
“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah ditengah jalan, saya akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputera merdeka dan berdiri sendiri. Sudah senang benarkah hati saya bila ibu bapak gadis gadis lain lainnya yang hendak berdiri sendiri pula, tiada dapat mengatakan: belum ada seorang juapun orang kita yang berbuat demikian.”
Dalam salah satu surat Kartini kepada sahabatnya. Walau demikian jalan menempuh pendidikan bagi perempuan sudah terbuka lebar seiring berkembangnya zaman, namun pandangan negatif tetap melekat terhadap peran sosial perempuan pada sistem tatanan masyarakat. Sesuai dengan surat dan cita cita R.A Kartini dalam mewujudkan emansipasi dalam bidang pendidikan untuk menjadikan perempuan berpikiran maju yang kelak akan mengajarkan kembali kepada anak anak dan bangsanya, maka perjuangannya tidak akan berhenti di sana, ide dan gagasannya akan terus hidup dari generasi ke generasi yang kelak akan memimpin. Seperti salah satu surat R.A Kartini kepada Nona Zeenhandelaar, “Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera tiada akan maju dengan pesatnya, apabila kaum wanita itu ketinggalan dalam usaha tersebut. Perempuan jadi pembawa peradaban.”
Sejak memasuki jenjang SMA, saya memiliki ambisi kuat untuk memulai hal baru. Selain fokus dalam bidang akademik, saya mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti jurnalistik Delapena di SMAS Pasundan 8 Bandung yang bergerak dibidang membaca dan menulis. Pembentukan Delapena sendiri diawali dengan kegiatan literasi yang dihadiri oleh 4-5 orang atas inisiatif saya, teman-teman dan guru untuk berdiskusi dan membacakan buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, pada 6 Febuari 2025 bertepatan dengan perayaan 100 tahunnya sang penulis. Pekan berikutnya dilanjutkan dengan memaparan buku Laut Bercerita karya Leila S Chudori oleh salah seorang siswa. Perbincangan buku setiap pekan menjadi kegiatan rutin kami disela-sela jam pulang sekolah. Sudah banyak buku dengan berbagai genre yang kami perbincangkan, dari tema-tema sastra, politik, dan tema-tema populer dikalangan remaja lainnya. Kegiatan literasi tersebut berkembang menjadi lembaga Pers di sekolah dan aktif mengeluarkan media cetak buletin disetiap bulannya, juga dalam media sosial seperti instagram @dela.pena_ dan website https://delapena.smapasundan8bdg.sch.id menjadi ruang publikasi ide dan tulisan kami, serta beberapa karya yang ditempelkan pada majalah dinding sekolah.
Ikut mendirikan dan mendapat kepercayaan untuk menjadi Pemimpin Redaksi Delapena merupakan sesuatu hal yang baru bagi saya. Menjadi pemimpin tidak hanya status saja, tetapi peran yang menyatakan bahwa ia mampu bertanggung jawab dan dapat menyatakan kepada semua orang bahwa semuanya memiliki hak yang sama, terlepas gendernya sebagai laki-laki atau perempuan. Dalam hal itu, menempatkan peran anggota lainnya dengan berbagai passion berbeda menjadi hal utama dalam mengorganisir sebuah kelompok (Delapena). Seperti ketika menjalankan tugas proses liputan, tentu seorang pemimpin harus bisa menentukan bagian-bagian tugasnya, wawancara kepada nara sumber di lapangan, menulis artikelnya, mendokumentasikan kegiatan, mencetak, mempublikasikan dan menyebarkan buletin di area sekolah.
Selanjutnya pengarahan penerbitan tulisan yang perlu dikirimkan melalui e-mail: [email protected] untuk diperiksa apakah terdapat kata kata yang perlu diperbaiki dengan arahan Pembina, karena tidak memungkinkan bagi saya dan rekan lainnya menjalankan sesuatu tanpa bimbingan seorang guru.
Hingga saat ini, menjadikan anggota lainnya nyaman adalah yang paling berat. Tidak jarang bahwa proses menyesuaikan individu dengan kelompok baru atau sebaliknya adalah hal yang sulit. Saya berusaha menghindari perpecahan maupun konflik, tentu dengan memberi harapan bahwa semua diskusi & kegiatan yang sudah dilakukan bersama ini dapat memberi manfaatnya tersendiri untuk kita semua.
Dengan adanya suatu gerakan literasi di sekolah, saya ingin SMAS Pasundan 8 Bandung dan mengajak sekolah lainnya juga untuk mementingkan bidang literasi dalam pemberdayaan pendidikan bagi perempuan maupun laki laki, untuk mengarah ke Sumber Daya Manusia yang lebih baik. Ini berarti masa depan Indonesia ada ditangan generasi muda, pendidikan yang merata dan inklusif akan menciptakan masyarakat dan pemimpin yang terdidik, kemudian meningkatnya literasi mampu menghapuskan segala opini usang termasuk pandangan negatif terhadap perempuan dalam menerima haknya dan berganti kepada pandangan yang lebih maju.
Nama R.A Kartini dikenal luas dalam bukunya yang berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’, (Habis Gelap Terbit Terang). Kartini tidak hanya menulis surat, tetapi mengeluarkan pemikiran yang terbenak dalam dirinya menjadi sebuah acuan baru. Melihat rendahnya minat baca dan menulis saat ini menjadi sebuah pertanyaan bagaimana jadinya jika Kartini tidak pernah menulis surat? Saya membayangkan seandainya Kartini tidak menulis pada saat itu, tentunya tidak akan perubahan dikalangan perempuan Indonesia umumnya. Dan Kartini merupakan perempuan yang memulai perubahan itu.
Jika melihat para tokoh yang menciptakan ideologi atau keyakinan diluar sana, pandangan baru itu sendiri selalu muncul melalui tekanan lingkungan sekitar dan keinginan untuk memperbaikinya, begitupun dengan Kartini. Maka Literasi dalam pendidikan tidak hanya membaca menulis, tetapi juga mampu memahami dan menerapkan sesuatu dan tidak bisa disangkal bahwa menulis dapat mengubah dunia. Dan saya menyatakan diri sebagai bagian dari Kartini yang berusaha melakukan perubahan sekecil apapun dengan menuliskan berbagai ide dan gagasan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dan diskriminatif terhadap perempuan.
Selamat Hari Kartini..
