
Di negeri yang sibuk menggulir layar tapi jarang membalik halaman, kita sering merasa pintar hanya karena membaca judul. Kata-kata kehilangan bobotnya, berita palsu mengalir deras seperti air bah, dan kita—tanpa sadar—meneguknya sampai habis. Apakah kita benar-benar melek informasi atau hanya menjadi pembaca cepat yang buta arah, situasi di tanah merah putih ini telah berkata banyak: rakyat menelan mentah informasi tanpa pernah menimbang atau menelusuri kebenarannya. Dampaknya tentu akan menimbulkan krisis kejujuran serta menguatnya kemunafikan, yang selama ini menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kita sebagai bangsa besar tak kekurangan orang pintar, tetapi kita defisit orang-orang jujur yang berani berkata tidak atau menolak terhadap berbagai penyimpangan, apalagi ketika kekuasaan ada disekitarnya.
Buku—yang seharusnya menjadi pelita—kian jarang disentuh dan disapa, bahkan untuksebagian dari kita mungkin tidak mengenalnya karena waktu luang kita dihabiskan untuk bergumul didepan layar smartphone dan bukan untuk menyelami halaman-halaman teks buku. Informasi akurat dan detail yang tersimpan dalam beragam buku itu bisa kalah oleh potongan pesan singkat yang seringkali tak lengkap bahkan menyesatkan yang lewat dalam beranda media sosial. Dari sanalah lahir masyarakat yang cepat percaya, namun lambat memverifikasi. Tak mengherankan, jika data berbicara dengan nada muram. Meski tingkat buta huruf nasional untuk usia 10 tahun ke atas hanya 3,18%, masalah justru ada pada minat bacanya. Beberapa laporan-termasuk data UNESCO—menunjukkan hanya 0,001% penduduk Indonesia yang tergolong pembaca aktif, atau satu dari seribu orang. Hasil PISA (Programme for International Student Assesment) tahun 2022 pun menempatkan Indonesia di peringkat 70 dari 80 negara dengan skor membaca 359, dan itu di bawah rata-rata.
Namun, di tengah kabar suram ini masih ada secercah cahaya. Indeks Tingkat Gemar Membaca nasional perlahan naik, dari 63,9 pada 2022 menjadi 72,44 pada 2024, menandakan bahwa benih minat baca mulai tumbuh kembali. Pemerintah pun mengirimkan lebih dari 15 juta buku bacaan bermutu ke ribuan sekolah dasar dan PAUD di pelosok negeri, dengan harapan tingkat melek aksara dikalangan masyarakat bisa terdistribusikan dengan merata sehingga akses untuk mendapatkan informasi baiksecara nasional maupun global bisa terpenuhi.
Gerakan literasi kini tidak lagi hanya milik perpustakaan. Media sosial melahirkan ruang baru—bookstagram, booktok, hingga komunitas membaca daring yang mengubah buku menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Dari desa hingga kota, inisiatif seperti Pustaka Bergerak mengantar buku dengan sepeda, perahu, hingga kuda, membuktikan bahwa kecintaan pada kata tidak pernah benar-benar padam. Jika kata adalah pelita, maka membaca adalah cara kita menjaga cahayanya tetap hidup. Karena bangsa yang melek huruf akan sulit dibutakan oleh berbagai dusta yang akhir-akhir banyak tersebar di berbagai media sosial yang ada. Sebagai upaya untuk “memerangi” berbagai dusta yang tersebar, salah satunya adalah dengan menguatkan bahan bacaan dan memperluas cakrawala melalui buku. Untuk itu mari kita mulai membangun budaya baca dengan menanyakan secara kritis atas berbagai peristiwa-peristiwa yang terjadi ditengah masyarakat, lalu memverifikasinya (cek & recek) kepada sumber-sumber yang akurat. Apalagi kalau kita bisa mengajak orang disekitar untuk membaca bersama, tentu langkah ini akan semakin membesar dan meluas. Karena jika bukan kita yang mematahkan gelombang dusta ini, siapa lagi? Dan jika bukan sekarang, kapan lagi?
