
Ketika kemerdekaan datang, di situlah tokoh Soekarno terlintas sebagai Presiden Pertama Indonesia dengan segala perjalanan pergerakannya dalam melawan penjajahan Belanda. Termasuk mengawali pergerakan politiknya yang ikonik di Bandung. Penjara Banceuy menjadi salah satu destinasi yang menjadi tujuan utama untuk mengenang perjuangan Ir. Soekarno dan selama hidupnya di pengasingan. Maka, dalam melengkapi catatan perjalanan kemerdekaan di Bandung, Pers Pelajar Delapena mengunjungi Penjara Banceuy pada hari jumat (14/8/2026), begini kutipan bersama Pa Yudi, seorang pemandu Penjara Banceuy:
Penjara Banceuy ini tahun berapa dan dalam perkara apa hingga Bung Karno dipenjara di tempat ini?
“Tadi, awal mulanya itu Penjara Banceuy itu dibangun pada abad ke-19 di tahun 1877 di masa kolonial Belanda. Penjara Banceuy dibangun dengan luas 1 hektar, dibagi untuk menjadi dua kelas: untuk tahanan para Pepetek dan untuk tahanan para politik dulunya,
Kalau itu zaman sekarang itu narapidana biasa, pembunuh, pencuri, dan orang-orang kriminal lah Pepetek itu. Dan kebetulan untuk para politik itu ada 16 sel karena di zaman dulu itu jarang yang melakukan sebuah pemberontakan, hanya Pak Soekarno dan kawan-kawan dulunya. Nah, untuk tahanan Pepetek bisa dilihat fotonya ya seperti ini, di pintu depannya ada ventilasi udara. Sedangkan untuk tahanan para politik itu benar-benar didesain seperti peti mayat, nah, tanpa ventilasi udara,” kata Yudi.
Berarti sekarang kira-kira ada berapa atau cuma satu sel doang yang tersisa?
“Nah. Jadi, berhubung pada tahun 1983 itu ya, di masa setelah Pak Soekarno ditahan ya, eh jadi Pemerintah Kota Bandung itu melakukan sebuah pemugaran bersama pihak ketiga yaitu PT Intarna Permai untuk memindahkan Sel Banceuy ini ke Jalan Soekarno-Hatta, Kompleks Mekar Wangi. Dan di Banceuy ini, eh di Banceuy yang panjangnya 600 meter ini, di Jalan Banceuy dibangunnya sebuah pertokoan tahun ’86. Untuk apa? Setelah pemugaran selnya dibangun pertokoan itu untuk meningkatkan aset ekonomi Bandung, dan kedua menjadikan Banceuy sebagai pusat kota karena dekat dengan alun-alun.
Jadi ada satu sel saja. Tadi pertanyaan awal kenapa Pak Soekarno sampai bisa ditahan di sini ya, ketika beliau itu dulu setelah lulus sebagai Insinyur Teknik Sipil, setelah menikah sama Ibu Inggit juga ya, di tahun 1923 beliau menikah, 1926 beliau lulus sebagai Insinyur Teknik Sipil. Nah, setelah lulus. Ia bersama Ibu Inggit itu beliau berjalan-jalan ke desa yang namanya Desa Cigereleng. Nah, di situ baru bertemu sama seorang Marhaen-Marhaen yaitu adalah seorang petani-petani yang ingin berdiri di atas kaki sendiri, tidak mau ada jajahan. Nah, sehingga dari situ terbentuklah yang dinamai dengan PNI, Perserikatan Nasional Indonesia. Nah, kalau dulu itu enggak ada partai
Sebelum merdeka Indonesia enggak ada partai, adanya perserikatan. Nah, kenapa dianggap sebagai pemberontak? Karena yang masuk ke PNI itu, ke politiknya Pak Soekarno itu, Marhaen-Marhaen itu per 1 bulan itu 1.000 orang. Nah, dikali berapa 2 tahun itu jadi berapa ribu yang masuk. Nah, makanya di situ Pak Soekarno divonis sebagai pemberontak bersama Pak Gatot, Pak Maskun, dan Pak Supriadinata, sehingga setelah berpidato di Yogyakarta pada tahun 1929 ditangkap di Jogja atas izinnya dapat atas suratnya dari sang Ratu Belanda bahwa dinyatakan sebagai pemberontak dan dibawa dari Jogja ke Bandung itu menggunakan sebuah kereta dan dijebloskan ke Sel Banceuy ini,” kata Yudi.

Selain tempat ini, di mana saja di Bandung yang terkait dengan perjuangan Soekarno?
“Oke. Nah, kalau mau menyusuri jejak Pak Soekarno di Kota Bandung, itu yang pertama itu rumah beliau bersama Ibu Inggit Garnasih, kebetulan rumahnya juga sekarang di situ sejarahkan sama kayak di sini. Kedua Sel Banceuy-nya ini, ketiga Gedung Indonesia Menggugat pengadilannya, Konferensi Asia Afrika juga itu mah setelah merdeka. Perundingan, terus Monumen Perjuangan Monju ada jejak-jejaknya. Jadi, kenapa Bandung disebutnya kota sejarah? Karena banyaknya jejak Pak Soekarno di Kota Bandung dan awal mulanya titik nol Indonesia itu di Kota Bandung, sehingga beliau menuliskan di sebuah buku catatannya, beliau itu yang bernama Bapak Ir. Soekarno sang Proklamator Indonesia itu menorehkan tinta emasnya di Kota Bandung.”
Apakah penjara ini dulunya dikhususkan untuk tokoh-tokoh pergerakan Indonesia saja?
“Penjara di ini tuh dikhususkannya bukan untuk para tokoh-tokoh, melainkan penjara umum dulunya ya. Tapi ada untuk khusus politik. Cuman yang lebih kejam itu untuk tahanan para politik.”
Sampai tahun berapa penjara ini di dipugar dan menjadi objek sejarah seperti sekarang?
“Oke, ini menarik nih. Jadi, Penjara Banceuy ini berdiri kokoh seperti itu sampai 1981- 1982 itu mulai melakukan negosiasi dan akhirnya di 1983 dilakukan pemugaran, lalu dialih-dipindahkan ke Soekarno-Hatta. Dan dari tahun ’83 sampai 2014, Sel Banceuy ini, sel pertamanya Pak Soekarno dan titik nolnya Indonesia ini dirawat dan dipelihara sama almarhum bapak saya dengan anggaran pribadi. Karena saking bapak saya mencintai Pak Soekarno, biar apa? Biar tetap bisa terjaga dan bisa dikenalkan kepada anak-anak muda sekarang.
Semua menggunakan dana pribadi dulunya, dan 2015 ini baru diakui sama provinsi, jadi masuknya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Disparbud. Tapi bukan berarti jadi dibeli pemerintah. Ini dulunya masih ke masuk ke pemerintah juga ya, cuman kurang terlalu diperhatikan sehingga dulu yang merusak itu di masa Orde Baru karena tempat sejarah Pak Soekarno itu ingin ditiadakan, nah makanya bapak saya bersikeras mempertahankan.”
Apa yang bisa kami pelajari sebagai pelajar nih terutamanya saat berkunjung ke tempat ini?
“Kalau untuk anak-anak muda, seperti yang sering dikatakan sama Pak Soekarno itu, beliau sering mengatakan yang dinamakan dengan Jas merah—Jangan sekali-kali kalian melupakan sejarah—karena kalau kalian istilahnya mengenal sejarah, tindakan-tindakan yang di luar kendali di kala nanti kalian menjadi pejabat itu enggak bakal terjadi. Nah, kenapa sekarang banyak korupsi dan banyak yang lain sebagainya? Itu karena mereka tidak mengenal akan sejarah, tidak tahu akan bagaimana perjuangannya Bapak Proklamator kita yang pertama bisa memerdekakan Indonesia. Dan yang kedua, anak-anak muda yang masuknya ke Sel Banceuy ini disarankan untuk tidak hanya berselfie atau berfoto, tapi seperti teteh-teteh yang sekarang berbicara dengan saya, tanyakan sejarahnya seperti apa biar keluar dari sini itu tahu akan sejarahnya Pak Soekarno bagaimana memperjuangkan bangsa Indonesia itu.”

Dan ini bentuknya dari awal sampai sekarang sama gitu, tidak berubah?
“Iya, kalau untuk bangunan kita masih lestarikan dari zaman Belanda biar apa? Biar tetap terlestarikan, enggak ada yang kita ubah, hanya kita rubah atapnya aja setelah pemugaran. Cuman perubahannya juga tetap dari alat pemugaran di sini, jadi ini benar-benar original asli di zamannya Belanda,” kata Yudi
Isi dari sel ini ada apa saja?
“Nah, kalau untuk yang di atas itu, yang asli itu ada sebuah buku juga kan ya? Nah, itu kalau di zaman sekarang itu seperti surat kabar dinamakannya dengan koran, itu Pikiran Rakyat, sama bantal dari karung goni itu asli, sama papan. Untuk yang lainnya itu udah replika. Karena semodel tikar itu kalau dulu terbuatnya dari daun pandan, sekarang kebetulan sudah rusak, dan yang di bawah teko-teko itu juga sudah replika, cuman digambarkannya zaman dulu seperti itu.”
Kenapa masih ada peninggalan itu? Apakah saat Soekarno keluar sengaja ditinggalkan atau bagaimana?
“Peninggalan ini seperti alat-alatnya, seperti tempat tidurnya, dan seperti ruangannya pun itu tidak ada yang menempati lagi terkecuali Pak Soekarno. Karena apa? Seperti yang saya bilang di awal, yang pemberontak itu enggak ada yang berani kecuali beliau sama kawan-kawannya,” ungkap Yudi.
