Bincang Buku; Animal Farm

Foto: Suasana bincang buku Animal Farm (Sumber foto: Lulu Tri Ayundari)

Hampir setiap pekan kami selalu membahas satu buku yang telah disepakati. Hari Kamis, 15 Mei 2025 kemarin aku bersama Komunitas Baca Pasda SMA Pasundan 8 Bandung mengupas bukunya George Orwell yang berjudul Animal Farm. Buku tipis bermuatan 10 Bab dengan tebal 140 Halaman ini sangatlah menarik karena isinya begitu realists dengan penggambaran  dan juga kritikan pada sebuah revolusi yang terjadi, terlebih setelah pecahnya revolusi Bolsevik pada 1917. Ketertarikan pada buku yang diterjemahkan oleh Prof. Bakdi Sumanto ini karena aku sering menemukan dari berbagai artikel terutama yang membahas politik dengan banyak menukil buku ini. Rasa penasaran itulah yang membuatku untuk membelinya di salah satu market place. Secara perlahan aku mulai membacanya dan mengetahui rangkaian utama dalam cerita novel ini adalah seekor binatang.   

Walaupun bukunya terbit pertamakali pada 17 Agustus 1945, tetapi apakah masih relevan dengan kondisi zaman sekarang? tentu itu juga menjadi pertanyaan tersendiri. Paling tidak ada dua kemungkinan yang bisa menjawabnya. Pertama, buku Animal Farm dapat dinilai melampaui zamannya sehingga pada kondisi saat inipun masih kentara dan relevan untuk dibaca. Kedua, zaman yang tidak berubah, artinya kondisi pada saat buku ini terbit itu sama dengan kondisi sekarang, artinya sejarah yang sama terulang kembali.            

Jalan Cerita

Buku diawali dengan cerita tentang pemberontakan yang terjadi di sebuah peternakan hewan yang dimiliki oleh Pak Jones. Adapun yang menjadi penyebab pemberontakan karena adanya perasaan senasib sepenanggungan serta keinginan merebut kembali hak-hak yang sebelumnya dimiliki dan dirasakan semua binatang. Pemberontakan terjadi sangat cepat, yaitu setelah babi tua bernama Major di bulan Maret mengumumkan tentang mimpinya akan kepemimpinan binatang. Serta setelah membuat lagu sebagai ikon perlawanan berjudul  “Binatang Inggris” maka tak lama setelah itu tepatnya sekitar bulan Juni terjadi pemberontakan untuk menolak kepemimpinan Pak Jones.

Tokoh-tokoh babi yang menonjol dalam peristiwa tersebut seperti Napoleon, Snowball dan Squealer berhasil membuat ideologi baru yang mereka sebut Binatangisme atau paham yang dibuat untuk kepentingan semua hewan. Mereka juga yang membat sistem baru untuk mengganti yang lama, maka 7 perintah dilahirkan untuk mencegah sistem lama itu kembali. Adapun 7 perintah itu berisi:

1. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh

2. Apapun yang berjalan dengan empat kaki atau tetangga, adalah teman

3. Tidak ada hewan yang boleh memakai pakaian

4. Tidak ada hewan yang boleh tidur, ditempat tidur

5. Tidak ada hewan yang boleh minum alkohol

6. Tidak ada hewan yang boleh membunuh hewan lainnya

7. Semua hewan berkedudukan sama 

Meskipun sudah ada aturan tetapi ketidaksiapan para binatang untuk memimpin sendiri yang masih kurang membuat kediktaktoran baru dibawah kekuasaan para babi. Sifat Napoleon dan Snowball yang selalu menentang gagasan satu sama lain membuat konflik baru, terlebih dalam insiden pembuatan kincir angin. Napoleon menggunakan anjing-anjing yang telah diambil dari induknya untuk “pendidikan para anjing” , malah digunakan untuk menyerang Snowball yang tengah berpidato.

Setelah itu kepemimpinan Napoleon berjalan dengan menggunakan sistem doktrin yang semakin menguat, sebagai wujud untuk menunjukan keberhasilan pemerintah Napoleon. Dibantu oleh babi Squealer yang lihai dalam berbicara meyakinkan para binatang. Ketika Squealer menyampaikan bahwa buah apel dan susu dikhususkan hanya untuk babi dengan argumentasi bahwa itu untuk kecerdasan para babi dalam menjaga kepemimpinan tetap dikendalikan oleh binatang dan mencegah Pak Jones kembali datang, hampir semua binatang membenarkan dan mereka merasa kehidupannya lebih baik sebelum terjadinya pemberontakan. Meskipun dalam kenyataannya terkadang berbeda, para binatang tetap bekerja keras melakukan tugasnya terutama si kuda Boxer dan makanan-makanan yang seharusnya menjadi haknya tidak diterima sebagaimana mestinya.    

Revolusi untuk perbaikan yang berlangsung diawal tidak berjalan seperti yang diinginkan. Tujuh perintah yang sebelumnya di tulis dengan huruf besar ditengah dinding peternakan kini satu persatu mulai dilanggar oleh para babi. Pada sebagian binatang yang masih buta huruf dan tidak mengenal alphabet kondisi tersebut sering dimanfaatkan. Jika salah satu perintah dilanggar, babi Squealer dengan tegas mengatakan “Ingatan kalian lah yang salah, Kamerad”. Berbeda dengan si kuda Muriel yang bisa membaca, ia sering mengingat tujuh perintah itu. Namun selalu ada tambahan satu dua kata disetiap kalimat yang mengarahkan seolah-olah para babi selalu benar dan tidak pernah melanggar apapun. Sedangkan pemimpin Napoleon selalu dikelilingi anjing-anjing yang selalu menggongong menunjukan giginya yang tajam. Dua ayam jantan selalu berjalan didepannya menjadi terompet sebelum Napoleon berpidato. Squealer selalu mengatakan “Pemimpin kita, Kamerad Napoleon” selalu melakukan hal baik untuk semua binatang dan apabila ada kerusakan terjadi maka itu ulah babi Snowball yang berkeliaran dimalam hari untuk membalaskan dendamnya. Ketika para babi mengadakan pesta dengan mengundang manusia hingga meminum alkohol, Clover meminta Muriel untuk membacakan kembali Tujuh Perintah. Ternyata saatitu hanya tertera satu perintah yaitu : “Semua Binatang Setara, tetapi beberapa binatang lebih setara daripada yang lainnya” dan para kambing terus menyuarakan “Kaki empat baik, kaki dua lebih baik”

Pelajaran Bersama

Setelah aku membaca dan diskusikannya bersama Komunitas Baca Pasda, semakin memperkuat keyakinanku bahwa buku ini masih sangat relevan dengan Indonesia saat ini. Bagaimana rakyat yang semula berharap banyak perbaikan-perbaikan malah dihadapkan pada kondisi yang sering berbeda dengan harapan. Para pemimpin yang dalam kampanye mengatakan berantas korupsi, malah ikut korupsi. Hukum yang seharusnya adil untuk semua, malah terkadang adil untuk sebagian orang yang punya uangdan kekuasaan, dsb. Buku Animal Farm ini seakan memberi pelajaran bahwa tidak ada penyesalan dalam sejarah, setiap kegagalannya akan terus menjadi pembelajaran untuk perubahan yang lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *