
Setelah selesai masa Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang banyak menyimpan berbagai persoalan, kami SMA Pasundan 8 tetap berusaha bertahan dengan senantiasa memberikan layanan yang berkualitas dan profesional. Pada tanggal 14 – 17 Juli pekan ini dilaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) terutama dikhususkan untuk anak-anak yang masuk di tahun pelajaran baru 2025-2026. MPLS kali ini membawa tema : “Melalui MPLS Kita Ciptakan Lingkungan Belajar yang Ramah, Aman, Nyaman, Menggembirakan Dengan Menjunjug Tinggi dan Menumbuhkan Nilai Karakter”. Meskipun bersifat normatif tetapi memang harus seperti itulah tujuan sekolah berdiri. Sekolah harus menjadi taman-taman Pendidikan yang sarat dengan berbagai nilai, sekolah juga harus bisa dibayangkan sebagai ladang luas yang bisa ditanam dan dituai dengan berbagai ilmu pengetahuan. Sekolah harus bisa menghilangkan berbagai tindak kekerasan baik verbal/ non verbal, bullying, ataupun ancaman lain yang membuat pesertadidik terpaku dalam ketakutan.
Sebagai implementasi dari tujuan menumbuhkan nilai karakter terhadap siswa-siswi diatas, maka diadakan gelaran berbagai ekstrakurikuler (Ekskul) sebagai rangkaian kegiatan MPLS. Urgensinya tentu tidak kalah penting dengan intrakurikuler yang menjadi tugas wajib siswa, karena dalam setiap anak memiliki keunikannya tersendiri. Mungkin ia tidak terlalu menonjol dalam mata pelajaran , tetapi bisa jadi kelebihannya pada kegiatan ekstrakurikuler yang ia ikuti. Jadi cakupan pendidikan intra, ko, ataupun ekstra kurikuler menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. SMA Pasundan 8 Bandung tentu paham dengan kondisi tersebut sehingga selalu mengapresiasi berbagai prestasi anak diluar kemampuan akademik. Selain itu sekolah dengan tagline “Young Education Success” ini juga membuka luas unit-unit ekstrakurikuler tempat anak-anaknya mengekpresikan dan mengembangkan diri. Lebih dari 20 unit ekskul dari mulai yang bersifat fisik (olah raga, baris berbaris, naik gunung) ataupun yang bersifat non fisik (keterampilan bahasa, handcraft, menulis) yang bisa di eksplore oleh siswa-siswinya. Pada hari Selasa kemarin bersamaan dengan pembukaan MPLS, semua unit ekskul tersebut berkesempatan untuk mendemonstrasikan keberadaannya dihadapan para peserta didik baru. Tentu dengan kemasan, gaya, dan kostumnya masing-masing yang bisa menarik orang untuk bergabung dalam gerbong ekskulnya.
Ekskul Baru ‘Jurnalistik’ Hampir semua siswapeserta gelar ekskul memperlihatkan kemampuannya dengan maksimal, tak terkecuali dengan ekskul baru Jurnalistik. Keberadaan ekskul Jurnalistik terbilang baru karena terbentuk pada sekitar bulan Februari lalu, selepas peringatan 100 Tahun sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang diisi dengan kegiatan tadarus buku Bumi Manusia oleh semua siswa yang aktif di jurnalisme. Pada waktu gelar ekskul, Jurnalistik berkesempatan tampil kelima setelah English Club (EC). Diawali dengan pembacaan monolog oleh Mulyani yang juga sebagai Pemred Pers Pelajar DELAPENA. Berikut sedikit kutipan dari monolognya :
“Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa eropa, terutama Prancis. Di Prancis setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapat tempat yang selayaknya di dunia dan didalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan untuk menguasainya”
Nukilan monolog yang disampaikanyaitu diambil dari buku tetralogi buru Rumah Kaca Pramoedya Ananta Toer. Selepas monolog disusul perkenalan ekskul jurnalistik kepada semua siswa baru oleh Lulu Tri Ayundari, Nabilla Maharany, Azka Nurul Hikmat, dan Mulyani dengan diiringi backsound lagu ‘Secukupya’ dari Hindia, serta quote dari Soe Hok Gie yang menyebutkan bahwa : “setelah kemerdekaan tercapai, kenyataan menunjukan bahwa kita masih jauh dari tujuan”. Diksi itu diungkap kembali oleh aktor Nicholas Saputra dalam film “GIE”. Entah apa yang ingin disampaikan oleh anak-anak yang tergabung dalam Jurnalistik itu, sehingga memberikan penekanan atau highlight pada quote tersebut
Sebagaimana perkenalan ekskul tentu ada dialog interaktif dengan siswa baru, dandisampaikan berbagai pertanyaan. salah satunya ketika ditanyakan, buku apa yang kalian pernah atau sedang dibaca? tak lama seorang anak lelaki maju kedepan dan menyampaikan bahwa ia sudah pernah membaca buku tentang G 30 S/PKI yang menceritakan tentang penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal yang dilakukan oleh PKI. Mendengar paparan anak itu, paling tidak ada benarnya bahwa pelajaran sejarah senantiasa diserap ulang oleh setiap anak sekolah dari tahun-ke tahunnya. Artinya teks sejarah yang diajarkan guru terhadap siswa sekolah terutama pada peristiwa-peristiwa tertentu yang banyak mengandung kontroversi ataupun terkait kekuasaan selalu bersifat tunggal atau satu sumber yang sama, padahal sekarang banyak buku-buku ataupun referensi lain yang menjadi alternatif dan pembandingnya atas peristiwa sejarah tersebut. Sehingga siswa mampu memberi jawaban yang berbeda.
Setiap anak yang menjawab dan mengemukakan pandangannya terhadap pertanyaan yang diajukan diberi hadiah berupa buku dan cemilan ringan sebagai upaya apresiatif. Diakhir perkenalan, anak-anak punggawa pers pelajar DELAPENA tak lupa juga mengajak kepada siswa baru untuk bergabung dengan ekskul jurnalistik ini.
