Seabad Pramoedya

Foto: Kegiatan tadarus buku Bumi Manusia di SMA Pasundan 8 Bandung dalam rangka merayakan seabad Pramoedya Ananta Toer pada 6 Febuari 2025

Pertama mengenal nama Pramoedya Ananta Toer setelah aku membaca novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang sedikit banyak mengupas buku-buku pak Pram yang banyak dilarang oleh pemerintah sebelum reformasi 1998. Kenapa pemerintah melarangnya aku belum begitu paham, tetapi membuatku penasaran ingin mengetahuinya, maka aku mulai meminjam buku-buku Pramoedya, terutama seri tetralogi yang begitu terkenal dari Pak Indra Prayana.

Pada empat buku seri Tetralogi Buru, salah satu dari banyak karya Pramoedya Ananta Toer yang terkesan dibaca olehku, yaitu: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Sangat jelas, ke-empat buku itu berisi tentang sebuah perjuangan bangsa, dan ketidakadilan hukum dengan serta merta pada masa penjajah. Dibalik cerita buku-buku itu terdapat banyak makna yang penting.

Aku mulai membacanya dari buku pertama yaitu Bumi Manusia: Buku itu dapat kukatakan sebagai pengenalan ketidakadilan hukum dalam memperlakukan bangsa pribumi oleh kekuasaan kolonial. Penggambaran tokoh Minke sangat mencerminkan kelabilan remaja untuk mengambil resiko, ingin menjadi manusia bebas dan mencari jalan untuk kehidupannya dimasa depan. Dari dulu hingga sekarang semua manusia seperti itu, hanya masanya yang berbeda. Dalam Bumi Manusia lingkungan cerita ini masih terbatas, tidak terlalu mengenal jauh seluruh bumi Indonesia, hanya rumah dimana Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh tinggal dan sekelilingnya. Beberapa kalimat kutandai, yang juga membekas dalam hati ini: “Kau terpelajar, Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Dengan sadar, aku akui bahwa pernyataan itu benar-benar membuatku memikirkan kembali, apakah aku sudah menjadi terpelajar? Apakah sikapku sudah berlaku adil dalam perbuatan maupun pikiran? Pernyataan itu seperti peringatan untuk selalu berhati-hati dan selalu bersikap adil kepada siapapun. Selain itu ada ucapan Nyai Ontosoroh yang berkata begini: “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri”. Membaca itu aku terdiam sebentar, kalimat ini akan menjadi peganganku sebagai remaja yang labil dan terkadang takut dalam menghadapi kegagalan, pesan itu seakan meneguhkanku untuk selalu percaya pada diri sendiri. Dalam buku Bumi Manusia banyak pesan yang bisa dijadikan pelajaran buat semua yang membacanya. Buku ini juga yang aku dan teman-teman bacakan dalam kegiatan ‘Tadarus Buku’ bersama Komunitas Baca Pasda di SMA Pasundan 8 Bandung sebagai bagian dari Perayaan 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer.

Selanjutnya buku kedua Anak Semua Bangsa: Aku simpulkan bahwa dari sini Minke mulai mengenal isu internasional, terutama perkembangan pendidikan dan sosial-politik negeri jajahan ataupun negeri penjajah. Dalam buku ini, perjalanan semakin meluas menampakkan kehidupan dialam lain selain rumah tinggal Minke dan mulai memahami bangsanya serta penjelasan-penjelasan lanjut konflik dalam Bumi Manusia. Sayang sekali tidak banyak kutemui kalimat-kalimat yang menyentuh dan menginspirasiku, aku hanya menangkap makna sebuah kalimat bahwa perjuangan dan pemberontakan adalah dua hal berbeda.

Dalam buku ketiga Jejak Langkah: perjalanan Minke untuk menjadi dokter di STOVIA mulai menampakan hasilnya sebagai salah satu tonggak kebangkitan nasional, tidak hanya Boedi Oetomo yang selama ini sering disebutkan dan disinggung pelajaran sejarah. Dibuku ini kuketahui lebih banyak terkait organisasi selain Boedi Oetomo. Minke, sang pemula, pengubah muka Hindia itu sudah berjalan yang awalnya merangkak untuk menjadi manusia bebas dan mengajak manusia bebas lainnya untuk berorganisasi. Walaupun Minke tidak menjadi dokter, tapi ia juga berhasil menjadi jurnalis. Minke mulai membela pribumi dengan mendirikan organisasi dan menggunakan tulisan sebagai senjatanya. Pada buku ketiga ini ada kalimat begini : “Dia abadi, bunda, abadi selama bersinggungan dengan bumi. Bumi adalah petani, Bunda, petani, petani itu juga”, dalam pandanganku kalimat itu menggambarkan kehidupan petani sampai sekarang yang masih belum sejahtera meskipun petani juga yang bisa menentukan hidup manusia lainnya.

Sedangkan dalam buku pamungkas Rumah Kaca: terdapat sudut pandang yang berbeda, jika pada buku lainnya lebih banyak menekankan peran Minke, dalam Rumah Kaca perilaku kolonialisme begitu nampak. Pada buku ini ada beberapa kalimat yang kusukai, seperti: “Makin keatas makin besar mulut, dan kuping hilang, makin kebawah makin besar kuping dan mulut hilang”. aku menangkap kalimat ini ketika seseorang berada pada posisi mempunyai kuasa atau harta maka akan nampak kesombongannya, tetapi sebaliknya ketika dibawah akan mengalami beragam kesulitan bahkan ucapanpun kurang berarti. Begitulah ritme kehidupan ada yang diatas dan dibawah, aktif dan pasif, menguasai atau dikuasai. Orang yang memiliki prinsip akan membentuk karakternya sendiri sekalipun dihadapkan berbagai godaan dunia. Begitupun seorang terpelajar yang mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai tuntunan untuk memilah dan memutuskan sebuah tindakannya apakah pada posisi yang benar atau salah. Diakhir buku Rumah Kaca terdapat kalimat latin : “Deposiut potentes de sede et Exaltavat Humiles” (Dia rendahkan mereka yang berkuasa dan naikan mereka yang terhina), kalimat penutup buku ituakan selalu kuingat sebagai bentuk pribadi.

Dan dari semua keempat buku diatas sebisa-bisanya patut dibaca oleh semua pelajar Indonesia, tidak ada kerugian bagi sang pembaca, justru kesadaran lah yang akan terus bergulir. Termasuk beberapa ide atau saran bagi para pelajar Indonesia yang akan ku kemukakan saat ini, dalam tulisan ini, karena tidaklah berarti bila sebuah ide hanya disimpan seorang diri. Pertama, Pelajar kini sudah menurun rasa keinginan tahuannya dan berkurang pula rasa ingin belajar, padahal akan lebih baik jika pelajar kini mempunyai keterbukaan pandangan yang luas untuk mematahkan kelabilan. Kedua, teman sebayaku selalu berkata “ikuti saja arus takdir”, padahal sepatutnya kita memulai tindakan awal seperti Minke yang memulai organisasi, yaitu : mulai dari sekarang juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *