Dimanakah kamu, Kekasih Halaman?

Foto: Suasana di Pasar Buku Palasari (Sumber foto: Mulyani)

Ada sebuah kesunyian yang semakin nyaring belakangan ini. Bukan kesunyian perpustakaan atau taman bacaan, melainkan kesunyian dari buku-buku yang menunggu untuk dibuka. Mereka berjejal di rak-rak toko, terpajang rapi di etalase, atau mungkin sudah sampai di rumah namun masih terbungkus plastik, menanti belaian perhatian yang tak kunjung tiba. Oktober, Bulan Literasi mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke mana perginya para kekasih halaman?

Dunia semakin cepat. Notifikasi bersahutan, timeline media sosial tak pernah habis, dan tuntutan hidup seolah tak memberi kita napas untuk sekadar duduk tenang. Dalam hiruk-pikuk ini, buku—sahabat lama yang setia—perlahan terpinggirkan. Ia dianggap terlalu lambat, terlalu menuntut, dan tidak memberikan kepuasan instan. Sementara itu, layar-layar di genggaman kita menawarkan warna, suara, dan sensasi yang menggoda. Segalanya bisa diakses dalam hitungan detik. Cerita disajikan lewat video singkat, opini bergulir dalam kolom komentar, dan pengetahuan dikemas dalam bentuk ringkas yang seolah tak butuh perenungan.

Namun, adakah kita sadar bahwa di balik kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan menghilang? Kesabaran untuk memahami. Keheningan untuk merenung. Imajinasi yang tumbuh dari kata-kata yang sederhana.

Buku tidak bisa berlari secepat video, tidak bisa bersuara seperti podcast, dan tidak bisa bersinar seperti layar. Tapi di balik kesederhanaannya, buku menyimpan keajaiban yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Ia mengajak kita menapak pelan, menyelami kalimat demi kalimat, mengizinkan pikiran kita menari di ruang yang tak bisa disentuh oleh algoritma. Membaca bukan sekadar aktivitas; ia adalah bentuk perjumpaan—antara diri, penulis, dan dunia yang diciptakannya.

Dulu, ada romantisme yang tumbuh di antara manusia dan buku. Kita mengenang aroma kertas baru, halaman yang mulai menguning, dan catatan kecil di pinggir teks. Kita membawa buku ke mana-mana, menjadikannya teman di perjalanan, di kafe, atau di kamar yang sunyi. Kini, banyak dari kita membawa buku digital—lebih praktis, lebih ringan—tapi entah mengapa, rasa intim itu seakan berkurang. Ada jarak yang halus, tak kasat mata, antara jari yang menyentuh layar dan hati yang meresapi kata.

Mungkin karena membaca menuntut ketenangan—sesuatu yang semakin langka di zaman serba cepat ini. Kita terbiasa pada alur cepat dan informasi singkat. Buku, sebaliknya, menuntut komitmen. Ia meminta kita untuk berhenti sejenak dari segala kebisingan dan benar-benar hadir. Ia ingin kita mendengarkan tanpa terburu-buru, memahami tanpa tergesa, dan berimajinasi tanpa batas waktu.

Namun, bukan berarti minat baca benar-benar padam. Banyak yang masih mencintai buku, hanya bentuknya yang bergeser. Kita menemukan komunitas daring, klub buku virtual, dan diskusi sastra yang hidup di dunia maya. Anak muda menulis ulasan di media sosial, membuat video berisi rekomendasi bacaan, dan merayakan buku dengan cara mereka sendiri. Literasi masih hidup—ia hanya berubah wujud. Tapi perubahan itu menimbulkan pertanyaan: apakah bentuk baru ini masih mempertahankan makna mendalam dari membaca, ataukah hanya menjadi bagian dari tren yang berlalu begitu saja?

Di balik segala keraguan itu, mungkin yang paling penting bukan bagaimana kita membaca, melainkan mengapa kita membaca. Buku bukan sekadar kumpulan kata; ia adalah jendela menuju empati. Dari sana, kita belajar memahami orang lain, menelusuri batin manusia, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu sesederhana yang tampak. Dalam setiap kisah, ada pelajaran; dalam setiap kalimat, ada refleksi; dalam setiap akhir, ada permulaan baru bagi pikiran kita.

Literasi, pada hakikatnya, bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia adalah kemampuan untuk berpikir, menimbang, dan memilih. Ketika seseorang membaca, ia belajar membedakan suara dan makna. Ia belajar menunda reaksi, untuk merenungkan terlebih dahulu sebelum menilai. Dalam dunia yang dipenuhi kabar bohong dan opini yang berhamburan, kemampuan seperti ini menjadi amat berharga. Buku mengajarkan kita untuk tidak mudah puas dengan satu sudut pandang. Ia membiasakan kita menempuh perjalanan panjang menuju kebenaran, bukan sekadar menerima apa yang tampak di permukaan.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang Bulan Literasi, sejatinya kita sedang berbicara tentang upaya menemukan kembali diri kita. Kita sedang berusaha membangun ulang kebiasaan yang dulu sederhana tapi bermakna: membuka halaman, menyusuri kata, dan membiarkan diri tenggelam di dalamnya. Kita tidak harus membaca karya besar atau buku berat. Kadang, satu puisi pendek atau satu cerita ringan sudah cukup untuk menyentuh hati dan menyalakan api kecil di kepala.

Dan mungkin, di tengah kesibukan yang menelan waktu, kita bisa mencoba sesuatu yang sederhana: membaca satu halaman setiap hari. Hanya satu. Tak perlu terburu-buru. Biarkan kata-kata itu menetap, meresap, dan menjadi bagian dari hari kita. Sebab, membaca bukan perlombaan; ia adalah perjalanan. Setiap kata yang kita baca adalah langkah kecil menuju diri kita yang lebih peka dan lebih sadar.

Lalu, jika buku-buku itu bisa berbicara, mungkin mereka tidak akan marah karena dilupakan. Mereka hanya akan berbisik lembut, “Kami masih di sini, menunggu kamu kembali.”

Menunggu kamu yang dulu pernah meneteskan air mata di atas halaman roman, kamu yang pernah tertawa di tengah kisah fantasi, kamu yang dulu menandai paragraf favorit dengan tinta warna-warni. Mereka menunggu kamu—kekasih halaman yang sempat pergi, tapi selalu punya jalan pulang.

Jadi, di manakah kamu kini, kekasih halaman? Apakah dunia terlalu bising hingga kamu tak lagi mendengar panggilan lembut dari kata-kata yang dulu kamu cintai? Atau mungkin kamu sedang mencari alasan untuk kembali?

Kalau begitu, biarlah bulan ini menjadi alasan itu. Kembalilah membuka halaman. Kembalilah mencintai kata. Sebab di antara huruf-huruf yang diam, ada kehidupan yang menanti untuk kamu hidupkan kembali. Dan di setiap buku yang kamu baca, sesungguhnya kamu sedang membaca ulang hatimu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *