
“Terbawa arus” tersendiri dalam istilah takdir seringkali diartikan seperti seseorang yang menerima dengan segala apa yang terjadi pada garis hidupnya, tanpa ada perlawanan atau keinginan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Hidupnya bagai air tenang disungai panjang walaupun pada saat yang sama ditempa badai, dihadang dengan robohan pepohonan disekitarnya, bahkan sesekali saluran airnya disumbat dengan sengaja, tetapi terasa tidak menganggu dan mengusiknya. Mungkin begitu kondisi manusia Indonesia saat ini dalam pandangan saya. Mereka seringkali melihat ketidakadilan yang tertera dalam kehidupannya, namun enggan untuk merubahnya. Meskipun untuk merubah kezaliman dan ketidakadilan itu tidak mudah, tetapi paling tidak ketika itu ada dihadapan kita maka, kita mampu untuk menyuarakannya.
Banyak sekali permasalahan yang menimpa Indonesia akhir akhir ini, marilah kita ulas sedikit permasalahan yang paling dikenal untuk saat ini. Misalnya, rencana kenaikan tunjangan DPR yang akan memperluas ketimpangan sosial di masyarakat, keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibeberapa sekolah dasar hingga menengah atau kasus kekerasan yang dilakukan aparat terhadap warga sipil yang sudah beberapa kali terjadi dan problem problem lainnya yang belum terselesaikan dari periode Presiden sebelumnya seperti pembangunan mangkrak, kasus pelanggaran HAM, angka kemiskinan tinggi dan anggaran negara yang tidak transparan sehingga menjadi bahan bancakan korupsi. Banyaknya kasus kebobrokan pemerintah yang sudah terungkap, sebagian masyarakat berpikir bahwa itu merupakan suatu yang ‘biasa’ sehingga menormalisasi nya dalam dunia politik. Tetapi dilain sisi banyak juga masyarakat melakukan aksi demonstrasi yang tak surut meskipun mendapat tangggapan berulang dan berpola dari orang pemerintah
Harusnya masyarakat sudah mampu beradaptasi how our government make an action dalam masa kerjanya. Saat ini Indonesia membutuhkan perubahan, dan untuk mewujudkannya akan sangat dibutuhkan bantuan dari masyarakat. Pemerintah saat ini sudah melupakan akan konsep dari Demokrasi yang bersifat kedaulatan Rakyat, bagai kacang lupa kulitnya. Dulu ketika Rakyat melakukan sebuah tindakan besar yang menjadi sejarah paling terkenal yaitu Reformasi 1998. Namun sistem era Orde Baru saat itu tida sepenuhnya runtuh, karena hanya simbol presiden Soeharto saja yang turun dan orangorang yang berkuasanya saja berubah. Satu yang masih sering kita lihat dari karakter sistem orde baru, yakni campur tangan tentara dalam mendisiplinkan siswa.
Untuk perubahan itu sebetulnya masih adabeberapa pertanyaan dalam benak saya dalam pelaksanaannya, misalnya; untuk benar benar beralih ke sistem baru yang lebih baik dan menghilangkan sistem lama yang merugikan harus dimulai dari perubahan Rakyat atau Pemerintah? Ada 4 problem yang menjadi kebingungan saya sendiri :
1. Ada yang mengatakan bahwa Pemerintah yang harus berubah dan berinisiatif untukmemberikan pendidikan terbaik dan akses fasilitas lainnya, bagi rakyatnya sebagai pondasi utama membuat Indonesia menjadi bangsa yang maju, tapi saya kira ini mustahil karena watak Pemerintah tidak akan berubah secara tiba tiba;
2. Sebaliknya, rakyat lah yang memegang kendali saat ini, namun masalahnya sebagian watak rakyat Indonesia sama buruknya dengan Pemerintah;
3. Dan sebagian masyarakat yang ingin benar benar perubahan memiliki keterbatasan akses pula karena fasilitas negara yang tidak mendukung
4. Atau masyarakat yang ingin perubahan dan memiliki privilege untuk memulai sangat amat sedikit, bisa menjadi 1:300 bila kita jabarkan, dan akan sangat sulit rasanya berjuang memulai suatu tindakan sendirian
Dari poin-poin tersebut nampaknya mempunyai kerumitan tersendiri, sehingga kita tidak bisa membuat skala prioritasnya. Dari manakah kita harus memulai? ya mungkin harus dimulai dengan kita sendiri untuk tidak mudah “terbawa arus” dengan berbagai kondisi sosial kehidupan saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan kalau memungkinkan kitalah sebagai generasi baru yang harus menentukan arah arus itu.
