itu selalu ditulis oleh para pemenang?

Menurut Pak Sabil, “Ya bisa, bisa karena memang narasi ditulis oleh pemenang. Adajuga yang kalah dalam sejarah dan menuliskannya  tetapi itu secara secara penyebaran nya kepada publik tidak sebesarketika sejarah itu ditulis oleh pemenang atau mungkin lebih tepatnya ditulis oleh yang berkuasa” katanya

Kemajuan negara Indonesia tidak akan terlepas dari generasi yang akan mengelolanya dengan baik, sejarah menjadi tantangan utama generasi muda untuk mengenal bangsanya, maka dari itu kami menanyakan :    

Penting ga sih generasi muda mempelajari sejarah?

“Penting, karena yang pertama belajar tentang identitasnya sendiri, seperti kalo tidak tau asal usul kamu, nanti kamu tidak akan tau arah yang akan dituju” Ucap Pak Sabil

Dibalik segala permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, masih ada beberapa harapan yang tersurat bagi pemerintah dan masyarakat Indoensia untuk tanah air kita

Apa yang menjadi harapan untuk Indonesia saat ini?

Bu Tia menambahkan, “Harapan ibu sama seperti masyarakat lainnya, yaitu ketikapemerintah membuat kebijakan yang dipertimbangkan itu bukan hanya untukkeuntungan dari para pejabatnya dan kelas atas saja, jadi harus dipertimbangkan ini masyarakat kelas menengah ke bawah itu seperti apa. Kalo terus seperti itu lama lama Indonesia bisa bangkrut. Apalagi sekarang perekonomian kita sedang jauh gitu, dibanding dengan Malaysia aja. Nilai tukar Rupiah dengan ringgit jauh berbeda, itu membuktikan Indonesia lama lama bisa terpuruk seperti Sri Lanka”

Senada dengan itu, pak Sabil juga mengingatkan terkait kestabilan dalam pemerintahan Indonesia. “Semoga dipimpin oleh orang yang benar benar kompeten, tidak banyak politik kepentingan” Pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *