Catatan Touring ke Curug Ngebul

Foto: Masjid Miftahussalam Sinumbra tahun 1959 (Sumber : Indra Prayana)

Ditengah Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja pasca gelombang demonstrasi, kami tetap mengisi libur pekan ini dengan agenda touring bersama yang jauh sebelumnya sudah direncanakan. Touring dalam bahasa kami adalah bermain untuk sedikit rehat dari pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Dalam bahasa Johan Huizinga seorang filsuf sekaligus sejarawan Belanda yang mengidentifikasi istilah Homo Ludens atau manusia itu sebagai mahluk yang bermain. Konsep bermain tentunya haruslah membuat seseorang yang melaksanakannya haruslah bahagia dan menyenangkan, dan bagi kami touring itu bagian dari ekspresi kesenangan. Proses bermain (touring) ini sudah sering dilakukan Komunitas Baraya SMA Pasundan 8 Bandung kalau waktu dan hasrat keinginan hadir secara bersamaan, untuk kali ini tujuannya menuju Curug Ngebul yang berlokasi di Desa Buni Jaya Kec. Pagelaran Cianjur Selatan yang dalam jangkauan Google Map bisa ditempuh sekitar 3 jam 50 Menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Kami berangkat hari Jum’at (5/9/25) sekitar jam 9 pagi, dari yang semula dijadwalkan jam 7.30 WIB. Keterlambatan waktu atau jam ngaret berangkat ini tentu sering menjadi kebiasaan buruk. 

Dengan menggunakan 8 motor kami memulai perjalanan dari titik kumpul Jl. Cihampelas 167, adapun perjalanan kali ini diikuti oleh  kawan:  Herman Maulana, Eka Kartiwa, Indra Lesmana, Jaka Asigim, Fajar Alam Suganda (anda), Dimas Wafi, Wildan, Sabila Ardiansyah, Febiansyah, dan saya sendiri. Rute yang kami tempuh ke arah Pasteur, Cimindi, Cipatik, Soreang dst. Baru sampai perbatasan Soreang dan Ciwidey kendala mulai ada dengan mogoknya motor kawan Herman, entah busi atau apa hingga motornya tidak bisa hidup. Akhirnya beberapa orang dari kami harus mendorong dengan cara (Step) untuk mencari bengkel motor, disinilah pentingnya kendaraan itu harus prima kalaudalam perjalanan jauh. Setelah kendala motor mogok beres, akhirnya kami melaju menembus jalan Raya Ciwidey untuk masuk ke arah Rancabali dan sampai di perkebunan teh Sinumbra untuk beristirahat dan melaksnakan solat jum’at di Mesjid Miftahussalam yang berada ditengah perkebunan teh PTPN VIII. Mesjid yang cukup besar ini didirkan oleh salah seorang tokoh perkebunan nasional Max Salhuteru pada tahun 1959 setelah mengambil alih dari perkebunan milik Belanda. 

Setelah Ishoma (Istirahat, sholat, makan) secukupnya kamipun melanjutkan lagi perjalanan menyusuri perkebunan teh hingga melewati banyak air terjun  (curug) denganpemandangan yang eksotis di perbatasan dengan Cianjur Selatan. Beberapa curug yang terlewati seperti : Citambur, Cipelah  dan Curug Cikurutug terlihat dengan keindahannya dengan memuntahkan air dari tebing-tebing bebatuan. Kuda besi kami hanya melewatinya karena tempat yang dituju masih cukup jauh. Ditengah hujan yang mendera dan setelah melewati banyak jalan-jalan rusak dengan lumpur tanah dan berbatu, akhirnya kami sampai juga di Curug Ngebul sekitar jam 17.30 sore.

Curug Ngebul

Curug Ngebul sendiri terletak dipelosok yang terhalang hutan rimbun dan cadas bebatuan. Dalam catatan sejarah tempat ini banyak mengundang mitos dan folklor yang beredar dari mulut ke mulut masyarakat setempat, konon namanya sendiri berasal dari cerita  seorang wanita yang melompat dari ketinggian sehingga saat sekarat nafasnya seperti mengeluarkan asap. Tetapi kami lebihmempercayai bahwa jatuhnya air dari ketinggian lebih  100 meter dengan volume besar yang menimpa bebatuan dan menimbulkan uap air seperti asaplah, yang lebih tepat kenapa air terjun ini dinamakan curug ngebul. Suasana alam serta eksotisnya curug yang masih “perawan” pernah kami rasakan pada medio Mei 2017, ketika beberapa orang dari kami pertamakali mendatanginya.

Lain cerita ketika kami datang lagi pada pekan kemarin, nampak bangunan irigasi sudah berdiri disekitar curug, belum lagi volume air terjunnya tidak sebesar dulu. Setelah memarkirkan motor dan membayar retribusi biaya masuk curug sebesar Rp. 10.000 dan untuk tiket parkir motor Rp. 5.000 / motor. Harga tersebut berdasar SK Perhutani Cianjur sebagai badan pengelola kawasan curug. Untuk sampai ke lokasi harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 15 menitan.  

Menjelang masuk magrib hari gelap, kabut mulai menyelimuti sekitar curug ditambah hujan yang tak kunjung berhenti. Nampak dua buah tenda camping berada dilokasi, sedangkan kami berada diposisi yang lebih tinggi dekat bangunan gazebo mini sebagai tempat istirahat. Beberapa gelas kopi serta rokok menemani bincang-bincang diantara kami. Sebagian lagi memasang tenda dan memasak untuk makan malam bersama. Pa Anda sebagai juru masak dengan telaten mempersiapkannya, tetapi belum sempat selesai masak terdengar suara gemuruh yang dahsyat dengan letupan-letupan keras yang berasal dari dinding-dinding curug. Saking keras dan dahsyat gemuruh itu mengguncangkan tenda yang kami buat, sehingga membuat kami panik dan berlarian kedataran yang lebih tinggi. Saya sendiri bergegas mengambil beberapa barang yang bisa dibawa. Dalam kepanikan tiba-tiba muncul dua orang dari arah bawah yang seluruh badan dipenuhi tanah lumpur dan luka diwajahnya, dengan rasa takut dan tergopoh mereka meminta pertolongan.

“pa tolong..pa …kita kena longsor”. 

Akhirnya kita semuanya meninggalkan lokasi untuk mencari tempat aman di sebuah warung yang terletak sebelum pintu masuk. Gemuruh dari longsoran tanah masih terus terdengar meskipun dilokasi yang aman. Dua orang yang menjadi korban tersebut bernama Riko dan Lintang berasal dari Cileungsi Bogor. Setelah membersihkan bekas lumpur dan memberi pakaian kering seadanya, mereka menceritakan kejadian yang dialaminya.

“Tadi saat gemuruh besar terdengar, aku sedang didalam tenda. Aku penasaran ingin melihat. Tetapi baru saja buka tenda gulungan tinggi longsor sudah didepan aku, ya jadinya kena longsor”. ungkap Riko 

Akhirnya kami semua menghabiskan waktu istirahat di warung milik kecil milik pa Hendra dengan membincangkan kengerian longsor yang baru saja terjadi. Sebagian dari kami menghabiskan waktu dengan begadang sambil bermain kartu gapleh.

Butir embun masih menempel diberbagai dedaunan ketika sang fajar secara perlahan mulai menampakan diri menandai pagi hari. Terdorong rasa penasaran saya dan bebrapa kawan  kembali ke lokasi curug untuk melihat kondisi longsor tadi malam. Setelah melihat sekeliling curug yang tertimbun dengan tanah, pohon-pohon tumbang, serta batu- batu ukuran besar berserakan itu menggambarkan betapa dahsyatnya longsor tersebut. Terlebih ketika bangunan toilet (wc) serta musola yang sudah “hilang” tertimbun. Padahal beberapa menit sebelum longsor besar menyapu semuanya, Pa Jaka dan Dimas sempat ke toilet tersebut. Jadi tidak bisa terbayangkan seandainya taqdir berkata lain pada saat itu. Saya sempat berbincang dengan warga setempat yang sama-sama ingin melihat lokasi longsor.

“Ini tidak semata bencana longsor ..pak “. Ucap pa Edi salah seorang warga kepada saya.

“Disini banyak yang melakukan mesum,  dengan dalih camping”. Ungkapnya lagi.

Saya menafsirkan ucapan warga tersebut bahwa bencana itu tidak hanya faktor alam semata, tetapi perilaku maksiat juga bisa mengundang bala. Terlepas dari pandangan itu, tetapi memang manusia harus bisa mengambil pelajaran dari setiap apa yang terjadi. Longsor yang kami saksikan itu meskipun skalanya “kecil” diseputar lokasi curug tetapi begitu mengerikan dan menakutkannya apalagi kalau kita membaca “bukunya” Tuhan, banyak peringatan-peringatan yang seharusnya menjadi ibroh bersama, misalnya:  “dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (Q.S. 101 : 5) dst.

Sekitar jam 9 pagi kami bersiap untuk bergegas pulang, jalur pulang yang dilewati berbeda ketika datang. Kondisinya sangat buruk, selain jalanan yang dipenuhi bebatuan juga melewati tanjakan dan turunan dengan kecuraman yang ekstrem dan berbahaya. Kehati-hatian dan ketangkasan dalam mengendalikan kendaraan motor harus tetap fokus. Diperbatasan simpang Pasirangin dan Pasirkuda, kami istirahat sambil mengisi bahan bakar,  makan cemilan dan kopi. Tak lama perjalanan dilanjutankan menembus perkampungan warga, curug yang sebelumnya dilewati, dan tentu perkebunan teh. Untuk terus dilanjutkan ke Bandung.

Sampai ketemu di Touring Baraya selanjutnya……     

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *