Makan Bergizi Gratis di SMA Pasundan 8 Bandung

Foto: Reporter Delapena sedang melakukan wawancara (Sumber Foto: Aulia)

Salah satu program unggulan dari pasangan Prabowo-Gibran yakni MBG (Makan Bergizi Gratis) yang telah mulai dilaksanakan secara bertahap dari bulan Januari 2025. MBG ini pula yang membedakan dengan pasangan lain pada saat kampanye Pilpres dulu. Program itu cukup mendapat perhatian terutama dari kalangan anak sekolah atau pelajar. Meskipun dalam perjalanan banyak permasalahan yang terjadi, dan kami Pers Pelajar Delapena ingin melihat itu dari sekolah kami sendiri. Adapun di SMA Pasundan 8 Bandung sendiri program MBG baru bisa dilaksanakan pada awal bulan Oktober 2025. Dalam kesempatan ini kami mewawancarai Yusrizal S.E. atau yang akrab disapa Pa Iyus selaku Wakasek Humas disela waktu senggangnya, berikut obrolan singkat kami :

Sejak kapan program MBG dilaksanakan di sekolah ini?

MBG di SMA Pasundan 8 baru mulai tanggal 1 Oktober kemarin, dibanding dengan sekolah lain yang sudah berjalan, kita memang dibilang terlambat. Karena semua itu bukan tergantung sekolah. Penawaran dari SPPG/dapur MBG itu sendiri baru datang di bulan Juli dan Agustus, SPPG yang survei untuk MBG, jadi ternyata dari sananya bertahap, tidak bisa ditentukan oleh sekolah.

Kalau menunya sendiri itu diberikan sekolah atau sudah ditentukan?

Sampai hari ke 4 setelah menu pertama diturunkan hingga saat ini menu itu yang menentukan dari SPPG nya sendiri, sebelumnya kita dikasih test food menu dari hari Senin sampai Jumat. Adapun menu menu tersendiri selama seminggu berjalan itu ditentukan oleh dapur

Kalau Dapur untuk MBG nya sendiri dari mana?

Posisi SPPG Cipaganti sendiri terletak di Jalan Dr. Slamet, tepatnya disebelah kelurahan Cipagannti yang posisinya tidak terlalu jauh dari posisi SMA Pasundan 8 Bandung.

Sebenarnya apa tujuan MBG itu?

Program MBG sendiri dimaksudkan Pemerintah untuk membantu para siswa memperoleh makanan yang bergizi. Selain itu mungkin dengan program yang sedang berjalan ini diharapkan siswa bisa melatih kebersamaan dan makan yang baik karena gaya hidup makan bergizi itu bukan berarti makan dengan porsi banyak. Bapa sendiri berharap dengan program MBG ini dapat memberikan edukasi kepada siswa bahwa makanan bergizi itu bukan berarti yang mengenyangkan, tetapi unsur gizinya terpenuhi ketika dikonsumsi oleh semua siswa. 

Bagaimana kalau menu MBG yang sudah ditentukan itu tidak sesuai dengan selera atau kualitas kurang bagus?

Kalau menu MBG tidak sesuai selera atau kualitasnya buruk maka ketentuannya siswaboleh tidak memakannya atau cukup disimpan saja. Dari awal juga memang menu ini tidak bisa memenuhi seluruh selera daripada peserta didik. Makanya, kita disuruh mendata alergen atau misalkan makanan yang berkaitan dengan tubuh siswa. Kalaupun ada makanan yang tidak di suka atau berbau, yang asem atau tidak sesuai, boleh tidak dimakan, jangan dibuang, cukup di tutup saja ga jadi masalah.

Dengan adanya MGB ini tentu menjadi “pekerjaan tambahan” untuk guru, apakah itu tidak mengganggu KBM?

Kalau dikondisikan sebenernya tidak ribet sih, tetapi memang menambah pekerjaan. Kalaupun bisa mengganggu KBM jika jadwal yang sudah disepakati berubah tidak sesuai jadwal. Misalnya yang tadinya kita minta datang jam 8 pagi, tapi datang jam 9 sampai 9.30, bahkan  jam 10 lebih  baru datang. Jadi proses KBM minimal 1 jam itu akan terganggu oleh MBG. 

Sekarang MBG banyak masalah, dari mulai menu yang kadaluarsa hingga keracunan. Kalau itu terjadi kepada kita, bagaimana tanggung jawab sekola?

Kalau untuk masalah keracunan, ini yang bertanggung jawab bukan sekolah sebenarnya, karena kami sekolah hanya menerima saja. Dari pihak dapur, penyelenggara atau SPPG bersama tim Badan Gizi Nasional yang harus bertanggung jawab menangani ataupun memberi solusi kalau ada kasus keracunan di sekolah kita.

Makanya kita dari sekolah menghimbau dari awal ketika mendapat makanan itu harus dicium dulu, setelah dicium baru dicicipi sedikit. Kalo ada berbau dan berasa, sebaiknya tidak usah dimakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti keracunan itu. Selain itu disarankan juga makannya pakai sendok tidak pakai tangan karena takutnya anak-anak tidak cuci tangan sebelum makan. Ini yang diharapkan melatih cara makan kita. Kalo kita melihat di luar negeri makan bareng tertib gitu, itu sepertinya sangat sakral, rapi, tidak ngobrol, tidak bersuara, kalaupun ngobrol ya sedikit. Tapi terlihatnya itu rapi, waktunya tepat gitu.

Menurut bapakk sendiri, bagaimana respon siswa-siswi SMA Pasundan 8 terhadap progra MBG ini?

Sangat beragam, hingga saat ini masih ada sebagian siswa yang antusias atau bahkan menolak kehadiran program MBG ini, terutama dalam kasus suka atau tidak sukanya Makan Bergizi Gratis yang sudah diprogramkan Pemerintah. Kalau dari awal mungkin banyak yang suka ya, tetapi “suka” disini itu tanda tanya? Karena ada yang suka karena ingin tahu saja. “Oh MBG itu seperti ini yah”, tetapi ada juga yang suka atau senang karena ga mau ribet dalam menyiapkan makanan dirumah, sehingga MBG disekolah itu memudahkannya, ada juga yang seperti itu.  

Sedangkan kalau ingin tahu suka atau tidaknya terhadap menu atau jenis makanan MBG itu harus dibuatkan angket terlebih dahulu, ga bisa disimpulkan begitu saja. Misalkan dari 546 siswa yang ada itu apakah tidak suka, suka, atau netral. Terus harus dilaksanakan survei juga apakah anak-anak (siswa pasundan 8) itu suka dengan MBG nya, suka dengan menunya atau suka dengan apanya, harus jelas dan detail.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *