
Pada hari Minggu 12 april 2026, kami Pers Pelajar DelaPena SMA Pasundan 8 Bandung berkesempatan untuk menghadiri dan mengisi acara diskusi buku Pasar Minggu Bandung ke 43, bertempat di Kedai Jante Jl. Garut no. 2. Rekan saya Mulyani dan Jeihan Amadea menjadi pembahas atau pemantik untuk diskusi buku Perempuan di Titik Nol karya nawal El Saadawi. Setibanya di lokasi, kami disambut dengan hangat dan dipersilahkan untuk menunggu giliran dengan waktu yang telah ditentukan. Sambil melihat lapak-lapak yang menjual berbagai jenis buku dan aneka barang lainnya. Tiba saatnya kami dipanggil untuk memulai diskusi, saya selaku moderator memulainya dengan sedikit sambutan pengantar yang selanjutnya saya serahkan kepada pembicara untuk memulai membahas isi bukunya.
Dalam paparan pembahas novel Perempuan di Titik Nol ini merupakan buku yang ditulis seorang novelis sekaligus aktivis perempuan berkebangsaan Mesir Nawal El Saadawi berdasarkan pengalamannya ketika bertemu dengan tahanan wanita bernama Firdaus di penjara Qanitar. Nama Firdaus juga yang dijadikan tokoh utama dalam novel tersebut. Novel ini menceritakan perjalanan Firdaus seorang gadis Mesir yang tumbuh dikeluarga kelas bawah dimana ayahnya seorang petani miskin dan ibunya mengurus rumah tangga dengan kepatuhan. Perjalanan dimana Firdaus merasakan masa transisi tradisional saat ketidakadilan kekuasaan antara laki laki dan perempuan yang terbelakang dengan cara memanfaatkan eksploitasi seksual bagi para wanita dan kekerasan fisik pada istri-istrinya dengan dalih yang dibuat buat dan ancaman. Hubungan Firdaus kepada Ayah, Paman, Suaminya, Bayoumi, Ibrahim dan Germo yang ia temui memiliki sifat yang sama dalam benaknya — tidak lebih baik dari seekor serangga.
Ia mengatakan bahwa, “Akan tetapi, semua lelaki yang saya kenal, tiap orang diantara mereka, telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat: untuk mengangkat tangan saya dan menghantamnya ke muka mereka. Akan tetapi, karena saya seorang perempuan, saya tidak berani untuk melakukannya. Karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut di bawah lapis lapis riasan muka saya”
Semua yang telah terjadi membuat Firdaus menyadari bahwa keadaan di Mesir saat itu sama sekali tidak mengganggap perempuan sebagai sesama yang hidup, mereka hanya dapat memilih menjadi seorang istri, pelacur atau karyawati yang diupah murah — dan tidak lepas dari eksploitasi seksual dari para atasan. Ia memutuskan bahwa lelaki hidup diantara kebohongan yang mereka kuasai dan para perempuan ditipunya juga. Firdaus menyadari bahwa “Para lelaki memaksa perempuan menjual tubuh dengan harga tertentu dan bahwa yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelajar bebas daripada seorang istri yang diperbudak”

Hingga diakhir perjalanan Firdaus melakukan perlawanan dari emosi yang telah terpendam begitu lama. Ia membunuh seorang lelaki dan akan segera dihukum mati sebagai akibat dari tindakannya. Tetapi hingga diakhir hayatnya ia masih dalam pendirian juga, tidak menyesali apapun dan tidak takut dengan kematian sekalipun.
Selepas penyampaian isi buku oleh pembahas, moderator membuka sesi pertanyaan untuk berbagi informasi atau sudut pandang. Pertanyaan pertama dilontarkan :
”Harusnya dari era Kartini dan sekarang ada perubahan terkait patriarki, tapi kenapa sih sekarang malah makin berkembang dan kompleks?”
“Saya mau tambahin aja mengenai sistem patriarki yang masih hidup saat ini. Menurut saya ini ada hubungannya dengan agama juga, dimana laki laki cenderung bisa melakukan KDRT dengan dalih lebih tahu agama, sehingga nilai-nilai agama sering disalah artikan”. Kata Mulyani
Kemudian pertanyaan selanjutnya, “Kira-kira teman-teman tahu tidak, mengapa judul bukunya ‘Perempuan di Titik Nol’?”
“Kira kira ya, mungkin karena Nawal di sini menganggap Firdaus sebagai sesuatu yang baru, dimana dia ya membunuh seorang pria. Jadi ini tuh titik awal perempuan Mesir melakukan perlawanan gitu.” Ungkap pemantik
Berlanjut ke pertanyaan ketiga, “Nilai-nilai apa yang ingin disampaikan oleh si penulis di buku tersebut?”
“Mungkin karena kondisi di Mesir dan Indonesia tidak jauh berbeda jadi saya menganggap bahwa buku ini tuh membuka mata kita buat lebih menyadari bahwa di zaman itu tuh laki laki berkuasa dan perempuan terbelakang karena sistem itu sendiri. Jadi, memang bahwa perempuan takut kehilangan suaminya itu karena mereka tidak diajarkan untuk bertahan hidup & mempunyai kemandirian secara finansial, karena mereka tidak bisa memperoleh pendidikan layak.” Lontarnya.
Sedangkan dalam pandangan Qaris Tajudin (Direktur Tempo Institute), yang turut menyimak diskusi, menyebutkan bahwa buku Perempuan di Titik Nol ini merupakan buku yang cukup progresif karena menghadapkan kondisi perempuan-perempuan pada saat itu dengan pemikiran Nawal El Saadawi yang katanya berpaham Atheist. Ia juga sepakat beberapa poin yang disampaikan pembicara Mulyani yang menyinggung nilai-nilai agama yang sering dijadikan pembenaran kuasa sistem patriarki atas perempuan.
Setelah beberapa pertanyaan dan pernyataan tersebut, moderator menutup diskusi. Lalu diakhiri dengan sesi foto bersama. Sembari menunggu jemputan, kami masing-masing diberi minuman penyegar oleh pemilik Kedai Jante, tempat kami berdiskusi. Ya, sebuah kedai yang sudah menjadi tempat berharga bagi kami, di mana kami mempelajari hal-hal baru dan banyak pengalaman berharga kami dapatkan. Setibanya mobil jemputan di depan perpustakaan, kami pun segera menempuh perjalanan pulang.
