Krisis di Indonesia

Foto: Masyarakat aksi demonstrasi pada 29 Agustus 2025 (Sumber foto: unggahan akun Twitter @/lucywiryono)

Bendera hitam bergambar tengkorak dinaikkan dengan posisi dibawah bendera merah putih yang suci pada momen hari kemerdekaan, itu merupakan bentuk perlawanan. Sungguh asing negeriku saat ini, dengan kondisi yang kacau dan porak poranda. Semakin tua semakin banyak permasalahan yang dihadapi — layaknya kehidupan manusia itu sendiri — perwakilan rakyat yang menari diatas kekuasaan, menikmati hasil dari jerih payah tuannya yang sekarat hidup dinegeri ini. Presiden yang diharapkan banyak untuk merubah kearah yang lebih baik, tetapi masih selalu dalam dikaitkan dengan bayang-bayang menteri dan pemerintah sebelumnya padahal kepemimpinan presiden saat ini sudah hampir satu tahun. Tidak ada yang benar benar dipihak rakyat. Slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” itu hanya menjadi pemanis ucapan yang keluar dari mulut penguasa saja.

Hidup Buruh!

Hidup Mahasiswa!

Hidup perempuan yang melawan!

Jumlah kami ratusan, mungkin bahkan ribuan. Tapi, hanya keberanian dan suara lantang yang kami bawa untuk menuntut hak yang seharusnya sudah kami dapatkan. Sebagaimana kita melihat dari gambaran seorang ibu yang mengenakan jilbab pink berdiri digaris depan tanpa ada ketakutan. Keberanian seorang wanita yang dengan tanpa rasa takut mati itu, kalau dianalogikan seperti halnya ketika setiap (wanita) melahirkan buah hatinya. Seperti itulah keberanian dan kematian serasa berdekatan

Peristiwa meninggalnya pengemudi ojol tidak cukup hanya dengan permintaan maaf karena itu tidak bisa menebus kematian seseorang. Punggung yang mereka lindas adalah tulang punggung sebuah keluarga besar. Makanya tuntutan menegakan hukum dan keadilan secara adil haruslah dilaksanakan secara terbuka tanpa ditutup-tutupi. Tetapi justru disinilah persoalannya karena hukum sering tunduk pada yang berkuasa, sehingga menghancurkan rasa keadilan masyarakat. Dalam perspektif yang ideal memang seharusnya keduanya (hukum dan keadilan) itu berlaku untuk seluruh rakyat tanpa memandang status ataupun jabatan, tetapi pada realitasnya seringkali bertabrakan yang membuat konflik vertikal ataupun horizontal ini tak kunjung usai

Belum lagi kalau kita melihat ada usaha pembungkaman terhadap media yang mengabarkan berita, melalui provokator amatir yang membuat bermacam hoaks untuk menimbulkan pecah belah diantara rakyat sendiri. Berbagai kerusuhan dan pembakaran yang terjadi hari-hari kemarin itu seperti neraka yang dihadirkan ditempat kelahiran kami. Jilitan api dimalam hari serta tembakan-tembakan gas air mata membuat kami merasa takut. Aku hanya bergumam dalam hati :

Pulang kawan, pulang. Keluarga menanti, jaga keselamatan, jangan mati.

Langit semakin gelap, pemburu semakin beringas memburu mangsanya. Aku jadi teringat salah satu prolog dibuku Laut Bercerita yang bertuliskan : “Kepada mereka yang dihilangkan, dan tetap hidup selamanya”. Rasanya Indonesia sama sekali tidak mengalami perubahan dari dulu — tetap mencari jati dirinya — sejarah terus berulang dan gelora api kemarahan masyarakat melahap bensin yang terus dituangkan pemerintah. Entah berapa kali kami harus mengunjungi gedung para penguasa itu bagai tempat wisata, bukan sebagai bentuk apresiasi, tetapi kemuakkan para buruh, mahasiswa dan seluruh rakyat. Gerbang tidak pernah terbuka bagi kami yang ingin menyampaikan aspirasi, atau mungkin jaraknya yang terlalu jauh sehingga setiap suara dari luar terlalu sayup. Meskipun intinya bukan dari jarak ataupun tempat karena itu bersifat teknis dan itu bisa dikondisikan. Tetapi dasarnya mereka hanya melihat kami secara statistik angka, sebuah angka- angka data. Setiap tuntutan yang disuarakan rakyat itu pada dasarnya sebagai cerminan dari apa yang sedang terjadi di kalangan masyarakat itu sendiri

Suara tuntutan itu bisa saja disampaikan oleh siapa saja dan dari kalangan mana saja, yang ingin menjadikan Indonesia lebih baik. Dan untuk menuju kearah butuh proses dan waktu yg panjang. Kalau dalam pandangan sejarah misalnya kita bisa menanyakan, butuh berapa lama Prancis mencapai revolusinya? Butuh berapa ide yang sanggup dikeluarkan masyarakat Russia untuk mulai melawan Kerajaan Russia pada kepemimpinan Romanov? Butuh berapa tahun bagi masyarakat Tiongkok untuk membangun negaranya menjadi yang terkuat? Berapa nyawa yang dibutuhkan untuk sebuah negara mencapai kejayaannya? Disaat dunia sekarang sedang berperang antar negara dengan negara, tetapi kami masih dijajah oleh bangsa sendiri, akankah kita bener bener merdeka? Menang telak untuk memimpin diri sendiri? Bermacam pertanyaan-pertanyaan itu kelak sejarah yang akan menjawabnya

Disaat Indonesia sedang mengalami krisis saat ini (Crisis in Indonesia), aku hanya bisa berharap untuk mereka yang masih berjuang hingga menang. Aku juga turut prihatin, malangnya negeriku. Maka lekas sembuh, buaian ibu pertiwi masih mendampingi kami melawan kejahatan manusia manusia serakah. Semoga Indonesia lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *